Loading...

KEADAAN SINAR MATAHARI DAN SUHU PADA TANAMAN TEBU

KEADAAN  SINAR  MATAHARI DAN  SUHU    PADA TANAMAN TEBU
Sinar matahari ; Sebagai tanaman tropika, tebu membutuhkan radiasi sinar matahari yang banyak dan sangat efisien dalam penggunaannya untuk membentuk bahan organik. Radiasi sinar matahari diperlukan bahan organik. Radiasi sinar matahari diperlukan untuk membentuk hormon tumbuh yang akan mengatur pertunasan dan perpanjangan batang tebu, danyang paling utama adalah untuk proses fotosintesis yang menghasilkan gula atau sukrosa. Lama dan besarnya radiasi sinar matahari selalu berkaitan dengan curah hujan. Sinar matahari yang eukup dibutuhkan tebu baik padafase pertumbuhan vegetatif maupun pada fase pemasakan. Cuaca berawan terutama di siang hari akan merugikan tanaman tebu. Cuaca berawan di malam hari akan menaikkan suhudan meningkatkan proses pemapasan tanaman sehingga mengurangi akumulasi sukrosa padabatang tebu. Wilayah yang banyak hujan dan selalu berawan, jumlah cahaya (radiasi) sinar matahari menjadi berkurang yang mengakibatkan berkurangnya kegiatan fotosintesis, dengan demikian pembentukan sukrosa menurun. Di samping itu,jumlah akan tiap rumpun tebu juga berkurang karena kurang sinar matahari.Suhu : Suhu merupakan salah satu dari faktoriklim utama yang engendalikan pertumbuhan tanaman tebu. Mangelsdorf(1950) menyatakan bahwa ikIim idaman untuk menghasilkan gula dari tanaman tebu adalah sebagai berikut :(a) Suatu musim panas yang panjang bagipertumbuhan tanaman dengan jumlah curah hujan yang cukup; (b)Suatu masa kemasakan dan panen yang cukup kering, cerah dan sejuk, namun bebas dari cuaca beku (frost-free); (c) Bebas dari taufan (angin puyuh) dan angin kencang.Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan tanaman tidak berdiri sendiri, tidak dapatterpisahkan dari pengaruh cahaya dan adanyaperbedaan antara suhu tanah dan suhu udara. Suhu tanah terkait dengan pertumbuhan perakaran dan penyerapan hara yang pada gilirannya akan mempengaruhi pertumbuhan bagian tanaman di atas permukaan tanah (batang dan daun). Penelitian yang berkaitan dengan hal ini oleh Burr et al. (1959, dalam Humbert, 1973 halaman 47-49) menyimpulkanbahwa: (1). Suhu akar di bawah 70°F (21,1 °C) sangat menghambat pertumbuhan. Pada suhu 50° F (10°C) pertumbuhan terhenti. Pada suhu 62° F (16,6°C) gula gula reduksi di ruas-ruas pucuk jatuh hingga 5% dari kontrol, meskipun suhu pucuk tetap panas. Suhu akar 80°F (26,6°C) adalah optimum baik untuk pertumbuhan maupun penyerapan hara. Ini sejalan denganhasil terdahulu yang diperoleh Rands dan Dopp(1938). Penurunan suhu akar dari 74° hingga 66°F (23,3°-18,8° C) akan mengurangi penyerapan P hingga sepertiga dan N hingga mendekati separuhnya; (2) Bilamana pertumbuhan dikendalikan oleh suhu akar, konsumsi air dan pertumbuhanberjalan sejajar (bersamaan), serta menghasilkan suatu jumlah air digunakan yang tetap per kesatuan bahan kering yang dihasilkan; (3) Kandungan nitrogen daun dapat berubahmenjadi sembarang jenjang yang mungkin dengan hanya merubah nisbah suhu akar terhadap suhu udara. Suhu udara yang tinggi dan suhu akar yang rendah mengakibatkan jenjang-jenjang nitrogen daun rendah. Dengan demikian dalam menafsirkan data analisis tanaman untuk pengaturan pemupukan harus dapat menilai faktor suhu; (4) Mengurangi hingga separuh dari seluruhcahaya (Hawaii) akan menurunkan laju pertumbuhan mendekati setengahnya; (5) Pada kondisi harian yang sama, setelah 20minggu, kelompok tanaman yang mengalami malam yang sejuk dengan suhu hingga 57°F (13,9° C) pertumbuhannya menurun hingga hampir separuh dari pertumbuhan tanaman yang mengalami malam yang hangat dengan suhu hingga 73° F (22,8° C). Berat daun dan perpindahan sukrosa semalam dari daun ke batang mengurang hingga separuh. Pengaruh suhu terutama tampak dengan jelas pada perkecambahan. Suhu perkecambahan optimum berkisar antara 90°F (32,2°C) - 100°F (37,7oC). Bilamana suhu turun hingga berada di bawah 70°F (21,2°C) perkecambahan akan sangat lambat atau bahkan gagal sama sekali.Hal-hal tersebut perlu mendapat perhatian bila mengadakan survai mencari wilayah yang sesuai bagi tanaman tebu. Ketinggian (elevasi)suatu wilayah temyata mempengaruhi suhu tanah pada kedalaman 30 cm (12 inchi). Suhu tanah yang merupakan media tempat pertumbuhan tanaman akan mengurangi perkembangan tanaman sejak perkecambahan hingga kemasakan tanaman. Barnes (1964) menyatakan bahwa rerata umur tanaman tebu di Afrika Timur meningkat tujuh bulan, untuk mencapaikemasakan, dalam pembudidayaan daripermukaan laut hingga 4.500 kaki (1.350 m). Suhu tanah pada elevasi yang lebih tinggi dapat mencapai 62°F (16,6°C) yang sesuai dengan telah terkendali akan menghambat pertumbuhan pucuk secara drastis dan sangat mengurangi penyerapan hara dan air. Perbedaan antara suhu di permukaan tanah dan suhu tanah pada kedalam 50 cm berkisar dari 3° hingga 5°C, sedangkan dengan suhu tanah pada kedalaman 100 cm berkisar antara 6° hingga 9°C, tergantung tipe tanahnya (Geiger, 1959). Dengan demikian suhu wilayah tropika yang berkisar antara 24° hingga 34°C memberikan peluang suhu optimal untuk pertumbuhan bagi tanaman tebu, khususnya suhu tanah di daerah perakaran. Di Indonesia kisaran suhu di dataran rendahnya tidakjauh berbeda dengan suhu di wilayah tropika pada umumnya. Selanjutnya beda suhu musiman tidak lebih dari 6°C, dan beda suhu siang dan malam tidak lebih dari 10°C. Oleh karena itu di Indonesia pengaruh suhu dan peranannya terhadap pertumbuhan tebu tidak begitu besar. Di wilayah subtropika, di antaranya Louisiana, India dan Australia, terutama di dataran tingginya, yang suhunya dapat turun hingga di bawah titik beku, kerusakan tanaman karena beku (frost damage) umum terjadi. Tebu menjadi rusak karena pecahnya sel-seljaringan tanaman akibat bekunya cairan sei. Barton (1935) menyatakan bahwa bagian yang mula-mula mengalami kerusakan adalah pucuk tebu yang terletak kira-kira 2,5 cm di atas titik tumbuh di pertengahan gulungan (gelendong) daun yang belum dewasa. Tidak lama setelah terjadi kebekuan teras (core) jaringan daun muda menjadi tampak seperti daun terendam air yang dapat mencapai panjang hingga 2,5 cm. Setelah beberapa hari bagian yang rusak ini berubah menjadi coklat dan membusuk sehingga teras daun tidak muncui. Jika kerusakan tidak terlalu parah teras daun baru akan terbentuk bilamana pertumbuhan pulih, namun batang tebu akan mengalami pengerutan sekali di bagian yang menderita kebekuan. Ketahanan varietas terhadap kebekuan sangat beragam. Pada urnumnya semua varietas akan mati jika mengalami kebekuan yang parah. Beberapa varietas dapat bertahan atau toleran terhadap kebekuan ringan. Bourne (1963) melaporkan bahwa beberapa varietas yang diperlakukan dengan udara panas pada suhu 50°C selama24 jam sebelum penanaman, kerusakan kandungan sukrosa akibat kebekuan (frost) berkurang secara nyata. Rice dan Belcher (1963) menyatakan bahwa varietas CP 50-28 dan CP 52-68 memberikan penampilan yang menonjol meskipun mengalami suhu beku beberapa kali setiap musim dingin (winter). Permasalahan yang kemudian timbul setelah terjadi kebekuan berat (heavy frosts) adalah pemanenan tebu sebelum kerusakan nira menjadi sangat parah.Penulis : AgusSutarman,PenyuluhPertanianPusat.Email :agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.Sumber Gambar : www.qrbiz.com