Loading...

Kasi SDM Disperta Hadiri Pertemuan Rutin Poktan Tani Makmur V

Kasi SDM Disperta Hadiri Pertemuan Rutin Poktan Tani Makmur V
Setiap awal bulan kelompok tani Tani Makmur V Dukuh Mulung, Desa Ngrandu, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mengadakan pertemuan rutin yang dirangkai dengan penyuluhan pertanian dan tanya jawab. Pertemuan bulan Desember ini dilaksanakan pada Jum`at (6 Desember 2019) yang dihadiri Kasi SDM Dinas Pertanian Bojonegoro, Djoko PW. Selain itu juga dihadiri PPL desa setempat, Iskak Riyanto, dan perwakilan pengurus kelompok tani yang bergabung di gapoktan Tani Makmur, yang terdiri dari 7 kelompok tani. Dalam sambutan pembukaan, ketua kelompok tani Tani Makmur V, Zakariya, mengatakan pertemuan rutin bulan ini terasa istimewa karena dihadiri Kasi SDM Disperta Bojonegoro, Djoko PW. "Rencananya tahun 2020 kelompok tani kita akan mendapatkan program kartu petani mandiri (KPM)," sambungnya di depan anggota kelompok. Pemuda yang juga seorang pendidik itu juga berharap kepada anggotanya untuk menjaga lingkungan masing-masing terutama sektor pertanian. Mengawali paparanya Djoko PW mengulas tentang tentang fenomena alam kemarau panjang yang terjadi saat ini di Kabupaten Bojonegoro, termasuk di Kecamatan Kedungadem. "Tahun 2018 kemarin awal bulan Desember petani sudah mulai menanam padi. Tetapi saat ini sebagian besar petani belum bisa membuat persemaian karena masih menunggu datangnya hujan," ujarnya. Selain itu Djoko PW memberi motivasi kepada petani bila ingin hasil panen maksimal harus menyehatkan tanah dulu. Caranya dengan diberi pupuk organik yang maksimal agar tanah menjadi gembur dan kembali subur. "Keadaan tanah sawah sekarang beda jauh dengan jaman dulu. Saat ini tanah cenderung asam atau PH rendah yang berdampak tanaman kesulitan menyerap unsur hara, khususnya unsur Pospat dan Kalium. Ini berdampak pertumbuhan tanaman tidak bisa maksimal, hasil panen juga tidak sesuai harapan petani. Agar kedua unsur tersebut mudah diserap tanaman sawah harus diberi pupuk organik padat dan pupuk hayati. Pupuk hayati berisi mikroba tanah yang berperan mengurai keduanya. Penggunaan pupuk hayati bisa mengurangi dosis pupuk kimia dan sangat baik untuk mengembalikan kesuburan tanah," terang Djoko PW. Menurut Djoko lagi bila petani ingin pertumbuhan tanaman padi cepat dan beranak banyak sangat dianjurkan menggunakan bibit muda maksimal berumur 20 hari. "Sesuai tehnologi pilihan di pengelolaan tanaman terpadu (PTT) bila ingin tandur beranak banyak diusahakan tanam bibit muda antara umur 9-20 hari setelah semai, juga tanam 2-3 batang/lubang. Selain itu pengaturan pemupukan harus pula diperhatikan. Unsur Nitrogen yang berperan mempercepat pertumbuhan anakan. Dengan anakan produktif yang banyak maka jumlah malai yang dihasilkan juga banyak," katanya. Pria yang juga aktif mengisi dialog pertanian di banyak stasiun radio di Bojonegoro tersebut melanjutkan agar petani bisa menjadi dokter atau mantri bagi tanamanya sendiri. "Petani harus mampu mengidentifikasi hama dan penyakit yang menyerang tandurnya. Apakah terserang hama atau penyakit, karena ini berhubungan dengan pestisida pengendalinya berbeda. Jangan sampai salah memakai pestisida, yang artinya berarti salah sasaran. Petani harus bisa membedakan yang namanya hama dan penyakit tanaman. Kalau terkena serangan jamur harus dikendalikan dengan fungisida. Kalau kena bakteri dikendalikan dengan bakterisida. Bila serangga yang menyerang bisa disemprot dengan insektisida, dan lain-lain. Yang penting lagi penyemprotan harus 5 tepat, yakni tepat waktu, dosis, takaran, cara, dan sasaran," terang Djoko panjang lebar. Sementara itu Iskak Riyanto menyampaikan resep kepada petani agar hasil panen bisa didongkrak produktivitasnya. "Secara umum tanaman bisa tumbuh dan mendapatkan hasil panen yang maksimal ada 3 resep yang harus dilakukan petani. Pertama pemilihan benih unggul, yang kedua tanah harus subur, dan yang ketiga manajemen pemupukan," terang Iskak, panggilanya. Iskak melanjutkan untuk tanaman padi petani bisa mempraktikan tehnologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT). Sesuai penelitian Litbang Kementan dengan PTT bisa meningkatkan produktivitas 19,3-24,5% atau setara 1-2 ton/hektar. Iskak Riyanto, S.P. , PPL Kecamatan Kedungadem Bojonegoro.