Loading...

HET Dorong Petani Tingkatkan Kualitas Beras

HET Dorong Petani Tingkatkan Kualitas Beras
Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 47/M-DAG/PER/7/2017 tentang penetapan harga acuan pembelian di petani dan harga acuan penjualan di konsumen terkait harga eceran tertinggi (HET) beras, dinilai sebagai upaya konkret Pemerintah Pusat dalam mendorong kesejahteraan para petani. Terang saja, peraturan yang disahkan pada 24 Agustus 2017 dan mulai berlaku pada 1 September 2017 ini, akhirnya memberikan kepastian bagi para petani dalam hal hasil panen yang akan mereka jual. HET yang telah ditetapkan itu berlaku pada beras jenis medium dan premium. Penetapan harga di setiap daerah berbeda-beda. Di Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, HET beras medium Rp9.450/kg, premium Rp12.800/kg. Daerah di Sumatera lainnya, beras medium Rp9.950/kg, premium Rp13.800/kg. Bali dan NTB, beras medium Rp9.450/kg, premium Rp12.800/kg. NTT, beras medium Rp9.950/kg, premium Rp13.300/kg. Sulawesi, beras medium Rp9.450/kg, premium Rp 12.800/kg. Maluku dan Papua, beras medium Rp10.250/kg, premium Rp13.600/kg. Sedangkan di Kalimantan termasuk Kalbar, beras medium Rp9.950/kg, premium Rp13.300/kg. Dengan adanya ketentuan harga, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar menilai, HET beras dapat mendorong para petani untuk meningkatkan kualitas padi yang mereka panen menjadi beras berjenis premium. Tentu saja hal ini dilakukan guna mengejar nilai tambah yang lebih tinggi. HET beras dapat mempengaruhi strategi petani untuk memproduksi beras sesuai kualitas. Ketika ada selisih harga yang lebih besar, tentu petani akan mengolah beras premium yang harga jualnya Rp.13.300 per kilogram. Di Kalimantan Barat, produksi beras saat ini sangat luar biasa. Kalbar surplus, di mana berdasarkan statistik produksi beras mencapai hingga 400.000 ton dengan rata-rata per bulan produksi hampir 20.000 ton. Mendorong Kalbar agar lebih meningkatkan hasil panen padinya, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar terus mendorong di antaranya penguatan pengetahuan para petani. Selain itu, fasilitasi sarana dan prasarana juga dilakukan. Di sejumlah daerah, kelompok tani didukung dengan alat mesin pertanian. Hal ini untuk memotivasi petani agar giat bertani dan untuk meningkatkan hasil pertanian mereka. Sementara itu di Kalbar, luas lahan yang diperuntukkan untuk tanaman pangan khususnya padi, ada sekitar 1,1 juta hektare yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Ke depan, Kalbar akan terus berupaya adanya tambahan luas lahan tanam. Setiap tahun bisa menghasilkan luas tanam sekitar 500-an ribu hektare. Per tahun ada luas tambah tanam sehingga Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi yang berpotensi besar sebagai daerah sumber pangan untuk ke depannya.[19:59, 8/14/2018] Yanto Distan: Alih Cara Pembukaan Lahan, Distan-TPH Kalbar Galakkan Mekanisasi Pertanian https://kilaskalbar.com/daerah/24/07/2018/alih-cara-pembukaan-lahan-distan-tph-kalbar-galakkan-mekanisasi-pertanian/[19:59, 8/14/2018] Yanto Distan: Ketua Kelompok Sahowa, Mardinus (46). 7,5 hektare, milik tiga 0rang. Satu tahun. Paling lama dua tahun. 2 ton Sebulan 7 kali panen, frekuensinya tiga hari sekali. Panen sejak tanam 5 bulan. Dua bulan lagi bisa panen.Bukit Cinta/Bukit Cabai Dusun Bintang, Desa Pahauman, Kecamatan Sengah Temilah. • Dataran rendah 78 hari sudah berbuah.• 90 hari dj datarab tjnggi• 30 hektare sampe sekarang nanam bantuan dari pemerintah provinsi 2017.• 2 hektare 9 ribu.• 30an rrinu perkilo dihual di flamboyanPanen ngupah hingga 200 ratusan orang. Perkilo 3.500. Modal 500 juta sampai panen. Diluar 700 juta. Kalau harga tidak turun harga, setahun lebih keunhtunhan bisa sampai 100 juta dalam satu hektaelre. Sudah potong gaji. Di atas 30 ribu, pasti untunh. Kalau 18 ribu, udah jelas rugi. Biaya perawatan dan lain sebagainya tinggi. Penulis, Ervi