Kacang kayu atau dalam bahasa lokal Madura disebut Cangkaju merupakan tanaman tahunan berumur 1-5 tahun yang relative tahan pans dan kering. Tanaman ini tumbuh subur di beberapa wilayah di Kabupaten Sumenep khususnya di daerah pantai seperti Kecamatan Gapura, Dungkek dan Talango. Di Kecamatan Gapura sendiri, Cangkaju banyak ditemukan di Desa Longos dan Grujugan. Cangkaju berbentuk perdu dengan tinggi mencapai 3 meter. Polong muda umumnya dikonsumsi sebagai campuran sambel, sayur dan direbus untuk cemilan. Biji dari polong tua dapat digunakan sebagai pengganti kedelai dalam pembuatan temped an tahu. Cangkaju kaya kandungan nutrisi, terutama antioksidan yang sangat baik dalam menangkal radikal bebas dalam tubuh. Biji segar mengandung vitamin, terutama provitamin A dan vitamin B kompleks. Namun demikian, walaupun Cangkaju merupakan makanan rakyat, tanaman ini belum merakyat. Cangkaju hanya bisa ditemukan di beberapa wilayah saja dan belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Begitu juga dengan teknologi pengolahannya masih sebatas dikonsumsi sebagai sayur. Herman (48), petani di Desa Longos saat dikunjungi oleh petugas menjelaskan bahwa polong muda dijual dengan harga Rp 5.000,- per kilo. Sekali panen ia bisa mendapatkan 3 kilo Cangkaju. Harga ini masih sangat jauh dengan harga yang tercantum di beberapa laman jual-beli online yang dibandrol dengan harga Rp. 20.000,- hingga Rp 65.000,- per kilo. Dengan melestarikan makanan tradisional yang sesuai dengan kearifan local, diharapkan pengembangan budidaya Cangkaju lebih intensif lagi sehingga mampu mengoptimalkan pemanfaatan lahan terutama lahan marjinal, serta meningkatkan pendapatan petani di Kabupaten Sumenep. Ditulis Oleh : DELLY HOS KAPILA, SP Penyuluh Pertanian Kec. Gapura