Loading...

INOVASI PADI MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

INOVASI PADI MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM
PendahuluanPadi merupakan komoditas utama penduduk Indonesia. Kebutuhan beras terus meningkat setiap tahun seiring peningkatan penduduk, namun persoalannya budidaya padi dewasa ini dihadapkan pada perubahan iklim global yang akan menyebabkan stabilitas perberasan nasional akan terganggu.Dampak dari climate change (perubahan iklim) adalah meningkatnya kejadian iklim ekstrim, berubahnya pola hujan, bergesernya awal musim, banjir, kekeringan dan naiknya permukaan air laut. Perubahan itu otomatis merubah pola tanam padi di Indonesia dan memicu perubahan pola hidup OPT yang dapat menyebabkan ledakan hama/penyakit.Dalam lima tahun terakhir BB Padi telah merilis 32 varietas unggul baru dengan berbagai keunggulan, sejak tahun 2008 penamaan varietas unggul baru tidak lagi mempergunakan nama sungai tetapi mengikuti penamaan padi hibrida yang telah memakai HIPA (Hibrida Padi). Penamaan VUB untuk ekosistem sawah irigasi memakai nama INPARI (Inbrida Padi Irigasi), ekosistem rawa memakai nama INPARA (Inbrida Padi Rawa) dan lahan kering memakai nama INPAGO (Inbrida Padi Gogo). Varietas yang cocokUntuk mengatasi permasalahan kekeringan di beberapa daerah dan juga tanah merah kuning dengan keracunan Al, dapat menggunakan varietas gogo (Limboto, Batulegi, Situ Bagendit, Inpago 4, 5, 6), sedangkan untuk lahan sawah terdapat juga varietas padi sawah yang tahan kekeringan seperti Dodokan, Silugonggo dan Inpari 10 Laeya. Untuk lahan sawah yang berpotensi tergenang air laut yang memiliki kadar salinitas yang tinggi, ada varietas toleran salin yaitu : Margasari, Dendang, Lambur, Indragiri, Air Tenggulang dan Banyuasin. Untuk daerah-daerah yang mempunyai musim tanam pendek, varietas genjah yang dapat ditanam adalah Inpari 11, 12 dan 13.Dari hasil penelitian, emisi gas rumah kaca (GRK) dari padi sawah adalah 12%. Untuk menekan dampak emisi GRK ini sudah ada varietas padi sawah irigasi yang rendah yaitu IR64, Ciherang, Way Apo Buru dan Inpari, pada padi rawa yang memiliki GRK rendah adalah varietas Batanghari, Tenggulang, Banyuasin dan Punggur.Inovasi TeknologiInovasi teknologi yang dapat diterapkan mengatasi perubahan iklim adalah PTT padi sawah irigasi, PTT padi sawah tadah hujan, PTT padi rawa, PTT padi gogo, PTT padi hibrida dan PTT padi ketan. Komponen pendukung PTT dibagi dalam komponen dasar yaitu komponen yang sangat dianjurkan dan komponen pilihan yaitu komponen yang dapat dipilih berdasarkan kondisi, kemauan dan kemampuan petani setempat. Hama dan PenyakitSerangan hama/penyakit tanaman sering berhubungan dengan perubahan suhu dan curah hujan, apabila pengendali iklim tersebut menjadi lebih hangat dan lembab akan menyebabkan tingkat luasan serangan hama/penyakit cenderung meningkat. Saat ini dikembangkan teknologi PHTT (pengendalian hama tikus terpadu) yang berdasarkan pada pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan berkelanjutan dengan memanfaatkan berbagai teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Sumber : Websiteb (Berbagai sumber)Penyunting : Hj. Siti Maemunah, SP. (PP BPP Karangampel)Admin Kab. : Endang Kirno K.