Loading...

Kendala dan Prospek Budidaya Tanaman Buah Organik

Kendala dan Prospek Budidaya Tanaman Buah Organik
Pertanian organik sebagai sistem produksi yang menghindari penggunaan senyawa sintetik pupuk, pestisida, zat pengatur tumbuh, bahan aktif, dan pakan ternak. Sistem pertanian organik tergantung kepada rotasi tanaman, residu tanaman, pupuk kandang, legumes, pupuk hijau, limbah organik di luar pertanian, dan aspek-aspek pengendalian hama secara biologis untuk memelihara produktivitas dan pengolahan tanah, menyediakan hara tanaman dan mengendalikan serangga, gulma, serta organisme pengganggu tanaman lainnya. Di pihak lain, secara ekstrim menyatakan pertanian organik sebagai usaha budidaya usaha pertanian yang hanya menggunakan bahan-bahan alami, baik yang diberikan melalui tanah maupun yang langsung kepada tanaman atau hewan budidaya. Walaupun pada prinsipnya pertanian organik lebih bersahabat atau selaras dengan lingkungan dan tidak merusak serta mencemarkan lingkungan, namun dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia masih mengalami beberapa kendala berikut: 1. Biaya yang relatif mahal, terutama karena jumlah pupuk organik yang diperlukan cukup banyak sebesar 15 ton/ha/tahun jika kadar airnya 30%. Setelah 2-3 tahun, jumlah ini dapat dikurangi menjadi sekitar 7 ton/ha/tahun. 2. Mutu dan ketersediaan pupuk organik belum terjamin baik. Seseorang tidak dapat mengetahui dengan pasti tentang mutu dan konsistensi dari pupuk organik yang ada di pasar meskipun dari produsen atau penjual yang sama. Kelayakan harga pupuk organik tersebut terhadap mutunya, juga tidak jelas, masih sulit mendapatkan pupuk organik dalam jumlah besar dengan mutu yang sesuai dan konsisten. 3. Sistem pertanian organik belum berimbang. Setelah cukup lama terbiasa dengan keunggulan penggunaan bahan-bahan kimia pertanian pabrik, tidak mudah merubah perilaku petani dan sebagian aparat pertanian untuk menerapkan pertanian organik. Selain itu, pada lahan-lahan yang menerapkan intensifikasi pertanian sudah banyak digunakan bahan kimia dari pabrik. Residu dan dampak lingkungan dari bahan-bahan ini cukup besar sehingga memerlukan waktu yang relatif lama untuk menghilangkan atau menyeimbangkannya. Demikian halnya infrastruktur pertanian organik seperti untuk keperluan standardisasi dan sertifikasi pupuk organik, biopestisida, komoditas hasil pertanian organik serta pengawasannya belum berkembang. 4. Sistem agribisnis yang lemah. Meskipun tidak spesifik berlaku bagi pertanian organik, namun kenyataannya bahwa sistem agribisnis di Indonesia kurang menarik bagi pengusaha/investor. Bersamaan dengan ini, sampai sekarang ketersediaan kredit pertanian sangat tidak dapat diandalkan, apalagi harus membiayai pertanian organik yang membutuhkan biaya pupuk organik per ha per tahun yang cukup mahal.Kendala lain adalah ketersediaan alat dan mesin pertanian masih kurang, akibatnya makin sulit bagi petani mengangkut, menyebar dan mengaduk pupuk organik ke dalam tanah. Selain itu, tanpa alat mesin pertanian akan sulit bagi petani memperluas lahan garapannya dan meningkatkan mutu usahataninya. Meskipun dihadapkan pada berbagai kendala, prospek pertanian organik di Indonesia sangat baik seperti:1. Komoditas unggulan tradisional. Indonesia memiliki sebagian besar budidaa buah-buahan tidak menggunakan bahan-bahan kimia pabrik, misalnya duku, durian, manggis, mangga, rambutan, pisang, sukun, nangka, dan lain-lain. 2. Lahan pertanian yang masih luas, belum tersentuh oleh bahan-bahan kimia pabrik sehingga dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian organik terutama di pinggir sungai, danau, dan hutan. 3. Iklim Indonesia yang kondusif untuk berproduksi berbagai komoditi pertanian organik sepanjang tahun, jika air dapat disediakan secara cukup dan teratur sepanjang tahun. 4. Sumber pupuk organik yang cukup bersar. Sampah kota Jakarta (pasar dan rumah tangga) dari kota-kota besar lainnya jika diolah akan menghasilkan kompos setiap hari yang kadar airnya sekitar 30%. Kompos ini cukup untuk pertanian organik bagi seluruh kota Jakarta dan bagian daerah provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten dekat provinsi DKI. Jakarta. Hal yang serupa berlaku bagi beberapa kota besar lainnya dalam volume yang lebih kecil. Selain itu, terdapat sangat banyak limbah pertanian di areal pertanian, misalnya dalam bentuk jerami, tandan sawit kosong, sekam, dan lain-lain.Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian