Budidaya Bawang Merah di DKI Jakarta sudah mulai bergeliat, mulai dari para penyuluh pertanian, sampai ke kelompok tani bahkan masyarakat luas. Hal ini terbukti bahwa ada warga masyarakat yang bercocok tanam di hamparan tanah yang cukup luas seperti di Jakarta Barat, di lahan percontohan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) sampai di lahan-lahan pekarangan dengan memanfaatkan pot-pot tanaman dalam skala kecil. Penanaman bawang merah dengan menggunakan umbi bawang merah seperti biasanya memiliki kendala seperti ketersediaan benih/ bibit yang tidak tersedia secara cepat, harga bibit cukup mahal, produktifitas benih yang rendah karena penyakit yang dibawa umbi. Oleh karena itu penggunaan bibit bawang merah yang menggunakan biji (TSS = True Shallot Seed) menjadi alternative yang harus dilakukan untuk melakukan budidaya tanaman bawang di DKI Jakarta, karena mampu menyediakan benih bawang merah yang bermutu, seragam, bebas hama penyakit dan dapat menghasilkan jumlah yang cukup dan tepat waktu.TSS = True Shallot Seed adalah biji bawang merah botani yang diperoleh dari rangkaian bunga (umbel) bawang merah yang akan digunakan sebagai benih. Keunggulan dari TSS adalah kebutuhan benih sedikit (7,5 Kg/ha) menghasilkan tanaman yang lebih sehat dan ukuran umbi yang lebih besar dan daya hasil yang tinggi. Proses budidaya TSS melalui proses penyemaian, umbi mini dan tanam langsung. Lamanya untuk menghasilkan TSS selama 6 minggu.Inovasi teknologi budidaya bawang merah dari TSS ini disampaikan oleh Emy Sugiartini Peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta kepada para peserta bimbingan teknis yang terdiri dari para penyuluh pertanian, Kepala Satuan pelaksana tingkat Kecamatan, dan petugas teknis lainnya yang berasal dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan pertanian tingkat Provinsi dan Suku Dinas tingkat Wilayah Kota, serta para penyuluh pertanian swadaya.Dalam kesempatan tersebut disampaikan oleh Emy bahwa beberapa varietas True Shallot Seed yang sudah dilepas antara lain a. Bima Brebes dengan potensi produksi sebanyak 9,9 ton/ha; varietas ini bagus untuk dataran rendah seperti DKI Jakarta, b. Katumi dengan potensi produksi 24,1 ton/ha; varietas ini cocok untuk dataran rendah, c. Sembran I dengan potensi produksi 24 ton/ha; varietas ini cocok untuk dataran rendah, d. Varietas Pikatan ; dengan potensi produksi 23,31 ton/ha; umur panen 55 hari dan tahan simpan sampai dengan 6 bulan e. Varietas Trisula; dengan potensi produksi 23,21 ton/ha dan tahan simpan sampai dengan 5 bulan f. Varietas Pancasona potensi produksi 23,07 ton/ha dan daya simpan sampai dengan 3 -4 bulanTahapan pelaksanaan budidaya tanaman bawang merah hampir sama dengan budidaya tanaman lainnya yaitu melalui proses tahapan a. penyiapan benih bawang merah yang cocok dengan lokasi tanam dan rekomendasi b. Penyiapan lahan dengan pengolahan tanah 15 s/d 20 sebelum tanam, membuat bedengan ukuran 1,5 s/d 2 meter panjang dan 40 s/d 60 cm lebar. Diperlukan dolomite ( 2 ton/ha) dan pupuk kandang sebanyak 10 s/d 15 ton/ha. C. Penanaman ; buat lubang tanam dengan kedalaman 2 cm dan jarak tanam 15 x 15 cm d. Pemeliharaan tanaman ; pemberian pupuk NPK 600 Kg/ha diberikan pada umur 15 dan 30 HST masing-masing sepertiga dosis, e. Panen ; Panen ditandai dengan 80% daun mengalami rebah, leher batang gembos, umbi tersembul kepermukaan tanah dan berwarna merah.Untuk mendapatkan benih yang berkualitas diperlukan tahapan sebagai berikut : a. Prosesing benih ; dengan melakukan bawang merah dibersihkan akar dan sisa kotoran yang menempel pada bagian umbi; dikeringkan dengan cara dijemur dibawah matahari hingga kering dan kadar air antara 75-80%) b. Penyimpanan benih ; simpan benih pada suhu 29-300 C diikat dan digantung c. Pemeliharaan benih digudang ; dilakukan setiap bulan, sortasi benih, pemeliharaan kebersihan gudang.n ( Sri Hurustiati; Penyuluh Pertanian Madya; Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, 2018)