Sekali perahu mendayung ketengah, pantang berpaling haluan berbalik pulang sebelum sampai ketjuan ! Mungkin itulah motto yang ada dalam jiwa Bapak Rasit dan kini telah mengantarkannya menjadi petani personal yang meraih juara ditingkat Kabupaten. Kegigihan Pak Rasit memang patut diberi jempolan karena tidak pernah menyerah dalam menghadapi kesulitan serta masalah dalam usaha taninya, ia tetap menghadapinya dengan sabar serta penuh tawakkal karena katanya “ setiap masalah itu pasti ada solusinya atau pemecahannya “ Keyakinannya ini diperkuat lagi oleh salah satu ayat dalam Alqur`an bahwa dibalik kesulitan yang kita hadapi itu maka kemudahan atau keberhasilan akan menyusul dibelakangnya. Inilah yang memotiasi pak Rasit hingga ia terus berjuang dan selalu berupaya untuk menjadi sukses. Berkat kegigihannya ini ia berhasil meraih juara III lomba petani mellenial tingkat kabupaten bulan Mei 2020 kemaren. Usaha yang digeluti Bapak Rasit fukus pada tanaman sayuran dengan tiga komuditas unggulan yakni tanaman tomat, cabe dan tanaman timun. Salah satu teknologi temuan Pak Rasit sendiri yang diterapkannya adalah penggunaan jarak tanam yang lebih rapat khususnya pada tanaman tomat dibanding rekomendasi peneliti. Menurutnya ada beberapa alasan mengapa ia menggunakan jarak tanam yang rapat pada tanaman tomat, alasan tersebut adalah bahwa tanaman tomat memiliki dahan dan cabang yang mudah patah bila ditimpa angin karena memiliki beban buah yang berat lebih-lebih lagi bila buah sudah masak penuh. Dengan perlakuan jarak tanam yang rapat maka cabang antara pohon yang satu dengan cabang pohon didekatnya akan menyentuh berlapis dan saling mengikat sehingga ada kekuatan tambahan untuk mencegah patahnya dahan atau cabang tanaman. Disamping itu jika ada pohon tanaman yang terserang jamur maka bila dicabut tanaman yang terserang jamur tersebut barisan tanaman tidak nampak kosong karena jarak tanamnya lebih rapat. Dari teknologi yang ditemukan pak Rasit tersebut Alhamdulillah produksinya mampu bersaing dengan jarak tanam yang direkomensadikan peneliti. Berdasarkan catatan pak Rasit jumlah produksi yang dihasilkan dalam satu usim tanaman cabe dapat kami sajikan sebagai berikut : I.Untuk komuditas Cabe Besar. Jumlah tanaman : 2.500 pohon. Jarak tanam yang digunakan : 70 cm x 70 cm. Frekuensi pemetikan sampai saat ini : 17 kali panen. Jumlah produksi seluruhnya : 3.500 kg. Rata rata hasil panen : 205 kg setiap kali panen Rata rata produksi perpohon menghasilkan : 1,4 kg. II.Untuk komuditas tanaman Tomat. Jumlah tanaman : 900 pohon. Jarak tanam yang digunakan : 25cm x 25 cm x 70 cm. Frekuensi pemetikan : 21 kali Panen. Jumlah produksi seluruhna : 2.635 kg Rata rata hasil panen : 125,5 kg setiap kali panen. Rata rata produksi perpohon menghasilkan : 2,9 kg. Selain teknologi diatas Pak Rasit juga mengadopsi tehnologi pengendalian hama penyakit yang ramah lingkungan, teknologi pemupukan ramah lingkungan yang sering disebut dengan pupuk organik cair plus(POC Plus). Untuk mebuat insektisida nabati Pak Rasit menggunakanbeberapa bahan yang murah dan mudah didapat seperti : daun sirsak, daun kemangi, bang serai, sunlight, air secukupnya. Sedangkan bahan yang digunakan untuk membuat fungisida alami Pak Rasit mengguna kan beberapa kombinasi bahan yang berasal dari mikro oranisme (mikroba) dan spora. Untuk membuat pupuk organic cair plus Pak Rasit memakai beberapa campuran bahan seperti tinja dari ternak kelinci, tembakau, lengkuas, daun sirsak melaluai proses fermentasi beberapa hari. Dengan teraplikasinya ketiga macam teknologi ini dapat dikatakan tanaman cabe milik Pak Rasit tumbuh dan berkembang dengan baik atau boleh dikatan berhasil melakukan budidaya tanaman cabe. Salah satu teknologi yang diaplikasikan Pak Rasit dilahan tanaman cabe saat ini adalah pembakaran sekam padi atau metode pembuatan arang sekam. Dari teknologi ini ucap Pak Rasit ada dua keuntungan yang didapatkan yaitu pembakaran sekam dilahan tanaman sangat membantu mengusir hama yang ada pada tanaman karena produksi asapnya menyebar keseluruh bagian tanaman. Disamping itu arang sekamnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman karena mengandung unsure unsure hara yang sangat dibutuhkan tanaman. Pak Rasit adalah sosok yang berjuang tanpa mengeluh dalam berusaha tani. Ia sering termenung ketika istirahat melepaslelah, tetapi bukan termenung tanpa arti namun ia selalu berfikir bagaimana carnya agar ia bisa bermanfaat untuk orang lain. Ia ingin sekali agar petani dan kawan kawan sebayanya mau mengikuti jejaknya agar ekonomi keluarga dan rumah tangga mereka dapat meningkat sehingga kesejahteraan yang diidam idamkan dapat terwujud. Inilah sosok Pak Rasit…..ia memiliki cita citayang sangat mulia, keberhasilannya tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi dipersembahkannya unutk orang lain yang ingin merubah nasib kearah yang lebih baik. Pak Rasit hanya seorang lelaki yang tamat pendidikan dasar namun ia banyak menggali pengalamn diluar bangku sekolah. Sebelum berkiprah dibidang budidaya tanaman ia pernah berprofesi sebagai tenaga tukang bangunan. Pekerjaan ini digelutinya sejak ia jadi karyawan bangunan sampai menjadi kontraktor bangunan. Namun pekerjaan itu ternyata membuat ia tidak merasa tenang akhirnya ia memutuskan untuk memilih bertani seperti yang dilakukannya saat ini. Kita selalu mencari pak Rasit yang lainnya…agar gerakan petani pemuda menjadi pelopor kemajuan pertanian dimasa yang akan datang. //////////// Penulis : H. Hairul Safii, S.Pt (PP Programer Supervisor BPP Kec. Batang Alai Utara, HST, Kalsel)