Siapa yang belum mengenal tanaman kelor??Tanaman berdaun kecil ini dalam bahasa Madura disebut “ Marongghi ” sangat populer dan lekat dengan budaya masyarakat Madura. Tanaman ini sangat mudah ditemukan di rumah warga dan biasanya dijadikan sebagai tanaman pembatas/pagar. Sayur daun kelor sangat digemari dan bahkan menjadi ikon masakan Madura yang biasanya disandingkan dengan nasi jagung, ikan asin dan sambal terasi. Selain itu, tanaman kelor digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit (fisik) dan seringkali dikaitkan dengan penyembuhan penyakit metafisik. Perkembangan pengetahuan dan pemanfaatan tanaman kelor itu sendiri sudah berlangsung secara turun temurun dan mengakar dalam kehidupan masyarakat Madura sehingga menjadi bagian dari kearifan lokal (Indigenous Knowledge) yang terjaga kelestariannya hingga saat ini. Bahkan kearifan lokal ini berkembang ke daerah lainnya seiring dengan adanya migrasi penduduk, perkembangan teknologi informasi dan karakter tanaman kelor itu sendiri yang memiliki daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan. Mengapa tanaman kelor dewasa ini menjadi begitu populer di kalangan masyarakat baik di dalam maupun di luar negeri??Hal ini tentunya tidak terlepas dari eksplorasi dan publikasi terhadap manfaat kelor yang luar biasa. Bahkan, tanaman ini mendapatkan julukan sebagai Miracle Tree (Pohon Ajaib) oleh WHO (World Health Organization) dan Mother’s Best Friend (Sahabat Ibu) karena nilai kandungan gizi yang tinggi, sehingga di beberapa wilayah seperti Afrika digunakan untuk mengatasi masalah malnutrisi pada ibu hamil dan anak-anak. Daun kelor mengandung beberapa vitamin dan bahan mineral seperti vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin C, kalsium, kalori, karbohidrat, copper, lemak, serat, zat besi, magnesium, fosfor, kalium, dan protein. Kandungan nutrisi tersebut yang menjadikan kelor memiliki multifungsi yaitu sebagai antipiretik (penurun panas), antitumor, antiulcer (anti tukak lambung), antipasmodik (relaksan otot polos), antiinflamasi (anti radang), diuretik (menambah kecepatan pembentukan urin), penurun kolesterol, antioksidan, antihipertensi, antidiabetes, dan hepatoprotektif (pencegah dari kerusakan hati) (Chaundhary and Chaurasia, 2017). Saat ini, pemanfaatan daun kelor khususnya di Madura mulai berkembang. Daun kelor tidak hanya dikonsumsi sebagai sayuran saja, namun sudah diolah menjadi beberapa produk makanan dan herbal, seperti tepung kelor, mie kelor, stik kelor, teh kelor, kapsul kelor, dsb. Jenis kelor yang dikembangkan secara komersiil juga menyesuaikan kebutuhan pasar. Seperti halnya yang dikembangkan di Desa Poteran, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep adalah jenis kelor merah yang dibudidayakan secara organik untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional. Pengembangan tanaman kelor dari hulu hingga hilir ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah baik dari aspek ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan dengan tetap melestarikan kearifan lokal yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Selain itu, penerapan inovasi dan teknologi perlu terus dikembangkan secara komprehensif, supaya ikon kebanggaan masyarakat Madura ini mampu bersaing di pasar nasional dan internasional (DELLY HOS KAPILA, SP/Penyuluh Pertanian Kec. Gapura) Tinjauan Pustaka : Chaundhary, K and S. Chaurasia. 2017. Neutraceutical Properties of Moringa oleifera : a Review. Ejpmr 4(4): 646-655.