Loading...

INTEGRASI TERNAK DAN TANAMAN KOPI

INTEGRASI TERNAK DAN TANAMAN KOPI
Integrasi ternak dalam usaha tani adalah menempatkan dan mengusahakan sejumlah ternak ruminansia di areal tanaman tanpa mengurangi aktivitas dan produktivitas tanaman bahkan keberadaan ternak dapat meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus meningkatkan produksi/ bermanfaat bagi ternak itu sendiri. Ciri utama model pertanian tekno-ekologis adalah adanya integrasi antarkomoditas (spesies) di dalam pemanfaalan zat-zat makanan. Secara teoritis, adanya integrasi dalam usaha tani menciptakan efisiensi dalam penggunaan lahan. air. dan sarana produksi. serta dalam langkah-langkah adaptasi maupun mitigasi. Secara ekonomi. model ini lebih menjanjikan dibandingkan dengan model pertanian monokultur. Delapan keuntungan penerapan sistem tanaman-ternak yaitu: (1) diversifikasi penggunaan sumberdaya produksi, (2) mengurangi risiko, (3) efisiensi penggunaan tenaga kerja, (4) efisiensi penggunaan komponen produksi, (5) mengurangi ketergan-tungan energi kimia dan energi biologi serta masukan sumberdaya lainnya dari luar, (6) sistem ekologi lebih lestari dan tidak menimbulkan polusi sehingga melindungi lingkungan hidup, (7) meningkatkan output dan (8) mengembangkan rumah tangga petani menjadi lebih stabil. Integrasi antara tanaman dan ternak dapat diaplikasikan di wilayah agroekosistem komoditas tanaman pangan (padi dan palawija) dan wilayah agroekosistem tanaman perkebunan. Salah satu tanaman perkebunan yang dapat diintegrasi dengan ternak adalah tanaman kopi. Kopi merupakan salah satu hasil komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting sebagai sumber devisa negara. Kopi tidak hanya berperan penting sebagai sumber devisa melainkan juga merupakan sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Perkebunan kopi yang luas juga memberikan manfaat bagi sektor peternakan. Ternak yang diintegrasikan dengan tanaman kopi mampu memanfaatkan produk ikutan dan produk samping tanaman (sisa-sisa hasil tanaman) untuk pakan ternak dan sebaliknya ternak dapat menyediakan bahan baku pupuk organik sebagai sumber hara yang dibutuhkan tanaman kopi. Integrasi tanaman kopi dengan ternak diharapkan akan mengurangi biaya produksi usahatani tanaman kopi maupun biaya usaha ternak karena tersedianya bahan pakan bagi ternak dan tersedianya sumber pupuk bagi tanaman kopi. Disamping menghasilkan produk utama berupa biji kopi, kopi juga memiliki produk samping antara lain limbah yang memiliki nilai ekonomi sebagai pakan penguat (konsentrat) ternak yaitu kulit buah kopi. Dari produksi kopi, akan menghasilkan limbah kulit kopi yang besarnya tergantung dari cara pemetikannya (panen). Bila dipetik merah (matang), maka akan dihasilkan limbah sebesar 45 % dari bobot utuh terdiri dari 10 % kulit dalam dan 35% kulit luar. Bila dipetik hijau akan dihasilkan limbah sebesar 21,5% merupakan campuran kulit dalam dan kulit luar. Hasil analisis di dalam salah satu penelitian, kulit buah kopi mengandung protein kasar 10.78% dan serat kasar 33.13%. Disamping itu kulit buah kopi mengandung lignin 24.67% dan selulosa 20.22% Pemanfaatan limbah kopi sebagai bahan pakan ternak merupakan alternatif dalam meningkatkan ketersediaan bahan baku penyusun ransum. Limbah kopi yang difermentasi dengan Aspergillus niger mampu meningkatkan kadar protein sehingga bisa digunakan sebagai substitusi dedak padi pada pakan ternak. Namun demikian penggunaan kulit buah kopi sebagai pakan ternak masih terbatas. Sebagian juga kulit kopi dibenamkan dalam tanah untuk digunakan sebagai pupuk organik pada lahan perkebunan.Ternak manghasilkan kotoran yang sangat berguna untuk membantu menyuburkan tanaman kopi petani. Sehingga biaya usahatani kopi, khususnya biaya untuk membeli pupuk bisa dihemat. Ternak yang diusahakan di areal pertanaman akan menghasilkan kotoran (feces dan urine) yang dapat diolah menjadi pupuk organik baik pupuk padat maupun cair dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman kopi. Pupuk organik padat atau kompos diproduksi dari limbah ternak padat yakni dari kotoran (feces) sedangkan pupuk organik cair diproduksi dari limbah cair (urine) serta limbah padat yang dicairkan. Pupuk organik cair dapat dibuat dari urine (kencing) ternak, atau campuran kencing dan feces ternak yang dicairkan. Hasil kajian dengan menggunakan pupuk dari kotoran ternak kambing yang telah dibuat kompos dengan bantuan cacing atau Rummino Bacillus (RB), dapat meningkatkan produktivitas buah kopi menjadi 900 kg/ha dari sebclumnya hanya 500 kg. Selain itu dengan penggunaan pupuk organik dari kotoran ternak dapat memperbaiki sifak fisik dan kimia tanah sehingga kesuburan tanah meningkat.Dengan demikian dapat disimpulkan integrasi ternak dengan kopi memberikan dampak positif. Pertama, efisiensi usahatani menjadi meningkat. Dengan digunakannya limbah pertanian (kulit buah kopi) untuk pakan dan limbah ternak untuk pupuk kompos; Kedua, sistem integrasi ini dapat menjawab masalah yang sedang dihadapi petani kopi saat ini, apabila terpuruknya harga kopi yang mengakibatkan pendapatan petani kopi turun drastis; Ketiga dengan mengintegrasikan ternak dan tanaman kopi, petani kopi memiliki sumber pendapatan baru dari usaha ternak ruminansia yang tadinya pendapatannya hanya bersumber dari tanaman kopi saja; Keempat dalam keadaan harga kopi yang terus menurun, sistem integrasi ini sangat mendukung kebijakan Pemda setempat dalam sehingga tanaman kopi petani tidak dikonversi dengan tanaman lain; Kelima sistem integrasi ini mendorong penggunaan sumbcedaya lahan menjadi lebih optimal. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM) Sumber : 1. Muryanto,dkk. Integrasi Ternak Sapi dengan Tanaman Kopi (jateng.litbang.pertanian.go.id, diakses 27 Juli 2016)2. Sudana, Wayan. BPPTP Bogor : Evaluasi Kinerja Diseminasi Teknologi Integrasi Ternak Kambing Dan Kopi Di Bongancina, Bali http://download.portalgaruda.org/, diakses 20 Agustus 2016)3. Winarso, Bambang & Edi Basuno. 2013. Jurnal Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian : Pengembangan Pola Integrasi Tanaman-Ternak Merupakan Bagian Upaya Mendukung Usaha Pembibitan Sapi Potong Dalam Negeri (http://www.academia.edu/, diakses 27 Juli 2016)