Oleh : Lida Reslidiawati ,SP Serangan OPT(Organisme Pengganggu Tanaman) dipengaruhi oleh perkembangan OPT, ketersediaan inang, faktor lingkungan dan manusia atau petani pengelolanya. Dalam PHT (Pengendalian Hama Terpadu), pengendalian OPT pada dasarnya memanipulasi agroekosistem sedemikian rupa sehingga tidak cocok untuk perkembangan OPT tetapi mendorong faktor lain yang menghambat perkembangan OPT. Semakin luas hamparan atau kawasan pertanaman yang dikelola secara benar, kondisi agroekosistem akan makin stabil. Semakin luas hamparan yang pengolahan PHTnya benar maka akan semakin nampak atau terasa pengaruhnya terhadap pertumbuhan OPT.Pemasyarakatan PHT melalui Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT), biasanya lebih ditekankan pada pemahaman petani tentang PHT dan pengaruhnya pada skala kecil dan bukan pada skala luas, sehingga dampak ekonomi dan ekologinya kurang menonjol. Sehubungan dengan itu, maka perlu dilaksanakan SLPHT skala luas, pada daerah endemik OPT serta sudah pernah dilaksanakan kegiatan SLPHT atau yang serupa. Pada dasarnya petani sebagai pelaku utama/subjek pembangunan pertanian, perannya sangat menentukan keberhasilan dari pelaksanaan pembangunan pertanian. Petani berperan sebagai manajer di lahan usaha taninya yang harus mampu mengelola usahataninya mulai dari persiapan budidaya sampai pemasaran hasil. Tanaman pangan keberadaannya harus senantiasa terpenuhi, karena tanaman pangan merupakan salah satu penghasil makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Upaya pemerintah untuk melakukan swasembada pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat saat ini semakin gencar dilakukan salah satunya dengan (SLPHT).Hama dan penyakit tanaman padi merupakan faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi usaha meningkatkan produksi tanaman, oleh sebab itu usaha untuk mengendalikan hama dan penyakit perlu ditingkatkan. Hal inipun telah menjadi perhatian nasional sehingga usaha pengendalian Organisme PenggangguTanaman (OPT) dimasukkan sebagai salah satu dari program panca usaha dalam budidaya tanaman.Melalui kegiatan SLPHT diharapkan petani lebih berdaya dan mampu mengatasi permasalahannnya sendiri, terutama pengendalian hama dan penyakit sejak dini apabila terjadi serangan hama dan penyakit di lahannya. Pendidikan dan Pelatihan SLPHT diharapkan mampu mengubah petani dari berbudaya pasif tidak berdaya menjadi berdaya aktif, kreatif, inovatif, dan berwawasan ilmiah.Pengendalian Hama Terpadu merupakan suatu sistem pengelolaan populasi hama yang memanfaatkan semua teknik pengendalian yang sesuai dan seserasi mungkin untuk mengurangi populasi hama dan mempertahankannya sehingga berada di bawah jumlah populasi hama yang dapat mengakibatkan kerusakan ekonomi.Kegiatan SLPHT dikatakan berhasil apabila tujuan dari kegiatan ini dapat tercapai. Untuk mengetahui keberhasilan kegiatan tersebut maka perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat keberhasilan program SLPHT telah dilaksanakan. SLPHT merupakan metode penyuluhan untuk mengimplementasikan Pengendalian Hama secara Terpadu.Metode sekolah lapang lahir berdasarkan atas 2 tantangan pokok, yaitu :a. Keanekaragaman ekologi dan peran petani sebagai manager ahli di lahannya sendiri.b. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sulit dituangkan melalui model penyuluhan biasa (poster, ceramah dan lainnya) antara lain karena keanekaragaman ekologi daerah tropik, sehingga PHT mutlak bersifat lokal.Tujuan dilaksanakannya kegiatan SLPHT a. Meningkatkan dinamika pemberdayaan dan pemahaman petani tentang peran kelembagaan petani dalam perlindungan tanaman panganb. Secara bertahap proses budidaya tanaman dan pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) diterapkan sesuai konsep PHTc. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani agar mampu menguasai dan memanfaatkan teknologi budidaya tanaman dan pengendalian OPT secara Spesifik lokalitad. Menumbuhkan kesadaran petani dalam mengendalikan OPT sesuai anjuranSasaran dalam Kegiatan SLPHT adalah petani di lima (5) desa di Kecamatan Cisolok. Peserta merupakan petani pemilik dan penggarap yang responsif terhadap teknologi baru dan produktif. Pelaksanaan kegiatan SLPHT dikonsentrasikan di kelompoktani Sinar Laut Desa Cisolok Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi.Pelaksanaan kegiatan diselenggarakan sebanyak 8 kali dari mulai tanaman berumur 1 minggu hingga waktu panen. Peserta kegiatan SLPHT berjumlah 30 orang yang merupakan anggota dari 5 Desa (13 kelompoktani) di Kecamatan Cisolok. Adapun daftar peserta :a. Desa Cikahuripan (Poktan Cibangban Sarasa, Hurip Bahari, Bina Tani)b. Desa Cisolok (Poktan Sinar Laut, Insan Kamil Mandiri)c. Desa Karangpapak (Poktan Sarimukti, Neglasari)d. Desa Cikelat (Poktan Bina Tani Mandiri, Sukamaju)e. Desa Wangunsari (Poktan Mekar Jaya, Wangunsari, Cierang Jaya dan Tunas Muda)Pemandu SLPHT adalah POPT dan Penyuluh Pertanian di wilayah binaan. Metode yang dilaksanakan dalam kegiatan ini berupa metode Sekolah Lapang yakni penyampaian materi oleh pemandu SL/fasilitator, diskusi, penyampaian pengalaman petani melalui tahapan daur belajar (mengalami, mengungkapkan, menganalisa dan menyimpulkan), praktek dll. Adapun manfaat atau kegunaan secara teoritis dan praktis yang diharapkan dari hasil SLPHT adalah :a. Mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan petani sebagai peserta dalam Sekolah Lapang dan sebagai pelaku utama/pelaku usaha dalam lahan usahataninya.b. Mengembangkan ilmu khususnya dalam mengendalikan OPT secara terpadu di lahan usahataninya.c. Dapat memilah/mengenal berbagai jenis OPT serta cara pengendaliannya. Implementasi Kegiatan SLPHT ini, diharapkan dapat mendorong peningkatan mutu dan pelaksanaan kegiatan di lapangan untuk membangun keswadayaan serta kemandirian pelaku utama dan pelaku usaha juga sebagai dasar rintisan kemandirian petani kedepannya dalam rangka pengelolaan pengendalian hama secara terpadu dan berwawasan lingkungan. Sumber Pustaka :https://h0404055.wordpress.com/2010/04/03/sekolah-lapang-pengendalian-hama-terpadu/ Arsip BP3K Kecamatan Cisolok