Pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi tanaman pangan dalam upaya pemantapan kedaulatan dan ketahanan pangan nasional yang merupakan tujuan penting pembangunan pertanaian. Hal ini antara lain tercermin dari peluncuran berbagai program peningkatan produksi tanaman pangan, termasuk program Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai (UPSUS Pajale). Dalam hal ini, inovasi teknologi varietas unggul memegang peranan penting. Upaya peningkatan produksi tanaman pangan dihadapkan kepada berbagai kendala dan masalah. Kekeringan dan banjir yang tidak jarang mengancam produksi di beberapa daerah, penurunan produktivitas lahan pada sebagian areal pertanaman, hama penyakit tanaman yang terus berkembang, dan tingkat kehilangan hasil pada saat dan setelah panen yang masih tinggi merupakan masalah yang perlu dipecahkan. Kini dan ke depan, upaya peningkatan produksi tanaman pangan perlu dikaitkan dengan efisiensi, daya saing produksi, dan kelestarian lingkungan. Hal ini penting artinya dalam upaya peningkatan pendapatan petani, kedaulatan pangan, ketahanan pangan, dan keberlanjutan usahatani yang merupakan isu sentral pembangunan pertanian. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dunia hampir selalu berujung pada kenaikan harga sarana produksi yang berdampak terhadap pengurangan keuntungan usahatani. Ke depan, deposit minyak bumi akan terus menurun sehingga perlu diupayakan BBM alternatif yang dapat mensubtitusi penggunaan minyak bumi. Pemerintah berupaya mengembangkan komoditas pertanian yang dapat diproses menjadi BBM alternatif. Pengalaman menunjukkan, sebagian dari masalah yang dihadapi petani dalam berproduksi dapat dipecahkan dengan penerapan teknologi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan senantiasa berupaya menghasilkan berbagai inovasi teknologi yang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi upaya peningkatan produksi tanaman pangan dan pendapatan petani, pengembangan komoditas yang potensial sebagai bahan baku BBM alternatif, dan pelestarian lingkungan guna menjamin keberlanjutan sistem produksi. Di antara teknologi yang dihasilkan melalui penelitian, varietas unggul relatif lebih mudah dikembangkan dan lebih cepat dirasakan manfaatnya oleh petani. Varietas-varietas unggul yang dihasilkan meliputi antara lain varietas unggul padi, vaietas unggul jagung, varietas unggul kedelai, varietas unggul kacang tanah, varietas unggul kacang hijau, dan varietas unggul ubi jalar. Varietas-varietas unggul tersebut umumnya berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama penyakit utama, dan memiliki sifat-sifat penting lainnya. Data penyebaran varietas pada tahun 2003 menunjukkan bahwa dari 80an varietas unggul padi yang telah berkembang di petani, varietas Way Apoburu dan Ciherang yang masing-masing dilepas pada tahun 1998 dan tahun 2000 sudah mulai meluas penggunaannya. Sementara dominasi varietas IR64 yang dilepas pada tahun 1986 telah menurun dari 50% pada tahun 2002 menjadi 45% pada tahun 2003. Secara nasional, pergeseran penggunaan varietas dari IR64 ke varietas unggul baru lainnya mendatangkan keuntungan sebesar Rp. 3, 05 triliyun. Varietas Hipa-5 Ceva, padi hibrida yang baru dilepas, memiliki sifat yang relatif lebih baik dibandingkan dengan padi hibrida yang ada, terutama yang diintroduksikan dari negara lain. Selain berpotensi hasil tinggi, Varietas Hipa-5 Ceva tahan terhadap hama wereng coklat, penyakit tungro, dan hawar daun bakteri. Sifat ketahanan terhadap hama dan penyakit penting ini tidak dipunyai oleh padi hibrida lain. Aek Sibundong, yang merupakan varietas unggul padi beras merah mengandung nutrisi yang lebih baik. Pengembangan varietas unggul ini diharapkan dapat mengatasi masalah gizi buruk Jagung Varietas Sukmaraga, toleran terhadap kemasaman tanah, kejenuhan Al, dan dengan pengelolaan yang baik mampu berproduksi hingga 7 ton/ha pada lahan kering masam. Varietas unggul ini telah berkembang di beberapa daerah, antara lain di Provinsi Kalimantan Selatan. Varietas Palakka yang relatif genjah dan hasilnya dapat mencapai 7-8 ton/ha disukai oleh sebagian petani di Sulawesi Selatan. Srikandi Kuning-I dan Srikandi Putih-1 berkadar protein tinggi dan pengembangannya diharapkan dapat mengatasi masalah gizi buruk terutama di perdesaan. Varietas Bima-2 dan Bima-3 Bantimurung yang dilepas pada tahun 2006 adalah jagung jenis hibrida, yang tahan terhadap penyakit bulai dan masing-masing mampu berproduksi hingga 10-11 ton/ha. Sebagian pengrajin tahu dan tempe lebih menyukai kedelai berbiji besar sebagai bahan baku. Varietas Panderman adalah salah satu varietas dari beberapa varietas kedelai berbiji besar. Dengan pengelolaan yang tepat pada lokasi dan iklim yang mendukung, Varietas Panderman dapat berproduksi hingga 2,4 ton/ha.Aspergillus flavus, merupakan penyakit penting yang seringkali menginveksi biji kacang tanah. Jika dikonsumsi, biji yang terinfeksi dapat meracuni konsumen. Varietas Bison, Domaba, dan Tuban adalah varietas unggul kacang tanah yang relative tahan terhadap serangan Aspergillus flavusPenulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan