Koro Benguk (Mucuna pruriens (L). DC.) termasuk famili Fabaceae dan genus Mucuna. Koro Benguk merupakan tanaman asli India dan Afrika, kemudian menyebar ke Asia, Amerika, dan wilayah Pasifik. Tanaman ini memiliki nama berbeda tergantung daerahnya yaitu Velvet bean atau Cowitch (Inggris), Cowhage plant, Kapikacho atau Kevach (India). Koro Benguk adalah tanaman tahunan yang merambat, dengan daun berbentuk lanceolate, dan bunga berwarna ungu atau putih. Polong Koro Benguk dilapisi bulu halus yang tipis, dalam setiap polong terdapat 4‒6 biji. Warna biji terdiri dari putih, hitam, dan belang. Siklus hidup Koro Benguk berkisar antara 100‒300 hari. Kemampuan adaptasi Koro Benguk cukup luas, toleran terhadap cekaman abiotik, seperti kekeringan, kemasaman maupun defisiensi unsur hara. Tanaman ini tidak dapat tumbuh baik di daerah dingin dan basah. Kandungan gizi dalam kara benguk ialah kaya akan protein 24 gram, karbohidrat 55 gram, lemak 3 gram, serat (5%), mineral, kalsium 130 miligram, fosfor 200 miligram, dan zat besi 2 miligram, asam amino dan abu (5%), serta energi sebesar 332 kilokalori. Kandungan isoflavon seperti daidzin, genistein, faktor-II (6,7,4-trihydroxy isoflavone), dan glycitein (senyawa antioksidan pada kedelai), saponin, flavonoid dan polifenol. Selain itu di dalam kara benguk juga terkandung vitamin A sebanyak 70 IU, vitamin B1 0,3 miligram dan vitamin C 0 miligram. Tanaman kara benguk merupakan tanaman yang sudah jarang kita temui sekarang ini, bahkan sudah hampir punah. Saat ini kara benguk hanya tersedia di pasar tradisional dan balai pembibitan tanaman obat. Kara benguk merupakan tanaman asli India dan Afrika, kemudian menyebar ke Asia, Amerika, dan wilayah pasifik. Tanaman ini memiliki nama berbeda tergantung dengan daerahnya. Nama lokalnya adalah kara benguk (Jawa), kowas (Sunda), kekara juleh (Melayu) dalam bahasa latinnya dikenal dengan nama mucuna pruriens, dari famili leguminosae. Sebagian besar wilayah di Indonesia sudah tidak membudidayakan tanaman kara benguk ini. Namun lain halnya dengan petani di kecamatan Saptosari, kabupaten Gunungkidul. Kara benguk masih menjadi harta terpendam yang sangat berharga. Di sepanjang musim hujan pertama hingga musim hujan kedua, akan sangat mudah menemukan tanaman kara benguk, terutama di jajaran pegunungan di kecamatan Saptosari. Tanaman ini akan merambat bebas hingga ke tepi jalan. Dan pada saat panen, hasil dari tanaman kara benguk ini akan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani di Saptosari. Di sisi lain, koro benguk mengandung senyawa anti nutrisi seperti phytates, tannins, saponin dan alkaloid yang bersifat racun bagi manusia. Senyawa-senyawa ini menjadi salah satu faktor pembatas pemanfaatan koro benguk dalam bidang pangan. Namun senyawa-senyawa toksik tersebut dapat dikurangi dengan perlakuan perendaman, perebusan, pengukusan, atau fermentasi. Proses pengolahan yang sulit menyebabkan pemanfaatan koro benguk di Indonesia kurang populer dibandingkan dengan aneka kacang lain. koro benguk juga mengandung senyawa aktif yang bersifat alelopati, berfungsi untuk menekan pertumbuhan tanaman lain di sekitarnya. Diduga bahwa dengan adanya kandungan senyawa anti nutrisi tersebut, menyebabkan koro benguk resisten terhadap hama dan penyakit tanaman. Akan tetapi, di kecamatan Saptosari, kara benguk banyak diolah menjadi produk yang dijual di pasar. Tentunya dengan tata cara pengolahan yang tepat sehingga kadar racun yang terdapat di dalamnya hilang sehingga aman bagi manusia. Adapun olahan dari kara benguk yang populer di kalangan masyarakat Saptosari adalah tempe benguk dan lemper benguk. Disusun oleh : Retno Wulan Utaminingsih, SP