Loading...

JEJAK SANG PENYELAMAT HUTAN

JEJAK SANG PENYELAMAT HUTAN
Sebelah timur laut tepatnya ± 42 Km dari kota Martapura di Desa Mangkauk Kecamatan Pengaron 54 tahun yang lalu lahir seorang anak yang bernama Madroji putra dari Bapak Markuat dan Ibu Liyedun. Madroji kecil sangat akrab dengan lingkungan hutan di sekitar rumahnya, baginya hutan merupakan sumber kehidupan yag memberi banyak manfaat bagi diri,keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Hutan bukan hanya penghasil kayu saja tapi juga penghasil bangan pangan, rempah-rempahan, penyedia air serta lingkungan yang segar bagi kehidupan masyarakat disekitarnya. Kenangan manis Madroji kecil itu ternyata tidak berlangsung lama, karena hutan ditebangi diambil kayunya untuk tujuan komersial, bukan itu saja perusahaan-perusahaan tambang juga ikut memperburuk rusaknya kawasan hutan didesanya. Melihat keadaan tersebut di atas hati Madroji sangat risau, ingin rasanya marah tapi marah kepada siapa, melihat hutan gundul, lahan yang rusak, kesulitan air di musim kemarau dan udara yang panas. Bukan itu saja pada musim hujan lereng-lereng yang diusahakan untuk tanaman semusim tanahnya tergerus oleh aliran air hujan, lapisan tanah yang subur dibawa oleh air ke sungai sehingga air menjadi keruh dan terjadi pendangkalan sungai dan banjir. Sungai Mangkauk yang dulu bersih dan stabil debit airnya baik pada musim kemarau maupun hujan, sekarang terbalik pada musim hujan terjadi banjir dan pada musim kemarau volume airnya sangat sedikit. Pertemuan Pak Madroji dengan Penyuluh Kehutanan pada tahun 1991 bak gayung bersambut, mereka bersepakat untuk memperbaiki alam yang sudah sakit ini. Pak Madroji sadar bahwa niatnya untuk menyelamatkan sumber daya alam itu tidak bisa dilakukan sendiri, akan tetapi perlu dukungan masyarakat sekitarnya, untuk itu pada tahun tersebut dibentuklah Kelompok Tani Alam Subur dimana Pak Madroji terpilih sebagai ketua kelompoknya. Kondisi alam tempat tinggal Pak Madroji adalah pegunungan, dimana pada lereng-lerengnya diusahakan untuk budidaya tanaman semusim tanpa perlakuan apapun sehingga rawan terhadap erosi, disamping itu kondisi alam sekitarnya juga gersang dan gundul. Melihat kenyataan tersebut langkah awal yang dikerjakan Kelompok Tani Alam Subur adalah membuat terasering dengan jenis teras yang paling sederhana dan mudah dibuat yaitu teras gulud sambil menanami lahan-lahan yang gundul dengan pohon-pohonan dibawah bimbingan seorang Penyuluh Kehutanan. Lambat laun dalam kurun waktu 10 tahun usaha yang dilakukan oleh Kelompok Tani Alam Subur dibawah kepemimpin Pak Madroji mulai membuahkan hasil, lahan-lahan mulai hijau, udara mulai kembali segar, mata air mulai timbul. Masyarakat Desa Mangkauk sekarang tidak perlu khawatir lagi terjadinya kelangkaan air di musim kemarau, mata air yang timbul akibat dari hasil penanaman pohon-pohonan dapat untuk mencukupi kebutuhan 40 kepala keluarga di sekitar rumahnya. Untuk meningkatkan kapasitas dirinya dalam melakukan rehabilitasi hutan dan lahan Pak Madroji mengikuti diklat-diklat baik yang diadakan dan dibiayai pemerintah maupun swadaya, dari tahun 1991 sampai sekarang Pak Madroji sudah lebih dari 18 kali mengikuti pendidikan dan latihan diantaranya : diklat perencanaan,monitoring dan evaluasi pada tingkat petani di Simalungun Sumatra Utara, diklat teknik reklamasi tambang, diklat rehabilitasi hutan, diklat ilmu tanah serta masih banyak lagi diklat-diklat yang diikutinya Usaha Kelompok Tani Hutan Alam Subur yang dikepalai oleh Pak Madroji tidak berhenti sebatas merehabilitasi hutan dan lahan akan tetapi berusaha mengintegrasikan antara budidaya kehutanan dan pertanian dalam suatu sistem agroforestry. Di rumahnya Pak Madroji memiliki 3 ekor ternak sapi, hasil kotoran sapi ia manfaatkan untuk membuat biogas untuk keperluan rumah tangga, sedang limbah dari biogas dipergunakan untuk membuat pupuk. Pak Madroji mempunyai unit pengolahan pupuk kandang, selain menggunakan kotoran sapi miliknya ia juga menampung kotoran-kotoran sapi dari masyarakat sekitarnya yang ia beli untuk diproses menjadi pupuk bokhasi. Pupuk bokhasi yang ia hasilkan selain ia pergunakan untuk keperluan sendiri juga ia jual kepada perusahaan-perusahaan tambang untuk keperluan reklamasi dengan harga Rp.4000,-/kg. Dari hasil pengolahan pupuk kandang dan hasil-hasil kehutanan pertanian lainnya sekarang Pak Madroji mempunyai pendapatan tidak kurang dari Rp.5.000.000,- per bulannya. Kepiawaian Pak Madroji dalam merehabilitasi hutan dan lahan telah menarik beberapa perusahaan untuk mengajak bekerjasama baik dalam pembuatan bibit tanaman kehutanan maupun dalam mereklamasi lahan bekas tambang. Kerjasama dengan beberapa perusahaan tambang dan kehutanan diantaranya : Pada tahun 2005 Pak Madroji dengan Kelompok Tani Hutan Alam Subur dipercaya oleh PT.Topas untuk membuat persemaian dengan jenis tanaman jati,mahoni,jabon,gaharu,sungkai,sengon dan mahoni. Dua tahun kemudian dipercaya oleh CV.Mahkota Niaga untuk kerjasama yang sama yaitu pembuatan persemaian dengan jenis angsana, sengon,mahoni,sungkai,gamal dan acasia mangium. Dari kegigihannya dalam menyelamatkan hutan dan lingkungan Pak Madroji dengan kelompok tani hutannya Alam Subur pada tahun 2012 memperoleh penghargaan terbaik I tingkat Provinsi Kalimantan Selatan dalam lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari. Dari perjalan Pak Madroji kita bisa mengambil contoh bahwa apabila kita berbuat baik kepada alam maka alam akan mebalas kebaikan kita yaitu alam yang subur, air yang melimpah serta lingkungan udara yang segar, sehingga apapun yang akan kita tanam akan memberikan hasil yang baik ( hutan lestari untuk kesejahteraan masyarakat ). Penulis : Bambang HermantoPenyuluh Kehutanan PenyeliaBAPELUH KAB.BANJAR