Kebutuhan nasional biji kedelai cukup tinggi, oleh karena itu pada tahun ini pemerintah kita secara serentak di seluruh wilayah Indonesia mencanangkan program peningkatan produksi kedelai. Tanaman kedelai termasuk dalam tanaman perdu. Biji kedelai berkeping dua, terbungkus kulit biji dan tidak mengandung jaringan endosperma. Embrio terletak diantara keping biji. Warna kulit biji kuning, hitam, hijau, coklat. Bentuk biji kedelai umumnya bulat lonjong tetapai ada pula yang bundar atau bulat agak pipih. Biji kedelai yang kering akan berkecambah bila memperoleh air yang cukup. Kecambah kedelai tergolong epigeous, yaitu keping biji muncul diatas tanah. Warna hipokotil, yaitu bagian batang kecambah dibawah keping, ungu atau hijau yang berhubungan dengan warna bunga. Kedelai yang berhipokotil ungu berbunga ungu, sedang yang berhipokotil hijau berbunga putih. Kecambah kedelai dapat digunakan sebagai sayuran (tauge). Tanaman kedelai memiliki akar tunggang yang membentuk cabang-cabang dan tumbuh menyamping (horizontal) tidak jauh dari permukaan tanah. Jika kelembapan tanah turun, akar akan berkembang lebih ke dalam agar dapat menyerap unsur hara dan air. Pertumbuhan ke samping dapat mencapai jarak 40 cm, dengan kedalaman hingga 120 cm. Selain berfungsi sebagai tempat bertumpunya tanaman dan alat pengangkut air maupun unsur hara, akar tanaman kedelai juga merupakan tempat terbentuknya bintil-bintil akar. Bintil akar tersebut berupa koloni dari bakteri pengikat nitrogen Bradyrhizobium japonicum yang bersimbiosis secara mutualis dengan kedelai. Pada tanah yang telah mengandung bakteri ini, bintil akar mulai terbentuk sekitar 15 – 20 hari setelah tanam. Bakteri bintil akar dapat mengikat nitrogen langsung dari udara dalam bentuk gas N2 yang kemudian dapat digunakan oleh kedelai setelah dioksidasi menjadi nitrat (NO3). Batang tanaman kedelai mempunyai tinggi antara 30–100 cm. Batang dapat membentuk 3 – 6 cabang, tetapi bila jarak antar tanaman rapat, cabang menjadi berkurang, atau tidak bercabang sama sekali. Bunga kedelai termasuk bunga sempurna yaitu setiap bunga mempunyai alat jantan dan alat betina. Penyerbukan terjadi pada saat mahkota bunga masih menutup sehingga kemungkinan kawin silang alami amat kecil. Bunga terletak pada ruas-ruas batang, berwarna ungu atau putih. Tidak semua bunga dapat menjadi polong walaupun telah terjadi penyerbukan secara sempurna. Sekitar 60% bunga rontok sebelum membentuk polong. Buah kedelai berbentuk polong. Setiap tanaman mampu menghasilkan 100 – 250 polong. Polong kedelai berbulu dan berwarna kuning kecoklatan atau abu-abu. Berdasarkan warna bijinya kedelai dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu :1. Kedelai kuningMerupakan jenis kedelai yang mempunyai kulit biji berwarna kuning atau putih. Apabila dipotong melintang akan memperlihatkan warna kuning pada irisan keping bijinya. Kedelai jenis ini membutuhkan syarat-syarat tumbuh yang lebih sulit dibandingkan kedelai hitam. Disamping membutuhkan tanah yang lebih subur, juga membutuhkan pengairan dan pemeliharaan yang lebih intensif. Kedelai kuning biasanya digunakan sebagai bahan untuk membuat tempe dan tahu.2. Kedelai hitam Merupakan jenis kedelai yang kulit bijinya berwarna hitam. Pemeliharaan kedelai hitam umumnya lebih mudah dari pada kedelai putih. Kedelai hitam umumnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan kecap.3. Kedelai hijauMerupakan jenis kedelai yang kulit bijinya berwarna hijau. Apabila biji kedelai dipotong melintang memperlihatkan warna hijau pada irisan keping bijinya. Kedelai jenis ini banyak digunakan sebagai bahan pembuatan susu kedelai. Berdasarkan umurnya kedelai dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :• Kedelai genjah : berumur pendek, 70 – 80 hari• Kedelai tengahan : berumur antara, 80 – 90 hari• Kedelai dalam : berumur panjang, 90 – 120 hari Salah satu kunci keberhasilan budidaya tanaman kedelai adalah pemilihan benih unggul dan berkualitas. Persoalan rendahnya produktifitas erat kaitannya dengan penggunaan benih kedelai yang selama ini dipakai petani disamping teknik budidaya yang harus dioptimalkan. Sebaiknya pilih varietas kedelai yang paling sesuai dengan keadaan agroekosistem setempat, karena setiap varietas mempunyai daya adaptasi yang berbeda antar agroekosistem seperti lahan sawah/tegalan, lahan masam dan lahan pasang surut. Ditulis oleh : Marsudi, Penyuluh Pertanian Kab. Klaten Daftar Pustaka :Suhartina, 2003, Perkembangan dan Deskripsi Varietas Unggul Kedelai 19182002, Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Ubi-ubian, Malang. Suprapto, 1991, Bertanaman Kedelai, Penebar Swadaya, Jakarta