JARWO VS HAZTON Pemerintah sebagai katalisator memastikan tetap berada di samping petani untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Berbagai macam teknik budidaya padi telah ditawarkan oleh pemerintah untuk membantu petani mewujudkan mimpi tersebut. Namun petanilah yang berhak memutuskan penggunaan tehnik budidaya yang sesuia dengan kondisi lahannya. Beberapa teknik budidaya padi yang sedang “nge trend” saat ini adalah metode Hazton dan sistem Jajar Legowo. Masing-masing teknik ini memiliki kekurangan dan kelebihan. Untuk lebih jelasnya kita akan membahasnya satu persatu. Jajar Legowo Istilah jajar legowo diambil dari bahasa jawa yang secara harfiah tersusun dari kata “lego (lega)” dan “dowo (panjang)” yang secara kebetulan sama dengan nama pejabat yang memperkenalkan cara tanam ini. Sistem tanam jajar legowo atau Jarwo diperkenalkan pertama kali oleh seorang pejabat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Negara Provinsi Jawa Tengah yang bernama Bapak Legowo yang kemudian ditindak lanjuti oleh Peneliti Badan Litbang Pertanian, bapak Sadeli Suriapermana melalui pengkajian dan penelitian sehingga menjadi suatu rekomendasi atau anjuran untuk diterapkan oleh petani dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman padi. Teknik Jarwo ini memodifikasi jarak tanam yang sebelumnya berbentuk tegel dengan jarak 25 x 25, menjadi tepe jarwo 2 : 1 yakni jarak tanam (25x12,5x50) cm. 25 pertama merupakan jarak antar rumpun dalam barisan, 12,5 adalah jarak antar rumpun dibaris pagar dan 50 cm merupakan jarak legowo. Tipe lain dari jarwo adala 4 : 1, atau petani juga terkadang mempraktekan 6 : 1. Tipe 4 : 1 berarti setiap 4 baris kemudian diselang jarwo dengan jarak 50 cm atau menghilangkan satu baris tanaman dan memindahkan tanaman tersebut di barisan pagar. Sekilas dilihat, jajar legowo sepertinya akan mengurangi populasi rumpun karena adanya pengurangan barisan. Namun, jika diperhatikan lebih seksama, jajar legowo justru menambah rumpun populasi tanaman padi disuatu lahan. Populasi dengan tanam tegel 25x25 menghasilkan populasi tanam 160.000 per hektar. Sedangkan penggunaan jarwo 2:1 akan menghasilkan populasi tanaman per ha sebanyak 213.300 Adapun manfaat dan tujuan dari penerapan sistem tanam jajar legowo adalah sebagai berikut : Menambah jumlah populasi tanaman padi sekitar 30 % yang diharapkan akan meningkatkan produksi baik secara makro maupun mikro. Dengan adanya baris kosong akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan, pemupukan dan pengendalian hama penyakit tanaman yaitu dilakukan melalui barisan kosong/lorong. Mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit terutama hama tikus. Pada lahan yang relatif terbuka hama tikus kurang suka tinggal di dalamnya dan dengan lahan yang relatif terbuka kelembaban juga akan menjadi lebih rendah sehingga perkembangan penyakit dapat ditekan. Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian tanaman dalam barisan. Dengan menerapkan sistem tanam jajar legowo akan menambah kemungkinan barisan tanaman untuk mengalami efek tanaman pinggir dengan memanfaatkan sinar matahari secara optimal bagi tanaman yang berada pada barisan pinggir. Semakin banyak intensitas sinar matahari yang mengenai tanaman maka proses metabolisme terutama fotosintesis tanaman yang terjadi di daun akan semakin tinggi sehingga akan didapatkan kualitas tanaman yang baik ditinjau dari segi pertumbuhan dan hasil. Hazton Metode Hazton (hasil berton-ton) adalah salah satu tehnik budidaya padi yang menyeruak ke permukaan pada tahun 2012 dimana metode ini melabrak budaya budidaya yang telah berkembang puluhan tahun yakni dengan menanam 20 – 30 bibit per lubang tanam. Padahal budaya yang telah berkembang lama hanya menanam 3 s/d 5 bibit per lubang tanam. Fokus pencapaian hazton adalah agar padi yang ditanam semuanya menjadi padi indukan yang produktif dan tidak lagi berpusat pada pembentukan anakan. Nama hazton sendiri berasal dari nama penemunya, yakni Ir. H.Hazairin, MS dan Anton Kamarudin, SP., Msi yang mulai diperkenalkan di Kalimantan Barat. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, hazton merupakan modifikasi budaya tanaman padi dengan menanam 20 sampai 30 bibit tanaman. Bibit tanaman yang digunakan adalah bibit tua yang berumur 25-30 hari. Tehnik hazton sangat tepat bagi daerah endemik keong mas, karena dengan penggunaan bibit tua, kerusakan akibat keong mas akan berkurang secara signifikan. Karena penggunaan benih 20-30 bibit pertanam, maka kebutuhab bibit persemaian pun meningkat tajam. Penggunaan benih dengan tehnik hazton mencapai 125 kg per hektar, jauh melampaui teknik budidaya jarwo yang biasa dilakukan hanya mencapai 25 kg/hektar. Keistimewaan tehnik hazton adalah produktivitas yang tinggi karena bibit yang ditanam menjadi bibit indukan dan tanpa mengandalkan jumlah anakan. Namun petani juga harus memperhatikan ancaman penyakit dan hama lainnya. Sejak digulirkan kedua metode tersebut di atas ( Jarwo dan Hazton), berbagai instansi pemerintah melakukan penelitian pembanding produktivitas antara keduanya. Hasilnya pun beragam berbeda dengan wilayah dan kondisi lahan. Ada sebagian mengatakan hazton lebih baik dibandingkan Jarwo, sebagian yang lain mengatakan Jarwo lebih baik dibandingkan hazton. Pihak-pihak yang diuntungkan dengan pemesanan benih, proyek bantuan benih dan pengadaan benih tentu saja sangat mendukung hazton karena tehnik ini akan melipatgandakan pemesanan benih dari petani sehingga melipatgandakan keuntungan mereka. Perbedaan hasil penelitian ini membuktikan bahwa budidaya padi tidak bisa dilakukan secara seragam. Pembuktian mana yang lebih baik dalam meningkatkan produktivitas petani, justru akan membuat petani bingung karena perbedaan pendapat dari para ahli dan pengambil kebijakan. Berikut penjelasan tentang keunggulan dan kelemahan tehnik jarwo maupun hazton. Keunggulan dan kelemahan sistem Jarwo dan metode Hazton Sistem Jarwo Keunggulan Jarwo Populasi/rumpun tanaman akan bertambah sekitar 30%. Seluruh barisan padi berada di pinggir, maka penyinaran matahari optimal Sirkulasi udara akan lebih lancar dan optimal, sehingga mengurangi resiko penyakit akibat jamur dan bakteri yang menghendaki kelembaban tinggi seperti Kresek (Hawar Daun Bakteri). Mudah dalam pemeliharaan khususnya pemupukan, penyiangan, dan perawatan Mengendalikan hama tikus Meningkatkan produktivitas 7 - 15%. Kelemahan Jarwo Pola pikir/mindset petani yang kurang paham, seperti dengan tanam padi jajar legowo 2:1 akan mengurangi jumlah rumpun, padahal sebaliknya; Adanya pemikiran petani bahwa jarak terlalu rapat antar tanaman dapat menurunkan anakan, padahal jarak legowo cukup luas untuk anakan berkembang; Tenaga tanam yang belum bepengalaman, hal ini terjadi karena belum terbiasanya para tenaga tanam. Solusinya dapat dilakukan dengan cara menggunakan caplak khusus legowo, sehingga mempermudah tenaga tanam 2. Metode hazton Keunggulan Hazton Produksi panen tinggi (hasil berlipat) Mudah dalam penanamannya Tanaman cepat beradaptasi/tidak stres setelah tanam. Relatif tahan terhadap hama keong mas dan orong-orong. Sedikit bahkan tidak ada penyulaman Sedikit bahkan tidak ada penyiangan Umur panen lebih cepat (+15 hari) Mutu gabah tinggi (sedikit hampa) Rendemen beras kepala tinggi (prosentase beras pecah rendah) Kelemahan hazton Memerlukan tambahan benih dari biasanya (keperluan benih metode hazton 100-120 kg/ha). Karena tanaman rimbun perlu dikawal dengan agencia hayati (imunisasi padi,penggunaan decomposer/sterilisasi lahan, dan bio fungisida). Perlu pupuk(organik/anorganik) tambahan dari dosis normal/anjuran Dari penjelasan di atas, dalam sudut pandang saya, Jarwo tidak bisa dibandingkan dengan Hazton. Sistem jarwo dan teknik hazton adalah tehnik yang sangat berbeda. Jarwo memodifikasi jarak tanam sedangkan Hazton adalah memodifikasi jumlah bibit yang ditanam. Bahkan, saya terkadang menjumpai petani menggunakan kedua tehnik tersebut. Jarak tanam di atur dengan jarwo dan bibit tanam secara tehnik hazton. Sah-sah saja menurut saya, karena petani meupakan manager dari lahan yang mereka miliki. Kesimpulannya, meskipun kedua tehnik ini sama-sama ingin meningkatkan produktivitas lahan, namun hazton memiliki wilayah yang lebih spesifik endemik keong emas. Wilayah yang tidak terserang keong emas, masih bisa menggunakan tehnik tanam bibit dengan 5 bibit per lubang saja, karena anakan dari bibit yang ditanam tersebut tidak terganggu hama dan akan berkembang baik sesuai varietas yang digunakan. Sedangkan jarwo penggunaannya bisa dilakukan di seluruh Indonesia karena semua tanaman membutuhkan sinar matahari dan jarwo merupakan tehnik yang memberikan efisiensi yang tinggi dalam penyerapan sinar matahari. Hal inilah yang sebaiknya dimengerti oleh petani, sehingga bisa lebih bijak mengeluarkan biaya untuk pembelian benih padi. Demikian sedikit informasi tentang dua tehnik dalam budidaya tanaman padi dengan keunggulan dan kelemahannya. Semoga bermanfaat. Maju terus pertanian indonesia. *) Penulis : Rita Sastriana, S.T.P NIP.19760126 200803 2 001 Penyuluh Pertanian Muda-UPTD Pertanian Kec.Labuapi, Lombok Barat NTB *) dari berbagai sumber