KEGIATAN PERBENIHAN JAGUNG HIBRIDA PENDAMPINGAN BPTP JAWA TENGAHKELOMPOK TANI NGUDI RAHARJO I DESA WIROSARI KECAMATAN PATEAN KAB KENDALBenih merupakan salahsatu faktor penentu keberhasilan budidaya jagung, sehingga diperlukan penanganan yang tepat agar dapat tersedia dengan baik dan terjangkau oleh petani. Teknologi yang mendukung produksi benih telah tersedia meskipun belum diterapkan secara luas. Kecamatan Patean Kabupaten Kendal merupakan salah satu wilayah dengan potensi areal tanaman jagung yang cukup luas, dalam satu tahun luas tanam jagung mencapai 10.000 ha bahkan bisa lebih apabila iklim mendukung. Kebutuhan petani akan benih jagung di wilayah Kecamatan Patean cukup tinggi, sedangkan teknologi produksi benih yang sudah ada dari Badan Litbang Pertanian-Kementerian Pertanian belum diadopsi oleh petani. Dalam rangka untuk mendukung percepatan produksi jagung serta meningkatkan adopsi teknologi petani, BPTP Jawa Tengah melakukan pendampingan teknologi produksi perbenihan jagung hibrida di kelompok tani Ngudi Raharjo I desa Wirosari Kec. Patean. Penentuan lokasi ditentukan berdasarkan persyaratan yang harus dipenuhi untuk kegiatan perbenihan jagung hibrida. Kegiatan produksi benih jagung hibrida hampir sama dengan budidaya jagung pada umumnya, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan harus dipenuhi dalam produksi jagung hibrida agar hail benih berkualitas. 1. Seleksi lahan produksi• Pertimbangkan topografi, kesuburan lahan, dan populasi gulma. Pemilihan lahan tidak subur menyebabkan biaya produksi meningkat, begitu pula pada lahan dengan populasi gulma tinggi. • Lahan produksi harus terhindar dari lahan sekitar dengan komoditas yang sama untuk menghindari kontaminasi.• Lahan terisolasi dari hewan ternak karena dapat merusak pertanaman dan juga menyebabkan kontaminasi.• Akses mudah dari lahan menuju jalur transportasi, untuk masuknya pupuk, alsintan, dan panen.• Lahan produksi dekat dengan lokasi prosesing.• Lahan rata dan tidak miring• Drainase baik2. Isolasi • Jagung merupakan tanaman menyerbuk silang (cross pollination) dengan jumlah pollen ± 25 juta / tassel.• Isolasi dilakukan untuk menghindari kontaminasi.• Isolasi terbagi menjadi isolasi jarak dan isolasi waktu.• Isolasi jarak untuk hibrida 300 m.• Isolasi waktu untuk hibrida 21 hari.• Pada jarak 50 – 75 jumlah kontaminasi tertinggi.• Penghalang alami (pohon, semak) dapat mengurangi kontaminasi.3. Tanam • Rasio antara betina dan jantan umumnya 1 baris jantan dengan 3 baris betina• Untuk galur tetua dengan jumlah polen jantan sedikit, berbagai modifikasi bisa dilakukan seperti 2 baris jantan dan 3 baris betina • Isolasi jarak dari tanaman jagung lain minimal 300 m dan isolasi waktu minimal 21 hari• Penting untuk mengetahui umur bunga tetua jantan dan betina untuk mendapatkan penyerbukan yang sinkron.4. Pertanaman vase vegetatif • Roguing vegetatif dilakukan umur 7-14 HST, kedua pada umur ± 35 HSTRoguing adalah menghilangkan / membersihkan tanaman yang tidak diinginkan ( off type, kerdil,terserang OPT) tujuannya untuk memperoleh tanaman yang seragam dan penyerbukan berasal dari benangsari tetua yang telah ditentukan.• Identifikasi true to type sesuai dengan deskripsi varietas tetua• Karakter agronomis dan morfologi untuk mendapatkan tanaman off type• Perhatikan Pola pewarnaan antosianin batang serta bentuk dan tipe daun.5. Pertanaman vase generatif Melakukan kegiatan Detasseling : Adalah tehnik kastrasi barisan betina dengan cara mencabut malai jantan sebelum kotak sari pecah. Detasseling bertujuan untuk membuang bunga jantan yang masih tertutup daun bendera dari tanaman baris betina, hal ini dilakukan untuk menghindari banyaknya persentase inbreeding pada tanaman (penyerbukan sendiri) , Serta meningkatkan viabilitas benih saat ditanam. Hal perlu diperhatikan dalam detasseling adalah dalam membuang tassel harus benar – benar bersih sampai pangkal dan tidak ada tassel yang tersisa. Roguing pada fase generatif salah satu tolok ukurnya adalah pada anther, pewarnaan dan ciri khas pada glume serta stamen 6. Babat jantan ( Male Cutting) Male Cutting adalah memotong tanaman tetua jantan setelah penyerbukan silang selesai. Male cutting dapat dilakukan bila (a) serbuk sari bunga jantan dari tetua jantan telah habis (b). Rambut tongkol jagung tetua betina telah berwarna coklat. Setelah mate cutting dilanjutkan dengan penghilangan daun bagian bawah tetua betina. Tujuan 2 kegiatan tersebut (a) mengurangi kelembaban agar hama penyakit tidak berkembang (b) meningkatkan aerasi udara dan fotosintesis tanaman. Penulis Agustina Wati, SP Balai Penyuluhan Kecamatan PateanSumber Tulisan : Teknologi Produksi Benih Jagung Hibrida BPTP JawaTengah Sosialisasi Produksi Perbenihan Jagung Hibrida Balai Penelitian Tanaman Serealia