Loading...

INPARA 4, 5 DAN 6 PADI TOLERAN RENDAMAN

INPARA 4, 5 DAN 6 PADI TOLERAN RENDAMAN
Perubahan iklim berdampak pada berubahnya kondisi alam seperti banjir atau kekeringan. Dalam rangka peningkatan produksi beras khususnya didaerah banjir, Badan Litbang Pertanian telah berhasil menemukan varietas padi yang toleran terhadap rendaman diantaranya INPARA (Inbrida padi rawa) 4 dan 5. Varietas INPARA 4 dan INPARA 5 merupakan varietas introduksi dari IRRI yang memiliki gen toleran rendaman. Gen ini memungkinkan tanaman dapat bertahan terendam selama 1-2 minggu pada fase vegetatif. Padi Inpara Inpara (inbrida padi rawa) merupakan varietas padi toleran rendaman/rawa yang telah dilepas sejak tahun 2010 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian diantaranya Inpara 4, 5 dan 6. Deskripsi sifat-sifat Inpara 4 dan 5 sebagai berikut: Inpara 4: Umur (hari)135 hari, bentuk tanaman tegak dengan tinggi tanaman 94 cm, jumlah anakan produkstif sebanyak 18, tahan kerebahan, tingkat kerontokan sedang, bentuk gabah sedang, tekstur nasi pera, kadar amilosa 29%, indeks glikemik 50,9, berat padi 1000 butir 19,5 gram, rata-rata hasil 4,7 ton/ha, potensi hasil 7,6 ton/ha, Ketahanan terhadap cekaman abiotik yaitu padi toleran rendaman 14 hari fase vegetatif, lahan yang dianjurkan untuk ditanam Pasang surut, lebak, sawah rawan banjir. Inpara 5; Umur (hari)115 hari, bentuk tanaman tegak dengan tinggi tanaman 92 cm, jumlah anakan produkstif sebanyak 18, ketahanan kerebahan sedang, tingkat kerontokan sedang, bentuk gabah ramping, tekstur nasi sedang, kadar amilosa 29%, indeks glikemik 59, berat padi 1000 butir 25 gram, rata-rata hasil 4,5 ton/ha, potensi hasil 7,2 ton/ha, Ketahanan terhadap cekaman abiotik yaitu padi toleran rendaman 14 hari fase vegetatif, lahan yang dianjurkan untuk ditanam Lebak dangkal dan sawah rawan banjir Inpara 6: Umur (hari)117 hari, bentuk tanaman tegak dengan tinggi tanaman 99 cm, jumlah anakan produkstif sebanyak 13, tahan kerebahan, tingkat kerontokan sedang, bentuk gabah sedang, tekstur nasi sedang, kadar amilosa 24,0%, berat padi 1000 butir 26 gram, rata-rata hasil 4,7 ton/ha, potensi hasil 6 ton/ha, Ketahanan terhadap cekaman abiotik yaitu padi Toleran keracunan Fe, lahan yang dianjurkan untuk ditanam Pasang surut potensial dan lebak. Ketahanan terhadap hama dan penyakit INPARA 4 lebih tahan terhadap hama wereng coklat biotipe 3 dibandingkan INPARA 5, namun kedua varietas ini sama-sama tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe IV dan VIII. Daya adaptasi Adaptasi varietas Inpara di lahan rawa cukup bervariasi. Hasil observasi di lapang menunjukkan bahwa adaptasi varietas Inpara 4 cukup baik di lahan pasang surut, sedangkan varietas Inpara 5 kurang baik. Varietas Inpara Varietas Inpara 4 memiliki adaptasi yang cukup baik di lahan lebak, tetapi umurnya lebih panjang. sehingga pada daerah yang periode keringnya hanya 3-4 bulan, varietas tersebut akan mengalami kekeringan pada periode pengisian biji. Di lahan sawah irigasi, pertumbuhan varietas Inpara 5 cukup baik. Varietas Inpara 5 sangat peka dengan kondisi stress air. Varietas tersebut memerlukan kondisi air tergenang karena bila mengalami fase kekeringan akan muncul gejala mirip penyakit blas. Badan Penelitian dan Pegembangan Pertanian melalui UPBS di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) melakukan terobosan dengan memproduksi benih padi rawa dan sekaligus mendesiminasikan varietas Inpara agar lebih dikenal dan diadopsi petani. Varietas Inpara berpeluang dikembangkan di lahan sub-optimal seperti di lahan rawa. Setiap varietas memiliki adaptasi yang spesifik terhadap lingkungannya. Penanaman padi rawa di daerah yang sesuai wilayah adaptasinya akan membuat tanaman tumbuh baik dan produksi padi maksimal. Sebaliknya penanaman padi rawa di luar wilayah adaptasinya, sering mengalami kegagalan. Potensi hasil varietas Inpara rata-rata di atas 5 t/ha dan cukup berpotensi untuk dikembangkan di wilayah adaptasinya masing-masing. . Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber :1) Inovasi Teknologi Membangun Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani, Badan Litbang Pertanian, 2012; 2) Dihimpun dari berbagai sumber.