Jamur-jamur penting pasca panen yang menginfeksi biji padi (gabah yaitu: Foot Rot (Fusarium moniliforme), Alternaria oryzae, Culvularia lunata, Brown spot (H. oryzae), blast Disese (Pyricularia oryzae. 1. Foot rot (Fusarium moniliforme): Penyakit ini berkembang baik pada suhu 25°C-30°C. Infeksinya lewat biji atau tanah, tetapi infeksi lewat biji lebih penting. Bila serangan berat, penyakit ini dapat menyerang embrio. Biji yang terinfeksi jamur ini akan berwarna coklat muda sampai coklat tua, disamping itu juga terlihat adanya tanda yang menyerupai kapas dengan warna abu-abu. Usaha pengendalian penyakit foot rot dilakukan dengan menyeleksi biji dari tanaman yang bebas pathogen dan hal ini merupakan cara terbaik. Selain itu juga dapat dilakukan dengan perlakuan biji dengan air hangat (56°C). Fungisida yang bersifat sistemik juga dapat diberikan, mengingat infeksi jamur tersebut dapat mencapai embrio. 2. Alternaria oryzae: Jamur ini menyerang gabah sebelum panen, namun juga ditemukan pada gabah setelah panen. Jamur alternaria yang menginfeksi gabah lebih dominan dari jamur-jamur lainnya seperti Culvularia, Fusarium, Dreschlera. Cara pengendalian serangan pathogen Alternaria dapat dilakukan dengan seleksi biji sebelum ditanam (benih sehat) dan dilakukan perlakuan biji dengan air hangat maupun dengan fungisida Dithane 45(0,3% dari berat biji)3. Curvularia lunata: Jamur ini pada pertanaman padi dapat menyebabkan bercak daun, busuk biji (kernel rot), busuk akar (root rot), perubahan warna biji (grain dicolourations), bercak pada biji (grain lesions dan biji mengalami deformasi (grain deformations). Jamur ini menyerang pada gabah berkisar antara 0,3-24,8%, namun pada umumnya berkisar antara 3,8-10,0%, sedang dari penelitian Siti Rasminah Chailani (1989) infeksi rata-rata Curvularia lunata di gudang penyimpanan adalah 0,50%. 4. Brown spot (H. oryzae): Infeksi terjadi pada biji dan bulir, kadang-kadang bulir kelihatan sehat, tetapi telah terjadi infeksi laten. Pengendalian dilakukan dengan perlakuan benih 2,5% dengan Ceresan, dengan mempergunakan 0,3% dari berat biji dengan Dithane 745. 5. Blast Diseases (Pyricularia oryzae): Penyakit ini sangat penting pada tanaman padi. Penyerangan terjadi pada biji pasca panen dan biji-biji yang terdapat pada bulir yang terinfeksi. Gejala khas dari penyakit ini yaitu ujung tangkai bulir menjadi busuk dan umum disebut "neck rot". Keadaan ini menyebabkan semua biji menjadi hampa. Pada biji padi (gabah) yang terserang terjadi becak-bercak kecil yang bulat. Penyebab penyakit blast adalah jamur Pyricularia oryzae Cav. Konidiofor dari jamur P.oryzae bersekat-sekat, dan tidak bercabang, berwarna kelabu, membentuk konidia pada ujung kondiofor. Penularan penyakit P. oryzae dengan konidia yang disebarkan oleh angin. Penyebab penyakit ini dapat bertahan hidup pada biji-bji dan jerami (plant debrish), dalam bentuk hifa maupun konidia.Jamur P.oryzae juga dapat mempertahankan diri dapa inang lain seperti Panicum repens L. dan rumput gajah (Pennisitum purpureum). Faktor-faktor yang berrpengaruh terhadap perkembangan infeksi meliputi: a. Faktor predisposisi pada host yang terdiri dari faktor 1) nutrisi N,P dan K. Kelebihan nitrogen dan kekurangan air akan menambah kepekaan tanaman, demikian juga kalau terjadi kekurangan atau kelebihan P dan K. Difisiensi P juga akan berpengaruh terhadap infeksi P. oryzae. Pemberian N,P dan K dengan level yang tinggi, baik diberikan sendiri-sendiri maupun digabung akan meningkatkan infeksi; 2) faktor umur; 3) Faktor meteorologi.b. Patogen: Penyebaran spora patogen sangat ditentukan oleh musim dan faktor yang cocok untuk penyebaran infeksi. Spora P. oryzae disebarkan pada malam hari, sebab kondisi kelembaban sangat cocok untuk penetrasi.Pengendalian penyakit blast dapat dilakukan dengan: a) Pemuliaan, untuk mendapatkan varietas yang yang tahan terhadap P.oryzae; b) Pemberian senyawa kimia misalnya perlakuan biji dengan caresan (57 gr per kuintak biji) dan Copper Seed Dressing (1 kg per 100 kg biji); c) dengan cara bercocok tanam.6. Gangguan Pasca panen pada biji padi (Gabah, khususnya di tempat penyimpanan).Pada gabah yang disimpan, selain 4 macam jamur lapang yaitu Alternearia, Cuvularia, Dreschlera dan Fusarium, juga didapatkan empat marga jamur simpanan yaitu: Penicillium, Aspergilli]us, Rhizopus dan Mucor. Dari jenis-jenis jamur yang didapat, jamur Alternaria adalah yang paling dominan, selanjutnya diikuti jamur simpanan yaitu Aspergillus dan Penicillium. Jamur Penicillium citrinum mempunyai potensi yang berbahaya mengingat pengaruh racun yang dikandungnya, sedangkan 3 jenis lain yang ditemukan yaitu A. Fumigtus, P. fumiculosum dan M. muccedo merupakan jamur yang belum pernah diidentifikasi sampai jenis. Perbedaan jenis dan prosentase serangan jamur disebabkan oleh kondisi lingkungan yang berbeda khususnya curah hujan pada waktu panen. Jamur yang menginfeksi biji padi (gabah) sebelum panen akan tetap terbawa sampai biji itu dipanen. Jamur yang menginfeksi gabah sesudah panen dapat terjadi karena tercampurnya gabah tersebut dengan sisa-sisa tanaman dan dengan biji-biji rerumputan maupun gabah hampa yang merupakan sumber kontaminan. Demikian juga gabah dapat terkontaminasi di tempat penyimpanan atau di tempat pengolahan, sedang pada beras, jamur-jamur khususnya jamur simpanan baru menginfeksi beras sebelum disimpan di tempat pengolahan maupun penyimpanan. Butir gabah maupun beras di gudang banyak terinfeksi oleh jamur dari marga Alteria, Aspergillus, Rhizopus, Penicillium dan Mucor. Jamur Alternaria yang menginfeksi gabah lebih dominan dibandingkan dengan jamur lainnya. Kurang bersihnya lantai gudang dan alas tumpukan beras dan gabah akan menyebabkan beras dan gabah mudah terkontaminasi oleh jamur yang berasal dari lantai dan alas tersebut. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP, Jakarta).Sumber: Penyakit-penyakit Pasca Panen Tanaman Pangan, oleh Prof. Dr. Ir. Siti Rasminah Chailani.