Panen padi telah berlalu dan musim kemarau telah tiba, ketersediaan air mulai sulit, yang berarti tidak ada lagi tanaman pangan yang mampu tumbuh. Begitu pula yang terjadi dengan wilayah Kecamatan Juwangi Kabupaten Boyolali yang berada pada ketinggian tempat antara 90-250 m dpl dan suhu udara rata rata 30-35 oC yang sebagian besar wilayahnya merupakan lahan tadah hujan. Namun demikian Semangat masyakat petani untuk menyambung hidup dengan bercocok tanam tetap tinggi. Dengan segala keterbatasan yang ada, terutama air mereka tetap mengelola tanah yang dimilikinya agar tetap bisa berproduksi.Tanaman tembakau adalah solusi bagi mereka. Tembakau tidak terlalu membutuhkan air. Selain itu tembakau juga mudah dalam perawatannya karena tidak terlalu banyak hama dan penyakit yang menyerang. Biaya produksi juga lebih rendah dibandingkan komoditas pertanian yang lain karena penggunaan pupuk sangat sedikit, dan tidak perlu mengolah tanah.Pada bulan April biasa petani mulai menanam tembakau varietas madura prancak 95 atau masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan tembakau crupung. Proses budidaya dimulai dari persiapan bibit. Pada bulan Februari Akhir pembenihan sudah mulai mereka persiapkan, sehingga tepat pada bulan April tembakau sudah benar-benar siap tanam. Santoso, Sp Koordinator penyuluh Kecamatan Juwangi menyatakan bahwa pada MT tembakau tahun 2018 ini,di Juwangi terdapat sekitar 150 Ha lahan tembakau dan akan berakhir (panen) pada Bulan September akhir.Menurut Sumadi dan Sarmidi petani setempat yang setiap tahun menanam tembakau, Persiapan lahan tanam dimulai setelah panen padi MT II. Setiap 2 meter, dibuat saluran drainase seleber 30-40 cm dengan kedalaman 10-20 cm dan panjang menyesuaikan lahan yang ada. Dalam guludan dibuatkan lubang tanam sedalam 20 cm dengan jarak tanam 50X50 cm menggunakan cangkul. Populasi per hektar rata rata mencapai 24-25 Ribu batang tembakau.Penanaman dilakukan pada sore hari dengan memilih bibit yang sehat, kuat dan perakarannya baik. Sebelum ditanami, lubang tanam disiram air terlebih dahulu hingga meresap. Bibit ditanam dalam lubang yang telah basah dengan membenamkan seluruh perakarandan seperlima batang bagian bawah, Tutup dengan tanah dan agak sedikit ditekan agar perakaran menyatu dengan tanah kemudian disiram dengan air bersih. Penyulaman dilakukan apabila tanaman tidak tumbuh dan biasa dilaksanakan pada umur 10 HST. Tanaman disiram setiap sore hinga tanaman benar benar tumbuh kuat.Pemupukan dilakukan sebanyak 3 kali pada umur 7 HST, 25 HST dan 45 HST. Pemupukan pertama menggunakan pupuk SP-36 95 Kg/Ha, Za 150 Kg/Ha, dan NPK Phonska 60 Kg/Ha dengan cara aplikasi dikocor. Pemupukan ke II dengan cara ditugal menggunakan pupuk Za 150 Kg/Ha dan Fertila tembakau 50 Kg/Ha. Pemupukan ke III dilaksanakan pada umur tanaman 45-50 HST dengan menggunakan pupuk Za 300Kg/ Ha dan fertila tembakau 50 Kg/Ha.Perawatan tanaman dilakukan dengan cara pembumbunan ringan. Pembununan bertujuan untuk mengkuatkan akar dan batang serta mencegah pertumbuhan gulma serta memperbaiki sistem drainase. Pada saat tanaman berumur 15 HST saluran drainase diperdalam hingga 40 cm dan tanah dari drainase tersebut diratakan pada pangkal batang. Pembununan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur21-25 HST dengaan metode yang sama pada pembumbunan pertama. Tanaman ditopping atau dipunggel ujung tunasnya setelah jumlahdaun mencapai 16-18 lembar atau setelah keluar bakal bunga agar dapat menghasilkan daun yang berkualitas baik.Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengaan cara seksama melalui pengamatan secara rutin. Jika serangan hama sudah mencapai ambang 10 % baru dilakukan pengendalian dengan cara disemprot dengan pestisida. Hama yang biasa menyerang antara lain ulat daun dan Rengit (Penghisap daun).Panen dilakukan saat tanaman berumur 55 HST atau saat daun sudah menunjukkan tanda-tanda penuaan yaitu berkuarangnya bulu di daun, gagang sudah memutih dan sudut antara batang dan pangkal daun mulai melebar. Panen dilakukan pada pagi hari hingga menjelang siang. Dua sampai 3 lembar daun pasiran tidak dipanen dan dibiarkan menjadi krosok dan akan dipanen saat tembakau sudah habis. Pemanenan dilakukan dengan memetik 3-4 lembar daun dan dilakukan setiap 7 hari sekali hingga semua daun habis.Setelah panen daun disortir sesuai dengan tingkat kematangan daun dengan cara mengelompokkan daun menjadi 3 kelompok yaitu: hijau, kuning dan kecoklatan. Daun diatur dengan pisisi berdiri dan diikat sebesar genggaman untuk diperam agar berubah warna. Lama pemeraman antara 2-3 hari. Selanjutnya tembaku yang sudah matang dirajang dengan menggunakan mesin perajang atau manual pada malam hari sehingga pada saat terbit matahari proses rajang dan eler sudah selesai. Tembakau segera dieler diatas widig dengan ketebalan 2-3 cm kemudian dijemur diatas para-para selama 2 hari.Tembakau yang sudah keringharus dilemaskan dahulu dengan cara diangin-anginkan. Daun yang sudah lemas kemudian dilipat dengan rapi kemudian dimasukkan kedalam kerangjang yang sudah dilapisi dengan batang pisang yang sudah dikeringkan. Atur daun tembakau Kering agar rapi dan tidak rusak. Daun tembakau tidak boleh terlalu ditekan (dipres). Berat satu keranjang tembakau berukuran kecil antara 35-40 Kg dan keranjang besar antara 55 sd 60 Kg. Tembakau siap untuk dipasarkan.Harga tembakau dipengaruhi oleh kualitas tembakau itu sendiri dan ketersediaan stock barang. Namun demikian yang paling berpengaruh tinggi adalah kualitas tembakau tersebut. Harga pemanenan tahap satu akan berbeda dengan panen tahap kedua dan seterusnya. Rata-rata harga tembakau pada musim tanam tahun 2018 ini berkisar Rp. 30.000,-. Harga ini cukup bagus bila dibandingakan dengan harga pada tahuun sebelumnya. Provitas tembakau di kecamatan juwangi rata-rata 22- 25 Kw/Ha. Dengan biaya produksi mencapai 22-25 juta/Ha petani masih mampu menyisakan laba bersih 42 Juta/Ha. Keuntungan sebesar ini akan mampu menjaga kantong petani tetap basah meskipun musim kemarau melanda (Wahyu Nugrahanto, S.Pt)