Loading...

KEMAMPUAN BEBERAPA VARIETAS PADI MENGHASILKAN ANAKAN "SALIBU"

KEMAMPUAN BEBERAPA VARIETAS PADI MENGHASILKAN ANAKAN "SALIBU"
Teknologi salibu adalah salah satu teknologi anjuran peningkatan provitas padi dalam upaya mendukung program nasional UPSUS peningkatan produksi padi jagung dan kedelai (PAJALE). Teknologi salibu ini pertama kali telah berhasil dikembangkan secara luas di daerah Sumatera Barat. Akan tetapi teknologi ini untuk Bali pada umumnya dan Gianyar khususnya merupakan hal baru bagi petani, sehingga untuk pengembangan teknologi ini perlu diawali dengan percontohan - percontohan. Keberhasilan padi salibu sangat ditentukan kemampuan potongan jerami padi menghasilkan anakan salibu. Kemampuan menghasilkan anakan salibu sangat ditentukan oleh jenis / varietas padi yang ditanam. Data tentang kemampuan beberapa varietas padi untuk menghasilkan anakan salibu belum tersedia. Terkait dengan hal ini untuk mendapatkan data tentang kemampuan varietas padi yang sering dikembangkan oleh petani setempat (spesifik lokalita), kami BPP Ubud melakukan uji coba / kajian sederhana terhadap kemampuan beberapa varietas padi dalam menghasilkan anakan salibu. Kajian menggunakan 5 varietas padi yang biasa ditanam petani yaitu Ciherang, Inpari 43, Tuwoti, Pak tiwi dan Situbagendit. Media tanam mengunakan tanah sawah yang dikemas dalam wadah pot plastik diameter 35 cm tinggi 25 cm. Kajian ini dilaksanakan di halaman kantor BPP Ubud dengan cara menempatkan pot-pot media tanam tersebut pada tempat yang mendapat sinar matahari penuh. Pada kajian ini tanaman padi MT1 (tanaman induk) untuk masing-masing varietas ditanam dengan 1 bibit per lubang tanaman dan waktu penanamannya dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 2018, Pemeliharaan meliputi penyiangan, pemupukan dengan dosis urea 200 kg /ha, NPK 200 kg/ha dan organik 500 kg/ha atau setara dengan Urea 2,5 gr/pot, NPK 2,5 gr/pot dan 6 gram organik per pot (asumsi jumlah rumpun/ha 81.630 rumpun dg jarak tanam 35 cm x 35 cm), serta pengendalian OPT bila ada serangan. Padi tanaman induk (padi MT1) dapat dipanen tanggal 12 April 2018 (maju 7 hr dari panen normal). Setelah panen, jerami dibiarkan istirahat selama 1 minggu, selanjutnya barulah jerami dipotong (di-salibu-kan) dengan ketinggian lebih kurang 3 cm diatas permukaan tanah. Dalam waktu 3 hari setelah potong anakan salibu sudah mulai tampak tumbuh. Selanjutnya untuk pemeliharaan sama seperti padi MT 1. Setelah dilakukan pengamatan dan pengukuran diperoleh hasil rata-rata kemampuan menghasilkan anakan salibu dari masing varietas padi adalah sbb., dimana angka rata-rata tertinggi diperoleh varietas Pak tiwi yang menghasilkan anakan salibu sejumlah 44 anakan, kemudian berturut-turut diikuti varietas Inpari 43 menghasilkan 34 anakan, varietas Ciherang menghasilkan 30 anakan, varietas Situbagendit menghasilkan 26 anakan dan terendah varietas Tuwoti dengan jumlah anakan 25 anakan. Demikian hasil kajian sederhana ini diperoleh semoga dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam pemilihan varietas padi yang akan dikembangkan menjadi tanaman padi salibu. Oleh : I Gusti Made Sukaryanata