Loading...

IDENTIFIKASI HAMA TANAMAN PADI

IDENTIFIKASI HAMA TANAMAN  PADI
1. Hama Wereng Coklat (Nilaparvata lugens)- Hama menyerang bibit, tanaman muda dan tanaman bermalai dengan cara menghisap cairan tanaman.- Gejala di pesemaian dan tanaman bermalai berupa tanaman seperti terbakar, sedangkan pada tanaman muda dengan gejala kuning dan kerdil serta akar tumbuh terhambat. Biologi Hama Wereng Coklat :- Imago. Berkembangbiak dengan sexual, masa pra peneluran 3-4 hari untuk brakiptera (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang). Satu ekor betina mampu meletakkan telur 100-500 butir. - Telur. Berkelompok pd jaringan pangkal pelepah daun, tetapi kalau populasinya tinggi telur diletakkan di ujung pelepah daun dan tulang daun. Satu kelompok telur terdiri dari 3-21 butir. Menetas setelah 9 hari. 2. Penggerek Batang Padi (PBP).Gejala serangan pada stadia vegetatif menyebabkan pangkal batang padi rusak tergerek, sehingga batang bagian atas mati dan mudah dicabut yang disebut gejala sundep. Sedangkan serangan pada stadia generatif menyebabkan malai muncul putih dan hampa serta malai mudah dicabut yang disebut gejala beluk. Sampai saat ini ditemukan 5 jenis Penggerek Batang Padi (PBP). - PBP Kuning (Scirpophaga incertulas).Bioekologi Hama : • Imago. - Ngengat jantan dengan bintik-bintik gelap pada sayap depan, dan ngengat betina berwarna kuning dengan bintik hitam di bag tengah sayap depan. - Panjang ngengat jantan 14 mm dan betina 17 mm.- Ngengat aktif pada malam hari dan tertarik cahaya. Jangkauan terbang dapat mencapai 6-10 km.- Lama hidup ngengat 5-10 hari dengan siklus hidup 39-58 hari. o Pupa. Berwarna kekuning-kuningan atau agak putih dengan panjang 12-15 mm dalam periode pupa selama 6-23 hari. Kokon berupa selaput benang berwarna putih. - PBP Putih (Scirpophaga innotata).Bioekologi Hama : • Imago. Berupa ngengat berwarna putih dengan panjang betina 13 mm dan jantan 11 mm. Ngengat tertarik cahaya. o Telur. 170-260 butir/kelompok diletakkan di permukaan atas daun atau pelepah daun.Telurnya mirip dengan penggerek batang padi kuning. Telur ditutupi rambut halus, berwarna coklat kekuning-kuningan. Periode telur selama 4-9 hari o Larva. Mirip penggerek batang padi kuning dg panjang max 21 mm dan berwarna putih kekuningan. Stadium larva 19-31 hari, jika mengalami diapause dpt berlangsung 3 bulan. Pada musim kemarau larva instar akhir tidak langsung menjadi pupa, tapi mengalami diapause dlm pangkal batang singgang atau tunggul. o Pupa. Stadium pupa selama 6-12 hari. - PBP Bergaris (Chilo suppressalis).Bioekologi Hama : • Imago. Berupa ngengat dengan kepala berwarna coklat muda dan warna sayap depan coklat tua.Vena sayap nampak jelas. Panjang 13 mm. • Telur. Jumlah 20-150 butir/ klp dan diletakkan di permukaan bawah daun bagian pangkal atau pelepah. Bentuknya seperti sisik berwarna putih yang tidak ditutupi rambut. Lama stadium telur 4-7 hari • Larva. Berwarna abu-abu, kepala coklat dengan 5 garis coklat sepanjang tubuhnya. Panjang maks 26 mm dan ditemukan beberapa larva dalam tiap tunas. Lama stadium larva : 33 hari. • Pupa. Berwarna coklat tua dan lama stadium pupa 6 hari. - PBP Kepala Hitam (Chilo polychrysus).Bioekologi Hama : o Imago. Berupa ngengat berkepala hitam dengan sayap depan bersisik dengan tengahnya keperakan, sedangkan sayap belakang kuning muda. Panjang ngengat 10-13 mm. o Telur. Diletakkan berkelompok pada daun dekat pangkal/pelepah. Telur tidak tertutup sisik dan stadium telur selama 6 hari. o Larva. Kepalanya hitam dan periode larva selama 30 hari. Panjang larva 18-24 mm dan ditemukan beberapa larva tiap tunas. o Pupa. Berwarna coklat tua dan periode pupa selama 6 hari. - PBP Merah Jambu (Sesamia inferens).Bioekologi Hama : o Imago. Ngengat berwarna coklat dangan sayap depan bergaris coklat tua memanjang dan sayap belakang putih. Panjang ngengat 14-17 mm.o Telur. Bentuk mirip manik-manik yang diletakkan dalam barisan, diantara pelepah daun batang padi sebanyak 2-3 baris/kelompok yang terdiri dari 30-100 butir/kelompok. Telur tidak tertutup sisik. Stadium telur selama 6 hari. 3. Hama Walang Sangit (Leptocorisa oratorius).• Menyerang tanaman padi pasca berbunga dengan cara menghisap cairan bulir padi menyebabkan bulir padi menjadi hampa atau pengisiannya tidak sempurna. • Kwalitas gabah (beras) sangat dipengaruhi serangan walang sangit menyebabkan terjadinya Grain discoloration. • Serangan walang sangit disamping secara langsung menurunkan hasil, secara tidak langsung juga sangat menurunkan kwalitas gabah. • Serangan satu ekor walang sangit per malai dalam satu minggu dapat menurunkan hasil 27%. Bioekologi Hama : o Imago. Imago meletakan telur pada bagian atas daun tanaman. Pada tanaman padi daun bendera lebih disukai. Serangga dewasa pada pagi hari aktif terbang dari rumpun ke rumpun sedangkan penerbangan yang relatif jauh terjadi pada sore atau malam hari. Pada masa tidak ada pertanaman padi atau tanaman padi masih stadia vegetatif, imago bertahan hidup/berlindung pada tanaman sekitar sawah. o Telur. Berbentuk oval dan pipih berwarna coklat kehitaman, diletakan satu persatu dlm 1-2 baris sebanyak 12-16 butir. Lama periode bertelur 57 hari dengan total produksi terlur per induk + 200 butir. Lama stadia telur 7 hari. o Nimfa. Terdapat 5 instar pertumbuhan nimfa selama + 19 hari. Nimfa muda bergerak ke malai mencari bulir padi masak susu, bulir yg sudah keras tidak disukai. Nimfa-nimfa dan dewasa pada siang hari yang panas bersembunyi dibawah kanopi tanaman. 4. Hama Tikus Sawah (Rattus argentiventer).• Tikus merusak sejak pesemaian sampai tanaman menjelang dipanen, bahkan menyerang padi simpanan di gudang. • Pesemaian dirusak dengan cara memotong bibit, demikian juga tanaman muda dipotong sehingga bekas potongan seperti baru disabit. • Kerusakan parah terjadi pada stadium generatif ketika tanaman mulai bermalai dan berbulir padi. • Ciri khas serangan tikus sawah berupa kerusakan yang dimulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir sawah, dengan hanya menyisakan beberapa baris padi di pinggir petakan. Bioekologi Hama : 1. Tubuh bagian dorsal (punggung) berwarna coklat kekuningan dengan bercak-bercak hitam pada rambut-rambutnya, maka secara keseluruhan tampak berwarna abu-abu. 2. Bagian ventral (perut) berwarna putih keperakan atau putih keabu-abuan. 3. Permukaan atas kaki seperti warna badan, tetapi ekornya berwarna coklat tua. 4. Tikus betina memiliki 12 puting susu (6 pasang). 5. Ekor tikus sawah biasanya lbh pendek dp panjang kepala-badan dan moncongnya berbentuk tumpul. 6. Tikus sebagai hewan nokturnal. 7. Indera penciuman tikus mendeteksi wilayah pergerakan tikus lain, jejak anggota kelompoknya, dan lawan jenis. 8. Indera pendengaran berkembang sempurna. 9. Indera pengecap berkembang baik dan mampu membedakan rasa pahit, racun, dan enak/tidaknya suatu pakan. 10. Indera peraba juga berkembang baik, kumis dan rambut-rambut panjang pada sisi tubuhnya digunakan sebagai sensor sentuhan terhadap benda-benda yang dilalui. 11. Tikus sawah bisa berlari, menggali, memanjat, melompat, mengerat, berenang, dan menyelam. 12. Tikus sawah juga berperilaku cerdik dan memiliki kemampuan belajar/mengingat sesuatu. 13. Periode reproduksi terjadi pada saat tanaman padi periode generatif. Dalam 1 musim tanam padi, tikus sawah beranak hingga 3 kali dg rata-rata 10 ekor anak per kelahiran. 14. Tikus betina relatif cepat matang seksual (±1 bulan) dan lebih cepat dp jantannya (±2-3 bulan), tergantung dari ketersediaan pakan di lapangan. 15. Masa bunting tikus betina 21 hari dan mampu kawin lagi 24-48 jam setelah melahirkan. 16. Seekor tikus betina dapat menghasilkan total sebanyak 80 ekor tikus baru dalam satu musim tanam padi. 17. Tikus sawah bersarang pada lubang di tanah yang digali (untuk reproduksi dan membesarkan anak) dan di semak-semak). 18. Tikus makan apa saja yg dimakan manusia. Apbl makanan berlimpah, tikus sawah lebih memilih pakan yg paling disukai yaitu padi. 19. Tikus menyerang padi pada malam hari dan pada siang hari sembunyi di dalam lubang pada tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. 20. Pada saat bera, tikus sawah menyerbu pemukiman penduduk dan gudang padi dan akan kembali lagi ke sawah setelah tan padi memasuki fase generatif. 5. Hama Keong Mas (Pomacea canaliculata).• Serangan berat terjadi di persemaian sampai tanaman umur < 4 minggu setelah tanam (MST). • Pada tanaman dewasa, gangguan keong mas hanya terjadi pada anakan dan jumlah anakan produktif menjadi berkurang. • Bekas potongan daun padi dan batang yg diserang terlihat mengambang. • Keongmas sangat tergantung pada air dan berkembang pesat pada areal tergenang, tetapi pada lahan kering masih dpt hidup dg beristirahat dlm tanah. • Keongmas mampu bertahan hidup dalam tanah sampai 6 bulan lamanya, dan jika mendapat air pengairan akan berkembang biak lagi. Bioekologi Hama : o Keong. Satu betina menghasilkan 15 kelompok telur selama satu siklus hidup (60-80 hari), dan masing-masing kelompok telur berisi 300-500 butir.• Keong mas muda yang baru menetas berukuran 1,7-2,2 mm meninggalkan cangkang telur dan masuk ke dalam air. • Dua hari kemudian cangkang keong sudah menjadi keras. Keong mas muda berukuran 2-5 mm memakan alga dan bagian tanaman yang lunak. • Pertumbuhan awal berlangsung selama 15-25 hari. • Pada umur 26-59 hari keong mas sangat rakus. • Keong mas memerlukan waktu sekitar 3-4 jam pada saat melakukan perkawinan. o Keong. Apabila sawah kering, maka keong mas akan menyusup kedalam tanah sedalam 30 cm dan melakukan diapause. • Keong mas dewasa memiliki cangkang dg diameter 40 mm dan berat 10-20 gram. o Telur. Berwarna merah-muda dan menetas dalam waktu 4-7 hari. Jumlah telur yang menetas mencapai 80%. • Telur diletakkan malam hari secara berkelompok di rumpun padi dekat pematang sawah, tumbuhan liar yang ada di pematang, benda lain seperti ranting. • Satu kelompok telur terdiri dari 159-500 butir. 6. Hama Burungo Butiran padi, baik yg masih muda maupun yang sudah masak sangat disukai burung. o Hama burung tidak saja memakan butiran padi yang belum dipanen, tetapi juga merusak benih yang baru disebar dan baru tumbuh di persemaian. o Burung juga menjadi hama pascapanen pada saat gabah atau padi dijemur. Jenis burung sebagai hama padi :1. Burung gereja.2. Burung Pipit Dada Putih.3. Burung Pipit Coklat. Burung gereja (Passer montanus):• Habitat : sawah, ladang, rumah penduduk. Burung gereja ini lebih banyak tingggal di rumah dan bersarang di lubang genting. • Ciri-ciri : atas kepala coklat, dada hingga ujung ekor coklat keputihan, pipi berwarna putih dan ada lingkaran hitam, bulu di tenggorokan berwarna hitam, paruh hitam. Sayap coklat dengan garis hitam dan putih.• Burung ini bertelur 2 – 4 butir. Lingkaran hitam di pipi burung ini seakan – akan mata dari burung ini. Burung Pipit Dada Putih (Lonchura leucogastroides) :• Makanan : biji - bijian• Habitat : areal sawah, daerah aliran sungai dan pohon rimbun spt cemara, mangga dan bambu buluh yang ada di daerah aliran air.• Ciri – ciri: coklat tua di punggung, sayap dan sisi atas tubuh, tanpa coretan-coretan. Muka, leher dan dada atas berwarna hitam; dada bawah, perut dan sisi tubuh putih bersih, tampak kontras dgn bagian atasnya. Sisi bawah ekor kecoklatan. Burung ini biasanya menghasilkan anak 2 – 4 ekor.• Periode subur reproduktif 12 bln – 5 thn. Umur burung sekitar 7 thn. Panjang tubuh 10-11 cm dan berat 9-10 gram. Burung Pipit Coklat (Lonchura punctulata) :• Makanan : biji-bijian• Habitat : daerah terbuka seperti: sawah, padang rumput, ladang dll• Ciri-ciri : kepala, punggung, sayap dan ekor berwarna coklat,dan leher perut sampai bawah ekor berwarna dasar putih dengan coretan coklat membentuk pola sisik ikan. Serta paruh berwarna putih kebiruan. • Burung ini adalah jenis burung yang biasa hidup secara berkelompok, satu kelompok terdiri dari 10 – 30 ekor atau lebih. Biasanya burung ini menghasilkan anak 3 – 6 ekor tiap sarang. Penulis : Dewa Made Merta, SP (THL-TBPP)Sumber : Materi Pelatihan OPT Ir. Djoko Widodo M.Agr