Dalam rangka mensukseskan program swasembada padi pada tahun 2017, maka inovasi teknologi Panen Tepat Waktu dan Gabah segera dirontok merupakan komponen pilihan dari Pengelolaan Tanaman terpadu (PTT) perlu digalakkan. PTT merupakan pendekatan penerapan inovasi teknologi dengan menggabungkan aspek lingkungan dan keberlanjutan serta partisipasi petani dan ketersediaan sumberdaya di tingkat petani. Implementasi PTT sesuai rekomendasi telah terbukti dapat meningkatkan hasil padi 15 – 30 %, mengurangi penggunaan pupuk, pestisida, dan air secara signifikan dibandingkan dengan cara yang biasa dilakukan petani. Panen Tepat Waktu dan Gabah segera dirontok merupakan kegiatan Panen dan pasca panen perlu segera ditangani secara tepat karena : - Kehilangan hasil dan penurunan mutu selama proses panen dan pasca panen masih tinggi (sekitar 20 %)- Penanganan panen dan pasca panen yang kurang baik menyebabkan kualitas benih rendah- Panen padi dengan sistem kelompok dapat menekan kehilangan hasil dari 19 % menjadi 4 %. - Pemanenan padi dengan sistem kelompok beranggota 30 permanen memerlukan pembagian tugas yang jelas dan proporsional : 22 orang memotong padi, 5 orang mengumpulkan potongan padi, dan 3 orang merontok padi dan mengemas gabah dalam karung. Jika menggunakan power tresher, usahakan putaran drum/silinder perontok stabil pada 600 - 800 rpm agar dapat menahan kerusakan gabah dan menghindari tercampurnya gabah dengan kotoran. Kegiatan Panen dan Pasca Panen Penen pada waktu yang tepat :- Perhatikan umur tanaman ; antara varietas yang satu dengan lainnya kemungkinan berbeda.- Hitung sejak padi mulai berbunga, biasanya panen jatuh pada 30 – 35 hari setelah padi berbunga- Jika 95 % malai menguning, segera panen Panen dan perontokan :- Gunakan alat sabit bergerigi atau mesin panen.- Panen sebaiknya dilakukan dengan cara potong tengah atau potong atas bila gabah akan dirontok dengan power thresher. - Bila gabah akan dirontok dengan pedal tresher, panen dapat dilakukan dengan cara potong bawah.- Hasil panen dimasukkan ke dalam karung atau kalau ditumpuk perlu diberi alas untuk mencegah gabah tercecer. - Perontokan harus segera dilakukan, dihindari penumpukan padi sawah sampai beberapa hari, untuk menjaga kualitas, menekan kehilangan hasil dan kerusakan gabah. Panen dengan Indo Combine Harvester:Badan Litbang Pertanian telah mengembangkan alat panen yang dipersiapkan terutama untuk daerah-daerah yang ketersediaan tenaga kerjanya terbatas yaitu Indo Combine Harvester. Adapun keuntungan dari penggunaan alat ini dibandingkan dengan panen manual adalah dari aspek tingkat kehilangan hasil menggunakan Indo Combine Harvester hanya sebesar 1.87% sedangkan menggunakan panen manual dengan Gebot dari bambu tingkat kehilangan hasilnya mencapai 10%. Dari aspek Tenaga Kerja dengan alat Indo Combine Harvester hanya membutuhkan 3 HOK/hektar, sedangkan dengan manual membutuhkan Tenaga Kerja 50 HOK/hektarnya. Kapasitas mesin Indo Combine Harvester ini hanya memerlukan waktu 4 – 6 jam/hektar. Pengeringan :- Jemur gabah di atas lantai jemur- Ketebalan gabah 5 – 7 cm- Lakukan pembalikan setiap 2 jam sekali- Pada musim hujan gunakan pengering buatan- Pertahankan suhu pengering 42o C untuk mengeringkan benih- Pertahankan suhu pengering 50 o C untuk gabah konsumsi Penggilingan dan penyimpanan :- Pengemasan dan pengangkutan pada waktu pemanenan, perontokan, pembersihan, pengeringan, maupun penyimpanan, dianjurkan menggunakan karung goni atau plastik yang baik, tidak bocor, bersih, kuat, dan bebas hama.- Untuk memperoleh beras dengan kualitas tinggi, perhatikan waktu panen, sanitasi (kebersihan), dan kadar air gabah (12 - 14 %)- Simpan gabah/beras dalam wadah yang bersih dalam lumbung/gudang, bebas hama, dan memiliki sirkulasi udara yang baik.- Simpan gabah pada kadar air kurang dari 14 % untuk konsumsi dan kurang dari 13 % untuk benih - Gabah yang sudah disimpan dalam penyimpanan, jika akan digiling, dikeringkan terlebih dahulu sampai kadar air 12 – 14 %.- Sebelum digiling, gabah yang baru dikeringkan diangin - anginkan terlebih dahulu untuk menghindari butir yang pecah. Dari uraian tersebut di atas maka Panen dan Pasca Panen Padi merupakan salah satu komponen teknologi pilihan dalam PTT Padi perlu dioptimalkan agar kehilangan hasil dan penurunan mutu selama proses panen dan pasca panen dapat ditekan, kualitas benih menjadi lebih baik dan secara umum kuantitas dan kualitas padi menjadi lebih baik. Dengan demikian diharapkan swasembada berkelanjutan komoditas padi dapat tercapai. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.comSumber : 1) Padi Untuk Rakyat Indonesia (PURI), Teknologi Bioindustri Padi Mendukung Swasembada Beras Berkelanjutan, 2013, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian.2) Sumber Gambar : https://www.google.com