Loading...

INTEGRASI TANAMAN DENGAN SAPI LOKAL

INTEGRASI TANAMAN DENGAN SAPI LOKAL
Sapi adalah salah satu hewan ternak yang multi guna dan paling banyak dibudidayakan terutama di kalangan petani. Sapi dipelihara terutama untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai bahan pangan. Hasil sampingan, seperti kulit, jeroan, tanduk, dan kotorannya juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Di sejumlah tempat, sapi juga dipakai sebagai penggerak alat transportasi, pengolahan lahan tanam (bajak), dan alat industri lain (seperti penggilingan tebu). Atas dasar inilah sapi telah menjadi bagian dari berbagai kebudayaan manusia sejak lama.Di Indonesia sendiri sudah dibudidayakan berbagai jenis sapi baik yang berasal dari luar atau hasil perkawinan silang maupun asli dari dalam negeri. Salah satu diantaranya dan banyak dipelihara masyarakat khususnya petani adalah sapi lokal. Sapi lokal yang sudah banyak berkembang di Indonesia mempunyai beberapa keistimewaan. Diantaranya adalah : (i)reproduktivitas tinggi karena mampu menghasilkan anak setiap tahun dalam kondisi pakan terbatas, (ii)masa produktif yang panjang karena dapat beranak lebih dari sepuluh kali sepanjang hidupnya bila dipelihara dengan baik, (iii)kualitas karkas dan daging sangat bagus, sehingga harganya lebih mahal dari impor, serta (iv)dapat dipelihara secara intensif maupun ekstensif. Selain itu, sapi lokal juga memiliki beberapa kekurangan yaitu kurang responsif bila memperoleh pakan prima, dan bobot potongnya relatif kecil dibanding sapi tipe besar dari jenis Bos Taurus atau sapi silangan hasil IB. Keistimewaan dan kekurangan tersebut ternyata merupakan kekuatan atau potensi tersendiri bila usaha perkembangbiakan sapi lokal diusahakan melalui pola terpadu atau crop live-stock system (CLS) dengan memanfaatkan limbah pertanian atau perkebunan.Hasil kajian menunjukkan bahwa sapi lokal yang diusahakan secara terintegrasi di perkebunan kelapa sawit ternyata mampu berkembang biak dengan baik. Bahkan, sistem integrasi yang disebut SISKA (sistem integrasi sapi di kebun sawit Agricinal) ini mampu memberikan keuntungan ekonomi untuk pengusaha kebun (inti), pekebun yang memanen tandan buah segar (TBS), serta ramah lingkungan. Keistimewaan sapi lokal dalam SISKA ini adalah: (i)ukuran tubuh kecil sehingga mudah dikendalikan pekebun untuk mengangkut TBS, (ii)cukup produktif walau dimanfaatkan sebagai tenaga kerja ternak, karena tetap mampu berkembang biak, (iii)mampu memanfaatkan biomasa yang berserakan di kebun sebagai sumber pakan utama, dan (iv)harganya relatif murah dibanding sapi tipe besar, sehingga modal yang diperlukan menjadi relatif kecil.Di Jawa, Madura, dan Bali, sapi lokal biasanya dikembangbiakkan secara terintegrasi dengan tanaman padi. CLS seperti ini biasa disebut dengan system integrasi padi-ternak (SIPT), dimana sumber pakan utama untuk kebutuhan pokok berasal dari jerami dan dedak kasar. Ternak yang digunakan dalam sistem ini biasanya sapi PO, karena daya reproduksinya sangat bagus. Sapi PO yang dipelihara dengan mengandalkan jerami dan dedak kasar mampu berkembangbiak dengan tingkat mortalitas rendah. Akan tetapi sebagai akibat program IB yang sangat masif, saat ini populasi sapi PO sudah semakin menurun di beberapa kawasan di Jawa, dan diperkirakan tinggal 30 persen saja. Oleh karena itu diperlukan pengaturan distribusi semen beku. Ciri utama integrasi ternak-tanaman adalah adanya sinergisme atau keterkaitan yang saling menguntungkan antara ternak dan tanaman. Petani memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk tanamannya, kemudian limbah pertanian sebagai pakan ternak.Integrasi Ternak-Padi. Usaha tani padi yang pengelolaannya dipadukan dengan ternak atau dengan menggunakan pupuk kandang mampu berproduksi sekitar 6,9-8,8% lebih tinggi dibanding usaha tani padi yang dikelola secara parsial tanpa menggunakan pupuk kandang. Dari sisi biaya, usaha tani yang dikelola secara terintegrasi membutuhkan biaya pupuk anorganik lebih rendah dibandingkan dengan usaha tani yang dikelola secara parsial. Dari aspek permintaan, tren pasar menunjukkan bahwa konsumen lebih suka memilih produk-produk pertanian organik. Sedangkan dari penghematan devisa, sistem integrasi ini diharapkan dapat mengurangi biaya subsidi pupuk yang diberikan kepada petani.Integrasi Ternak–Kelapa Sawit. Pengembangan program integrasi kelapa sawit-sapi mempunyai peluang yang sangat prospektif. Di dalam pola integrasi ini, tanaman kelapa sawit sebagai komponen utama sedangkan ternak sebagai komponen pelengkap. Limbah kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan oleh ternak sebagai pakan adalah pelepah sawit, lumpur sawit, dan bungkil inti sawit. Disamping memanfaatkan limbah hasil kelapa sawit, sapi yang diintegrasikan dengan kelapa sawit juga bisa memakan gulma yang berada di sekitar perkebunan kelapa sawit. Untuk menunjang keberhasilan sistem integrasi ternak dengan perkebunan kelapa sawit, dibutuhkan dukungan teknologi tepat guna. Disamping itu ternak sapi yang diintegrasikan dengan kelapa sawit juga bisa dimanfaatkan sebagai penarik gerobak maupun pengangkut hasil panenan tandan buah sawit. Kotoran sapi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, yang mana pada akhirnya bisa menghemat biaya produksi. (Inang Sariati) Sumber:1. Integrasi ternak dengan tanaman, Balai Peneltian Ternak Ciawi2. https://www.google.co.id/search?q=integrasi+sapi+tanaman