A. Sejarah Perkembangan Inseminasi BuatanInseminasi Buatan (IB) pada hewan peliharaan telah lama dilakukan sejak berabad-abad yang lampau. Seorang pangeran arab yang sedang berperang pada abad ke-14 dan dalam keadaan tersebut kuda tunggangannya sedang mengalami birahi. Kemudian dengan akal cerdiknya, sang pangeran dengan menggunakan suatu tampon kapas, sang pangeran mencuri semen dalam vagina seekor kuda betina musuhnya yang baru saja dikawinkan dengan pejantan yang dikenal cepat larinya.Tampon tersebut kemudian dimasukan ke dalam vagina kuda betinanya sendiri yang sedang birahi. Alhasil ternyata kuda betina tersebut menjadi bunting dan lahirlah kuda baru yang dikenal tampan dan cepat larinya. Inilah kisah awal tentang IB, dan setelah itu tidak lagi ditemukan catatan mengenai pelaksanaan IB atau penelitian ke arah penggunaan teknik tersebut. Di Jawa Tenggah kedua Balai Pembenihan Ternak yang ditunjuk, melaksanakan kegiatan IB sejak tahun1953, dengan tujuan intensifikasi onggolisasi untuk Mirit dengan semen Sumba Ongole (SO) dan kegiatan di Ungaran bertujuan menciptakan ternak serba guna, terutama produksi susu dengan pejantan Frisien Holstein (FH). Ternyata nasib Balai Pembibitan Ternak kurang berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik, kecuali Balai Pembibitan Ternak Ungaran, dan tahun1970 balai ini diubah namanya menjadi Balai Inseminasi Buatan Ungaran, dengan daerah pelayanan sampai sekarang di daerah jalur susu Semarang – Solo – Tegal.Inseminasi buatan telah pula digalakkan atau diperkenalkan oleh FKH IPB, di daerah Pengalengan, Bandung Selatan, bahkan pernah pula dilakukan pameran pedet (Calf Show) pertama hasil IB. Kemajuan tersebut disebabkan adanya sarana penunjang di daerah tersebut yaitu 1) rakyat pemelihara sapi telah mengenal tanda-tanda berahi dengan baik, 2) rakyat telah tahu dengan pasti bahwa peningkatan mutu ternak melalui IB merupakan jalan yang sesingkat-singkatnya menuju produksi tinggi, 3) pengiriman semen cair dari Bogor ke Pengalengan dapat memenuhi permintaan, sehingga perbaikan mutu genetik ternak segera dapat terlihat.Hasil-hasil perbaikan mutu genetik ternak di Pengalengan cukup dapat memberi harapan kepada rakyat setempat. Namun sayangnya peningkatan produksi tidak diikuti oleh peningkatan penampungan produksi susu itu sendiri. Susu sapi umumnya dikonsumsi rakyat setempat. Akibatnya produsen susu menjadi lesu, sehingga perkembangan IB di Pangalengan sampai tahun 1970, mengalami kemunduran akibat munculnya industri-industri susu bubuk yang menggunakan susu bubuk impor sebagai bahan bakunya. B. Pengertian Inseminasi Buatan.- Inseminasi Buatan ( Artifisiol Insemination) atau kawin suntik adalah tehnik memasukan vairan plasma semen yang mengandung sel – sel kelamin jantan ( spermatozoa) kedalam saluran alat kelamin betina dengan bantuan alat yang disebut " Insemination gun "Pada Prinsipnya Inseminasi buatan pada sapi adalah proses untuk mencapai adanya pembuahan ( fertillisasi ) yang terjadi pada sel telur ( Ovum) yang berada di dalam rahim oleh sel kelamin jantan ( Spermatozoa ) sehingga mengakibatkan terjadinya kebuntingan pada ternak betinaee.C. Maksud dan Tujuan Inseminasi Buatan,- Adapun Maksud dan tujuan dari Inseminasi Buatan ( IB ) adalah untuk mengaplikasikan teknologi reproduksi yang pada saat ini telah menunjukan adanya keberhasilan meningkatkan populasi ternak sapi dengan cara yang sangat mutakhir , efektif dan efisien.Inseminasi buatan memerlukan tenaga ahli ( skil labour ) yaitu yang disebut Inseminator. Ternak sapi akan memperoleh keturunan dengan cara perkawinan IB adalah suatu akselerasi yang dipandang tepat dan cepat. Oleh karena itu diperlukan adanya sarana dan prasarana teknologi yang memadai agar tercapai swasembada daging sapi khususnya dan perkembangan populasi ternak sapi pada umumnya. Tekhnik Inseminasi Buatan ini tidak semata mata untuk meningkatkan populasi ternak sapi tetapi juga untuk memperbaiki mutu genetic dari ternak sapi Di samping itu dengan adanya inseminasi buatan akan mengoptimalkan mutu genetic pejantan yang dianggap mempunyai performan yang unggul. D. Permasalahan Inseminasi Buatan,- Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh petani ternak sehubungan dengan cara perkawinan melalui Inseminasi Buatan (IB) :1. Jangkauan antara pos IB dengan peternak jaraknya cukup jauh.2. Pada umumnya peternak mengawinkan ternaknya dengan cara kawin alam.3. Sistem pemeliharaan ternak sapi masih tradisional4. Peternak belum memperhatikan aspek Genetika, penyakit kelamin, kesehatan ternak dan karakteristik dari ternak sapi yang dipeliharanya.5. Peternak cenderung memelihara sapi jantan untuk digemukan E. Pelaksanaan Inseminasi Buatan Tahapan pelaksanaan IB yang dilakukan Inseminator sebagai berikut :- Pengambilan mani beku ( strow ) dari container dengan menggunakan penjepit- Masukan strow kedalam air yang bersuhu 37 derajat Celcius- Strow diambil dan dikeringkan dengan tissue- Kemudian strow dimasukan kedalam Gun, dan bagian yang mencuat dipotong dengan gunting yang steril.- Setelah itu plastic sheath dipasang menyelimuti Gun yang sudah berisi mani bku (strow)- Sapi betina yang akan dikawinkan dimasukan kedalam kandang jepit dan ekor diikat- Petugas IB memakai sarung tangan di tangan kiri yang akan dimasukan kelubang dubur ( rectum ).- Tangan kiri petugas IB dimasukan ke lubang dubur ( rktum ) sampai menjangkau dan memegang leher rahim ( servix ) , jika rectum banyak tinjanya maka tinja dikeluarkan lebih dahulu. - Tangan kanan memegang gun yang sudah berisi mani beku dan kemudian dimasukan kealat kelamin betina sampai ke badan uterus ( posisi 4) kemudian mani beku disemprotkan dngan cara menekan kateter yang ada di Gun.- Keluarkan Gun dari alat kelamin betina secara perlahan lahan. - Cucilah tangan dan peralatan dengan sabun antiseptic.- Insminator mencatat tanggal mengawinkan pada buku catatan IB F. Evaluasi Pelaksanaan IB Setelah Inseminasi Buatan dilaksanakan makauntuk selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap sapi betina yang telah di kawinkan dengan cara IB. Hal hal yang perlu diamati antara lain ; jika sapi tersebut menunjukan karakteristik yang tenang maka sapi tersebut bunting, dan jika sapi tersebut menunjukan tanda tanda birahi maka perkawinan tersebut gagal, dan perlu di ulang. Jika sapi dianggap bunting maka dilakukan pemeriksaan kebuntingan oleh petugas IB. Tanda tanda sapi bunting antara lain : pada bagian uterus terdapat benjolan sebesar jengkol .Hal hal yang mempengaruhi kebuntingan antara lain ;- Pelaksanaan IB sudah melewati waktu birahi- Adana kontraksi uterus / rahim yang berusaha mengeluarkan cairan yang masuk ke rahim.- Pelaporan peternak kepada petugas IB dalam mendeteksi birahi tidak tepat dan tidak cepat.- Sel kelamin jantan di dalam rahim mati sebelum terjadi pembuahan ( Fertilisasi )- Sapi betina yang di IB ternyata majir / mandul .Untuk mempermudah dan mengetahui tentang keberhasilan IB perlu dilakukan pencatatan mengenai tanggal pelaksanaan IB, tanggal pemeriksaan kebuntingan, kode strow, nama pejantan yang dipakai untuk IB,berapa kali kawin sampai terjadi bunting,tanggal melahirkan. Dan kejadian lain yang terjadi pada sapi betina tersebut. G. Kesimpulan Untuk menunjang terhadap keberhasilan program Inseminasi Buatan hendaknya peternak dan petugas IB saling komunikasi secara berkesinambungan sehingga peternak dapat mengakses program IB dan bagi petugas IB dapat melayani semaksimal mungkin. Inseminasi buatan memerlukan kecermatan dan persiapan yang matang baik pihak peternak maupun petugas IB. Keberhasilan IB juga didukung adanya pemeliharaan sapi yang intensif serta didukung sarana dan prasarana teknologi, administrasi dan kepercayaan dari masyarakat khususnya peternak sapi. Untuk meningkatkan populasi ternak sapi tidak lepasdari aspek kesehatan ternak betina sebagai penerus keturunan dan kualitas sserta mutu genetic semen / mani beku yang tersedia untuk dikembangbiakan. Pada umumnya ternak sapi yang dipelihara adalah jenis sapi potong local dan ada beberapa yang memelihara sapi potong unggul.