Kebutuhan akan hewan, khususnya hewan ternak semakin meningkat sebagai konsekuensi pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan kualitas hidup. Peningkatan kebutuhan akan sapi, misalnya, ditandai dengan meningkatnya impor sapi potong, daging beku. Adapun kebutuhan akan kambing semakin tinggi dengan terbukanya pasar di dalam maupun di luar negeri karena harganya lebih murah dari sapi. Pemasalahan umum yang dihadapi usaha peternakan kambing adalah masih rendahnya produktifitas ternak di peternakan rakyat di pedesaan. Pengadaan bibit ternak secara tradisional memerlukan waktu yang relatif lama, kualitas anakan yang dihasilkan kurang terjamin, dan jumlah produksi yang terbatas. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu teknologi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu teknologi lama yang masih relevan saat ini adalah Inseminasi Buatan (IB). Inseminasi Buatan (IB) merupakan salah satu teknologi dibidang reproduksi untuk mengawinkan ternak dengan menggunakan bibit unggul dalam rangka meningkatkan daya produksi ternak melalui perbaikan mutu genetik. IB pada dasarnya digunakan untuk efisiensi pejantan unggul yaitu untuk mendapatkan keturunan yang lebih banyak memiliki warisan genetik unggul dari pejantan tersebut. Salah satu keuntungan terbesar dari penggunaan IB adalah memanfaatkan pejantan bernilai genetik tinggi untuk inseminasi lebih banyak betina dibandingkan pada kawin alam. Teknologi inseminasi buatan pada temak kambing bermanfaat untuk meningkatkan kinerja reproduksi kambing khususnya untuk mempersingkat jarak dan jumlah kelahiran anak, disisi lain dengan teknologi IB, maka penyediaan pejantan unggul sebagai bibit akan lebih efisien. Inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara untuk memasukkan mani (spermatozoa atau semen) ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut insemination gun. Untuk meningkatkan efisiensi reproduksi ternak melalui teknik IB, dipcrlukan pengetahuan mengcnai saat yang tepat untuk inseminasi karena menyangkul beberapa segi, antara lain : (1) berhubungan dengan dosis inseminasi yang diperkecil; (2) tempat deposisi semen:, dan (3) pada perkawinan alam, kopulasi dapat tcrjadi beberapa kali, sedangkan inseminasi hanya satu kali. Oleh karena itu waktu yang optimum untuk melakukan inseminasi merupakan faktor penting yang hams diperhatikan. Waktu optimum untuk melakukan inseminasi harus diperhitungkan dengan terjadinya berahi dan ovulasi.Dalam pelaksanaannya perlu dilakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:1. Pemberian pakan konsentrat dengan kadar protein kasar 16 % sebanyak 0,5 kg/hari/ekor pacla kambing induk selama kurang lebih sebulan sebelum dilakukan inseminasi. Inibertujuan agar ternak mendapatkan gizi yang lebih untuk mempersiapkan alat reproduksi,sehingga pada saat inseminasi ovarium mampu menghasilkan sel telur yang siap untuk dibuahi.2. Penyerentakan birahi merupakan suatu usaha manusia untuk mengendalikan berahi pada sekelompok temak/hewan betina dengan harapan betina-betina tersebut birahi dalam waktu yang relatif bersamaan. Gertak birahi {sinkronisasai estms) dilakukan dengan pemberian/penyuntikan hormon prostaglandin (PGF2ot)secara intra musculer. Metode ini bertujuan agar secara bersamaan induk-induk birahi, sehingga dalam waktu yang bersamaan dapat dilakukan inseminasi pada induk-induk birahi tersebut. Pemberian hormon tersebut akan memberikan hasil yang efektif bila dilakukan secara ganda dengan jarak pemberiaan antara 10 - 12 hari dengan konsentrasi 0,5 ml/ekor.3. Koleksi dan pengenceran semen.Kualitas semen kambing setelah penampungan yaitu volume ejakulat 0,5-3,0 ml, warna putih keabu-abuan sampai krem, konsistensi kental dengan konsentrasi spermatozoa 2,5-5 xlO9 per ml, angka motilitas 70-90% dan morphologi spermatozoa normal 70-90%. Terjadinya fertilitas yang tinggi sehingga menghasilkan kebuntingan, dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya kesuburan pejantan, yaitu kualitas semen untuk keperluan inseminasi berupa motilitas dan daya hidup spermatozoa. Motilitas spermatozoa dijadikan patokan utama untuk penilaian kualitas semen beku. Semen dari pejantan unggul yang digunakan sebagai donor dikoleksi dengan menggunakan vagina buatan. Sebelum digunakan untuk inseminasi terlebih dahulu diencerkan dengan bahan pengencer yang terdiri dari glukosa sitrat dan kuning telur 10 %. Larutan bahan pengencer glukosa citrat dibuat dengan komposisi Na citrat 2 H2O 5,6 gram dan glukosa 5,7 gram dilarutkan kedalam 200 ml H2O. Penambahan Streptomycin 1 mg/ml pengencer. Perbandingan semen dan bahan pengencer sebesar 1 : 10 apabila gerakan sperma/molilitas (+), 1 : 15 apabila gerakan sperma/motilitas (++) dan 1 : 20 apabila gerakan sperma/motilitas (+++) selanjutnya siap untuk diinseminasi atau disimpan pada suhu 5 0 C selama maksimal tujuh had. Semen yang telah diencerkan tersebut diinseminasikan dengan dosis 0,2 - 0,5 ml. 4. Pelaksanaan inseminasi. Inseminasi dilaksanakan pada waktu ternak kambing sudah menunjukkan birahi biasanya tiga had setelah pemberian hormon. Semen yang telah diencerkan dengan bahan pengencer diinseminasikan. Suksesnya pelaksanaan program inseminasi buatan tergantung pada banyak faktor di antaranya : (1) kesuburan temak betina; (2) kesuburan ternak pejantan; (3) teknik inseminasi; (4) keterampilan inseminator; dan (5) faktor penentu Iainnya. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM) Sumber : 1. Departemen Pertanian Provinsi D.I. Yogyakarta. Metode Inseminasi Buatan Pada Ternak Kambing Ditinjau Dari Waktu Pelaksanaan (yogya.litbang.pertanian, diakses pada 15 Agustus 2016)2. Said, Syahruddin. 2015. Pembibitan Ternak Dengan Teknologi Inseminasi Buatan Jakarta : Penebar Swadaya (https://books.google.co.id/, diakses pada 15 Agustus 2016)3. Sofyandi, Fian. 2000. Skirpsi : Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan Intrauterine Pada Kambing Kacang Dengan Semen Beku Kambing Boer. (http://repository.ipb.ac.id diakses pada 15 Agustus 2016)