Loading...

Inovasi Teknologi Penanganan Pascapanen Jagung

Inovasi Teknologi Penanganan Pascapanen Jagung
Penanganan pascapanen merupakan tahapan penting usaha tani jagung. Tahapan ini penting dilakukan untuk menjaga kualitas dan kehilangan hasil. Kehilangan hasil dapat terjadi karena tertinggal di lapang pada waktu panen, tercecer pada saat pengangkutan atau tidak terpipil. Menurunnya mutu disebabkan oleh rusaknya butir jagung, berkecambah, biji keriput. Selain itu, penanganan pascapanen juga ditujukan untuk menjaga keamanan pangan akibat infeksi cendawan Apergillus flavus. Cendawan ini dapat menghasilkan toksin yang diduga dapat menyebabkan kanker esofagus pada manusia dan berbahaya bagi kesehatan ternak. Kegiatan penanganan pascapanen dimulai dari kegiatan pemanenan hingga menjadi produk siap dikonsumsi. Cakupan penanganan pascapanen jagung adalah sebagai berikut: • Panen, aktivitas yang dilakukan adalah menentukan waktu panen, pemungutan hasil, pengumpulan, pengangkutan• Pengupasan, aktivitas yang dilakukan adalah pelepasan kulit, pemisahan jagung yang baik dan yang rusak• Pengeringan, aktivita yang dilakukan adalah mengangkut tongkol ke tempat pengeringan, pengeringan dan pemrosesan hasil pengeringan• Pemipilan, aktivitas yang dilakukan adalah memipil tongkol, memisahkan biji dari kotoran, memproses jagung pipilan kering• Penyimpanan, aktivitas yang dilakukan adalah menyimpan biji dalam ruang penyimpanan untuk mempertahankan mutu• Pengangkutan, aktivitas yang dilakukan adalah pengeringan biji dan pemindahan untuk proses selanjutnya PemanenanWaktu panen yang kurang tepat (lebih awal) dapat menyebabkan penurunan kualitas dan dapat menyebabkan kehilangan hasil. Selain didasarkan pada umur tanaman sesuai dengan deskripsi varietas, secara fisik jagung yang siap dipanen biasanya ditandai dengan mulai mengeringnya daun dan batang tanaman dan berwarna kecoklatan. Selain itu, juga dapat diketahui dari adanya lapisan hitam pada pangkal biji jagung. Apabila pada pangkal biji sudah ditumbuhi lebih dari 50% lapisan hitam, maka tanaman sudah masak fisiologis. Petani di sejumlah daerah memanen jagung setelah umur panen tercapai (daun dan batang jagung telah berwarna coklat). PengeringanPengeringan dilakukan untuk menurunkan kadar air biji agar aman disimpan. Pengeringan umumnya dilakukan sebelum pemililan, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya biji pecah. Kadar air biji yang aman untuk disimpan berkisar antara 12-14%. Selain menurunkan kadar air, pengeringan juga ditujukan untuk menurunkan serangan cendawan yang dapat menurunkan kualitas jagung. Pengeringan jagung dapat dilakukan dengan dua acara, Pertama: Penjemuran bersama-sama antara tongkol yang masih menyatu dengan batang tanaman, cara ini dilakukan dengan membiarkan tongkol tetap pada tanaman selama 7-14 hari; Kedua: Penjemuran tongkol yang sudah dipetik dari batang atau sudah dipisahkan antara biji dengan janggelnya (jagung pipil), cara ini dilakukan di lantai jemur. PemipilanPemipilan adalah kegiatan memisahkan biji jagung dari tongkolnya. Pemipilan jagung dapat dilakukan secara manual. Cara ini dilakukan dengan cara memipil biji satu per satu dari tongkolnya, baik dengan tangan maupun dengan bantuan alat sederhana. Biji jagung yang dihasilkan cara ini tidak akan mengalami kerusakan fisik biji . Cara ini sangat dianjurkan untuk untuk penyediaan benih. Cara lain untuk memi[il jagung adalah dengan menggunakan mesin. Balai Penelitian Tanaman Serealia telah mengembangkan alat pemipil jagung model TH6-M2 dengan tenaga penggerak motor 5,5 HP atau motor listrik. Alat pemipil TH6-M2 juga dapat digunakan untuk merontok padi dan kedelai Standar Nasional Indonesia (SNI) Mutu JagungPenetapan standar mutu jagung dibuat untuk menjamin kualitas mutu jagung, baik untuk pangan maupun pakan. Standar mutu jagung didasarkan pada beberapa syarat, yaitu:1. Bebasa hama penyakit2. Bebas bau busuk, asam, atau bau asing lainnya 3. Bebas dari bahan kimia seperti insektisida dan fungisida4. Memiliki suhu normal. Sumber Tulisan:Balai Penelitian Tanaman Seralia. 2014. Buku Deskripsi Varietas Unggul Jagung http://balitsereal.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=140&Itemid=78.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 2007. Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan. Departemen Pertanian 2007. Tersedia di: http://balitsereal.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=42&Itemid=74.Suarni dan Muhamad Y. 2011. Jagung Sebagi Sumber Pangan Fungsional. Iptek Tanaman Pangan. Vol. 6 (1): 41-56. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi PertanianEmail: ume_humaedah@yahoo.com