Peningkatan produktivitas erat kaitannya dengan penggunaan inovasi budidaya tanaman. Dimulai dari persiapan lahan, penggunaan varietas unggul, pengaturan populasi (jumlah) tanaman, penyiangan, pembumbunan pemupukan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, dan pemanenan. Berbagai teknologi budidaya tersebut merupakan komponen dari sistim/pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu jagung, atau lebih dikenal dengan PTT Jagung. Pemasalan penerapan pendekatan PTT jagung telah dilakukan Kementerian Pertanian sejak tahun 2008 melalui program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Saat ini, pemasalah penerapan inovasi ini dilakukan melalui kegiatan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpasi (GP-PTT) Jagung. Pengelolaan Tanaman Terpadu merupakan pendekatan dalam budidaya yang menutamakan pengelolaan tanaman, lahan, air, tanaman, organisme pengganggu tanaman (OPT), dan iklim secara terpadu dan bersifat spesifik lokasi (Balitbangtan, 2008). Keuntungan penerapan pendekatan PTT diantaranya: (1) Meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil usahatani, (2) Efisiensi biaya usaha tani dengan penggunaan teknologi yang tepat untuk masing-masing lokasi, dan (3) Kesehatan lingkungan tempat tumbuh pertanaman dan lingkungan kehidupan secara keseluruhan akan terjaga. Dalam pendekatan PTT Jagung terdapat 12 komponen teknologi. Berdasarkan sifatnya, komponen-komponen teknologi tersebut dapat dibedakan menjadi dua bagian: (1) teknologi untuk tujuan memcahkan masalah setempat atau spesifik lokasi, dan (2) teknologi untuk perbaikan cara budi daya yang efisien. Dalam penerapannya tidak semua komponen teknologi diterapkan sekaligus, terutama di lokasi yang mempunyai masalah spesifik Dari 12 komponen teknologi PTT jagung, terdapat lima komponen teknologi utama yang dapat diterapkan secara bersama dan merupakan penciri PTT jagung. Lima komponen tersebut adalah: Lima Komponen Utama1. Varietas Unggul BaruVarietas unggul memiliki peranan penting dalam peningkatan produktivitas. Varietas unggul umumnya mampu memberikan hasil yang tinggi serta memiliki ketahanan terhadap hama penyakit tertentu. Selain itu pertimbangan dalam memilih jenis varietas juga bisa berdasarkan kesesuaiannya dengan lingkungan setempat dan keinginan petani dan pasar. Varietas unggul yang digunakan bisa dari kelompok hibrida maupun bersari bebas. Jagung hibrida adalah jagung yang benihnya merupakan keturunan pertama dari persilangan dua galur atau lebih yang sifat-sifat individunya Heterozygot dan Homogen. 2. Benih Bermutu dan BerlabelPenggunaan benih bermutu dan berlabel akan memberikan jaminan kualitas benih yang memiliki daya perkecambahan yang tinggi dan seragam, tanaman sehat dengan perakaran baik, tanaman tumbuh lebih cepat, tahan terhadap hama dan penyakit, berpotensi hasil tinggi dan mutu hasil yang lebih baik. Untuk menghindari serangan jamur, sebelum ditanam sebaiknya benih diberi perlakuan fungisida metalksil dengan takaran 2 gram untuk 1 kilogram benih. 3. Populasi 66.000-75.000 Tanaman per HektarPopulasi tanaman erat kaitannya dengan jarak tanam yang digunakan. Untuk memperoleh populasi tanaman 66.000-75.000 tanaman per hektar digunakan jarak tanam 75 cm x 20 cm dengan jumlah biji satu biji per lubang tanam. Jarak tanam ini dinajurkan untuk daerah yang memiliki cukup tenaga kerja. Jarak tanam lain yang dapat digunakan adalah 75 cm x 40 cm dengan jumlah biji 2 biji per lubang tanam. Jarak tanam ini dianjurkan bagi wilayah yang kekurangan tenaga kerja atau upah tenaga kerja mahal. 4. Pemupukan Berdasarkan Kebutuhan Tanaman dan Status Hara TanahPemberian pupuk yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman dan ketersediaan hara tanah menganut prinsip tepat jumlah, jenis, cara, dan waktu aplikasi sesuai dengan jenis tanaman. Berikut ini porsi kebutuhan pupuk sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman jagung. 5. Pembuatan Saluran Drainase pada Lahan Kering, atau Saluran Irigasi Pada Lahan SawahPembuatan dranase dilakukan untuk menghindari terjadinya genangan air pada saat kondisi curah hujan tinggi. Teknik ini penting dilakukan karena tanaman jagung cukup peka terhadap kelebihan air. Untuk menghemat tenaga, pembuatan drainase sebaiknya dilakukan bersamaan dengan penyiangan pertama yang dilakukan pada saat tanaman berumur 14-20 hari setelah tanam. Komponen Teknologi LainnyaKomponen teknologi PTT Jagung lainnya adalah: 1. Kebutuhan Benih 15-20 kg/haKebutuhan benih ini sangat tergantung pada ukuran benih. Semakin semakin kecil ukuran benih bobot 1000 biji 2. Pemberian Bahan OrganikPemberian pupuk organik dilakukan untuk menambah kesuburan tanah dan menyediakan unsur hara tanaman. Pemberian bahan organik dilakukan pada saat penanaman. Bahan organik digunakan sebagai penutup lubang tanam. Bahan organik yang dibutuhkan untuk lahan seluas satu hektar sekitar 1,5-2 ton. 3. Pengendalian Gulma Secara TerpaduPenyiangan umumnya dilakukan sebanyak dua kali. Penyiangan pertama sekaligus dengan pembuatan alur drainase pada umur 14-20 hari setelah tanam. Penyiangan kedua (tergantung kondisi gulma) dapat dilakukan secara manual atau dengan herbisida kontak paraquat (1,0-1,5 liter/ha tergantung kondisi gulma). 4. Pengendalian Hama dan Penyakit secara TerpaduHama yang umum menggagu pada pertanaman jagung adalah alat bibit, penggerek batang dan tongkol. Lalat bibit umumnya menggagu pada saat awal pertumbuhan tanaman, oleh karena itu pengendaliannya harus dilakukan mulai saat tanam dengan menggunakan insektisida carbofuran utamanya pada daerah-daerah endemik serangan lalat bibit. Untuk hama penggerek batang, jika mulai nampak ada gejala serangan dapat dilakukan dengan pemberian carbofuran (3-4 butir carbofuran/tanaman) melalui pucuk tanaman pada tanaman yang mulai terserang.5. Pemberian air melalui saluran-saluran dan dilakukan sesuai kebutuhanPemberian air melalui saluran khusus untuk pertanaman pada lahan sawah saat musim kemarau. 6. Panen Tepat Waktu dan Prosesing dengan Alat PemipilSecara fisik jagung yang siap dipanen biasanya ditandai dengan mulai mengeringnya daun dan batang tanaman dan berwarna kecoklatan. Panen sebaiknyadilakukan dalam kondisi cuaca cerah, kadar air biji mencapai + 30% (biji telah mengeras dan telah membentuk lapisan hitam. Selanjutnya tongkol dijemur sampai kadar air biji mencapai + 20% dan dipipil dengan menggunakan alat pemipil. Hasil biji pipilan dijemur lagi sampai kadar air mencapai 14% untuk siap dijual. Sumber:Balai Penelitian Tanaman Seralia. 2014. Buku Deskripsi Varietas Unggul Jagung http://balitsereal.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=140&Itemid=78.Ditjen Tanaman Pangan. 2015. Buku Pedoman Pelaksanaan GP-PTT 2015. Jakarta Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 2007. Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan. Departemen Pertanian 2007. Tersedia di: http://balitsereal.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=42&Itemid=74.Suarni dan Muhamad Y. 2011. Jagung Sebagi Sumber Pangan Fungsional. Iptek Tanaman Pangan. Vol. 6 (1): 41-56. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi PertanianEmail: ume_humaedah@yahoo.com