Loading...

KELAPA TANAMAN SERBAGUNA YANG KEMBALI DIMINATI PETANI DI KAPOIALA

KELAPA TANAMAN SERBAGUNA YANG KEMBALI DIMINATI PETANI DI KAPOIALA
Jika kita lihat di negara Indonesia tentu banyak dijumpai pohon kelapa. Seperti lagu rayuan pulau kelapa yang membuktikan jika sejak dahulu kelapa banyak tumbuh subur di negeri ini. Kelapa banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik dari bagian buah hingga pohon juga daunnya. Tanaman kelapa memang kaya akan manfaatnya. Tidak heran jika tanaman kelapa anyak dibudidayakan oleh masyarakat kita. Peluang usaha budidaya kelapa merupakan salah satu pelung bisnis yang menjanjikan. Potensi budidaya kelapa memiliki potensi dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Di masa ini memang harga kelapa tengah melambung di pasaran. Hal ini karena sulitnya mendapatkan kelapa yang ada di pasaran. Ini di pengaruhi lantaran banyak tanaman kelapa yang dimakan hama sehingga tanaman kelapa tak mampu memproduksi buah kelapa dengan baik. Di tengah itu permintaan kelapa yang ada di pasaran terus meningkat. Kelapa adalah tanaman serba guna. Seluruh bagian tanaman bermanfaat bagi kehidupan manusia (Setyamidjaja, 1984). Keragaan perkebunan kelapa menunjukkan (1) luas kepemilikan usaha tani kelapa rata-rata 0,5 ha/keluarga petani, (2) pertanaman umunya diusahakan dalam bentuk monokultur, (3) adopsi teknologi budidaya belum dilaksanakan secara wajar, (4) produk usaha tani yang dihasilkan masih bersifat produk primer berbentuk kelapa butiran dan kopra, (5) produktivitas usaha tani kelapa rendah rata-rata 1,1 ton kopra/ha/tahun. Produktivitas rendah merupakan salah satu permasalahan kelapa di Indonesia. Rendahnya produksi kopra/ha/tahun disebabkan (1) budidaya tanaman kelapa masih terbatas dan tanpa penambahan materi pendukung bagi tanaman, (2) komposisi tanaman kelapa yang dibudidayakan 60%-nya berumur lebih 60 tahun, (3) manajemen tanaman kurang diperhatikan, (4) hama dan penyakit tanaman, (5) permasalahan sosial, ekonomi dan budaya yang mempengaruhi perkembangan kelapa. Semua ini menyebabkan pendapatan petani terbatas, pasaran kelapa kurang berkembang, fluktuasi harga kopra tidak stabil dan keragaman hasil tanaman kelapa. Kelapa sebagai salah satu spesies dari genus Cocos memiliki 27 genera dan 600 spesies, yang diklesifikasikan dalam dua varietas yaitu kelapa Dalam (typica Nar) dan kelapa Genjah (nana Griff). Ada pula yang mengklasifikasikan kelapa dalam tiga varietas yaitu selain kelapa Dalam dan Genjah juga ada kelapa Semi Dalam (aurantiaca). Masing-masing varietas kelapa memiliki karakteristik khusus yang membedakannya satu sama lain (Maskoro, 2000). Penampilan karakter tanaman kelapa di lapangan beragam. Hal ini disebabkan antara lain karena tetua yang digunakan dalam proses persilangan diperoleh dari populasi menyerbuk bebas, artinya derajat heterosigotnya masih tinggi. Kelapa Dalam umumnya menyerbuk silang, sehingga keturunannya mempunyai penampilan yang sangat beragam karena genotipnya masih heterosigot (Wardiana, 1996). Kelapa (Coccos nucifere) merupakan sumber minyak nabati yang penting disamping kelapa sawit (Elacis guineensis). Mengingat semakin meningkatnya kebutuhan akan minyak nabati di Indonesia, baik minyak untuk kebutuhan rumah tangga maupun minyak secara komersil, maka peningkatan produksi minyak umumnya dan minyak kelapa khususnya perlu mendapat perhatian (Ketaren,1986). Minyak kelapa yang belum dimurnikan mengandung komponen yang bukan minyak misalnya : pospatida, gum, sterol (0,06 – 0,08 %), tokoferol (0,003%), dan asam lemak bebas (kurang lebih 5%).