Perluasan areal pertanaman jagung melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) sudah mulai diterapkan oleh petani, namun baru dua kali pada lahan sawah setelah padi maupun pada lahan kering, bergantung pada ketersediaan dan kecukupan air. Pada luasan terbatas, terdapat areal yang mempunyai sumber air cukup untuk kebutuhan tanaman jagung sepanjang tahun, dan berpeluang untuk dapat diusahakan pertanaman jagung dua kali per tahun. Daerah yang secara spot-spot wilayahnya mempunyai potensi sumber air untuk pertanaman jagung sepanjang tahun, berpeluang pula untuk dapat diusahakan pertanaman jagung empat kali dalam setahun (IP 400 jagung). Penerapan inovasi IP 400 jagung pada lahan kering (berdasarkan hasil penelitian) dapat diterapkan petani dengan persyaratan berikut:1. Di lokasi penerapan IP 400, jagung harus tersedia cukup air, terutama saat musim kemarau;2. Lahan tidak mudah tergenang, jika mudah tergenang air mudah diatur pada saat musim hujan;3. Tenaga kerja cukup tersedia dan tidak menjadi masalah; dan4. Varietas jagung yang ditanam berumur kira-kira 100 hari.Jika persyaratan tersebut dapat dipenuhi maka peluang keberhasilan usahatani jagung dengan IP 400 sangat besar sehingga produktivitas lahan akan meningkat. Penerapan IP 400 Jagung Pada lahan KeringPeningkatan produktivitas lahan kering dapat diupayakan melalui peningkatan IP 400 atau empat kali tanam dalam satu tahun (365 hari). Penanaman jagung dilakukan dengan cara sisip, 15 hari sebelum panen pertanaman pertama. Varietas yang digunakan dapat dari jenis komposit atau hibrida yang umurnya 100 hari berarti waktu yang diperlukan lebih dari 400 hari, sementara satu tahun terdiri atas 365 hari. Dengan cara tanam sisip 15 hari sebelum pertanaman pertama dipanen, maka waktu yang diperlukan berkisar antara 340-350 hari selama setahun. Penerapan IP 400 jagung menghemat biaya produksi karena pengolahan tanah hanya dilakukan satu kali untuk pertanaman I, sementara untuk pertanaman II, III, dan IV tidak perlu dilakukan pengolahan tanah. Demikian seterusnya untuk pertanaman I pada tahun kedua. Biaya penyiangan gulma juga dapat hemat karena sebagian berangkasan tanaman pada saat panen ditinggalkan di dalam baris tanaman sebagai mulsa sehingga dapat menekan pertumbuhan gulma. Penanaman jagung dalam pola IP 400 dilakukan melalui pengaturan tanam dengan cara legowo, yaitu penanaman dengan jarak tanam sempit (50 cm) untuk setiap dua baris tanaman dan diikuti oleh jarak tanam lebar (100 cm) untuk barisan tanam berikutnya. Sedangkan untuk jarak tanam dalam barisan 20 cm, satu tanaman per lubang ditempatkan di antara dua tanaman sebelumnya. Penanaman dengan cara ini, populasi tanaman yang diperoleh 66.666 tanaman/ha, sama dengan penanaman menggunakan jarak tanam 75 cm x 20 cm, satu tanaman per lubang. Pengarturan tanam dengan cara legowo dimaksudkan untuk memudahkan penanaman cara sisip pada pertanaman II, mengingat pertanaman I belum dipanen. Cara ini juga memudahkan pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida.. Pada pertanaman II, setelah benih tumbuh 7-10 hari setelah tanam, daun tanaman dari pertanaman I dipangkas pada bagian atas tongkolnya, untuk mempercepat pengeringan tongkol selain memberikan peluang bagi pertanaman II yang baru tumbuh untuk mendapatkan sinar matahari penuh. Hasil berangkasan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan sebagian digunakan untuk penutup tanah. Pemupukan I dilakukan sesaat setelah pemangkasan daun di bagian atas tongkol tersebut. Pemupukan II dilakukan setelah tanaman berumur 30-35 hari setelah tanam. Setelah pertanaman II berumur 15 hari dan klobot pertanaman I telah mengering segera dilakukan panen dan pemangkasan batang. Pada daerah yang mempunyai curah hujan tinggi pada musim hujan tinggi dan tanaman berpeluang tergenang, maka perlu dibuat saluran drainase di antara baris tanaman yang berjarak tanam lebar. Kelebihan usahatani jagung dengan pola IP 400 pada lahan kering antara lain (1) produktivitas lahan secara kumulatif meningkat, dengan tingkat produktivitas + 7 ton/ha untuk jagung komposit (umur 90 hari), + 10 ton/ha untuk jagung hibrida (umur 100 hari), dan total produksi > 32 ton/ha/tahun, (2) pengolahan tanah dilakukan cukup satu kali sebelum tanam untuk pertanaman I, selanjutnya tidak diperlukan pengolahan tanah sehingga menghemat biaya produksi, (3) berangkasan hasil pemangkasan daun di bagian atas tongkol dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan mulsa penutup tanah juga bermanfaat sebagai pupuk organik, (4) mulsa penutup tanah dapat mengurangi penguapan permukaan tanah dan mengurangi frekuensi pemberian air pada musim kemarau sehingga mengurangi biaya pemberian air, dan (5) mulsa dapat menekan pertumbuhan gulma sehingga biaya pengendalian gulma penyiangan berkurang. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan