Air sering menjadi faktor pembatas dalam usaha produksi pertanian. Kekurangan air akan menyebabkan penurunan produksi dan kualitas produksi. Pengaturan air yang tepat yang didukung dengan pemupukan yang juga tepat, akan diperoleh produk hasil pertanaian yang maksimal baik kualitas maupun kuantitas. Air berbeda dengan input lainnya dalam sistem produksi tanaman, air harus diberikan selama periode tumbuh tanaman. Air tidak dapat diproduksi, sehingga harus diperoleh di lahan produksi. Air harus dikelola sebaik mungkin agar dapat memberikan manfaat secara maksimal. Pengelolaan air meliputi pengembangan sumber daya air, penentuan kebutuhan air dan pemilihan sistem irigasi yang tepat. Pengembangan sumber daya air meliputi pengembangan sumber daya air hujan, air bumi dan air permukaan. Pengembangan sumber daya air dapat dilakukan dengan pompanisasi.Kementerian Pertanian dalam hal ini Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian mengadakan suatu program untuk mendukung pengelolaan sumber daya air. Program tersebut adalah "Pengembangan Irigasi Perpompaan Direktorat irigasi Poertanian", dan salah satu penerima manfaat program tersebut adalah Kelompok Tani Ngudi Rejeki II, Desa Kemusu Kecamatan Kemusu Kabupaten Boyolali. Lahan pertanian Kelompok Tani Ngudi Rejeki II sebagian besar adalah lahan sawah tadah hujan. Pola tanam yang sering diterapkan adalah padi-padi-palawija atau padi-padi-bero. Topografi lahan yang tidak rata menyebabkan air mengalami aliran permukaan yang cepat, sehingga lahan sawah cepat kehilangan air. Karena lahan tadah hujan, untuk pemenuhan kebutuhan air sangat dipengaruhi curah hujan dan lamanya musim hujan. Apabila musim hujan lebih lama maka panen dapat optimal dan di musim tanam ke-3 dapat bertanam palawija. Namun bila sebaliknya, bila musim hujan pendek maka di musim tanam ke-3 tidak dapat bercocok tanam, bahkan kadang tanaman padi musim tanam ke-2 banyak yang gagal panen. Menyikapi hal tersebut, pengurus Kelompok Tani Ngudi Rejeki II bersama Penyuluh Pertanian setempat berusaha mencari informasi program yang dapat mendukung, sampai akhirnya Programn Pengembangan Irigasi Perpompaan dapat dilaksanakan disana.Irigasi Perpompaan di desa Kemusu memanfaatkan sumber air permukaan yang berasal dari sungai Serang. Air sungai Serang tidak pernah kering sepanjang tahun meskipun di musim kemarau panjang. Sungai Serang adalah sungai utama yang dibendung di Waduk Kedung Ombo. Karena lokasi sungai Serang yang curam, maka diperlukan mesin pompa dengan daya yang besar untuk dapat mengalirkan air sampai ke lahan. Sistem yang dipakai adalah, air sungai dipompa dialirkan ke bak penampungan, dari bak penampungan baru dialirkan ke sawah milik petani. Karena lokasi lahan sawah di dataran yang tinggi maka bak penampungan diletakkan di areal yang paling tinggi sehingga memudahkan bila akan dialirkan ke sawah petani. Jarak penampungan dari rumah mesin pompa cukup jauh sekitar 300 m dan poisisi agak.menanjak. Agar dapat sampai ke penampungan digunakan mesin disel dengan kapasitas 24 PK. Pipa yang digunakan sebesar 4 inc. Ukuran bak penampungan 8 m x 6 m x 80 cm m. Untuk sawah-sawah yang dekat dengan bak penampungan dapat langsung dialiri sedang yang jauh diperlukan pompa air lagi. Irigasi Perpompaan ini mampu mencukupi kebutuhan air lahan seluas 70 ha.Dalam operasionalnya dibentuk petugas khusus yang mengurusi dan bertanggung jawab dalam urusan pompa ini. Petugas yang ditunjuk disamping seorang yang rajin juga yang mempunyai pengetahuan tentang mesin disel sehingga dapat merawat dengan baik, paling tidak perawatan rutin seperti ganti oli tidak sampai terlambat. Dengan adanya irigasi perpompaan ini, diharapkan mampu menaikan provitas tanaman, baik tanaman padi maupun palawija. Musim tanam ke-2 yang selalu bikin was was petani karena terancam gagal panen sekarang telah dapat diatasi. Bahwa di musim tanam ke-3, petani dapat berbudi daya dengan tanaman palawija seperti jagung dan kedelai. Kemusu dahulu dikenal sebagai produsen kedelai, namun akhir-akhir ini panen sering tidak memuaskan karena kekeringan. Dengan adanya Irigasi Perpompaan, maka panen dapat dinikmati dan produktivitas dapat meningkat. Penulis : DWI PRASTYONO, SP PENYULUH PERTANIAN KECAMATAN KEMUSU Referensi :1. Makalah "Water Management in vegetable Production", Dr. Ir. Eko Sulistyono2. Wawancara di lapangan