Loading...

Keong Mas, masih mengancam Upsus Padi.

Keong Mas, masih mengancam Upsus Padi.
Tanaman padi merupakan salah satu komoditas pangan yang harus terpenuhi kecukupannya untuk menunjang kelangsungan hidup penduduk. Salah satu upaya untuk mempertahankan kecukupan pangan adalah melalui pengendalian faktor-faktor pembatas. Salah satu faktor pembatas yang penting adalah serangan hama penyakit.Keongmas merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi di Indonesia. Di wilayah Kecamatan Gringsing misalnya, keongmas telah menjadi hama utama, terutama pada areal sawah yang beririgasi. Tingkat serangan hama tersebutpun tergolong cukup tinggi. Serangan berat umumnya terjadi di persemaian sampai tanaman berumur dibawah 15 HST. Pada tanaman dewasa, gangguan keongmas hanya terjadi pada anakan sehingga jumlah anakan produktif menjadi berkurang. Perkembangan hama ini sangat cepat, dari telur hingga menetas hanya butuh waktu 7–4 hari (Pitojo, 1996). Disamping itu, satu ekor keongmas betina mampu menghasilkan 15 kelompok telur selama satu siklus hidup (60-80 hari), dan masing-masing kelompok telur berisi 300-500 butir (Anonymous, 1993). Seekor keongmas dewasa mampu menghasilkan 1000–1200 telur per bulan (Anonymous, 1995). Beberapa teknologi pengendalian di antaranya pengendalian secara mekanik (pemungutan secara berkala 3 kali seminggu) dan pengendalian secara kimia (moluscida). Beberapa Keuntungan dari Pengendalian Hama Keong mas : a) dapat menghindari kerusakan tanaman terutama di persemaian, tanaman muda dan anakan produktif. b) dapat menghindari kerusakan lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan. c) dapat mengoptimalkan produksi padi sesuai dengan daya dukung lahan. Proses KerusakanKeongmas menyerang tanaman padi sejak di persemaian maupun tanaman berumur di bawah 4 MST. Pada tanaman tua (di atas 4 MST) keongmas cenderung merusak anakan padi. Peningkatan populasi hama keongmas sangat cepat. Proses perkembangan telur hingga menetas menjadi siput-siput kecil membutuhkan waktu 7–14 hari dan jumlah telur yang menetas mencapai 80%. Hama ini terbilang ganas dan keongmas muda (ukuran kecil sampai sedang) tergolong paling ganas menyerang tanaman padi baik di persemaian maupun tanaman padi di sawah, dibandingkan dengan keongmas dewasa. Kondisi LahanKeong mas hidupnya sangat tergantung pada air dan umumnya berkembang pesat pada areal yang tergenang. Apabila lahan berada dalam kondisi tergenang, keongmas akan berkembang cepat dan bila lahan dalam keadaan kering, hama ini masih dapat hidup dengan beristirahat di dalam tanah. Keongmas mampu bertahan hidup dalam tanah sampai 6 bulan lamanya, dan jika mendapat pengairan ia akan berkembang biak kembali. Dampak Pengendalian KimiaHama keongmas termasuk sulit untuk dibasmi secara tuntas. Bila pengendalian dilakukan dengan menggunakan pestisida/kimiawi, keongmas memang dapat terbunuh, tetapi cangkang atau rumahnya akan tertinggal di dalam tanah dan menimbulkan masalah bagi petani yaitu melukai telapak kaki apabila petani masuk ke areal sawah, sehingga petani perlu kegiatan tambahan untuk mengumpulkan cangkang di areal yang telah diberi pestisida. Kemauan PetaniHama ini tidak menurun signifikan populasinya bila pengendalian dilakukan secara individu atau spot-spot kecil, oleh karena itu pengendaliannya harus dilakukan secara kelompok dalam satu hamparan. Keikutsertaan petani secara kelompok dalam pengendalian hama ini menjadi penting, karena keong mas bermigrasi sesuai aliran air dan masuk ke sawah bersama dengan pemasukan air ke lahan. Pengendalian secara persial oleh satu atau dua petani tidak akan mampu mengendalikan hama ini. TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA KEONGMAS YANG DIANJURKANPemasangan Perangkap Telur dan Pemungutan secara Berkala, dengan usaha pengendalian hama keong mas ini merupakan salah satu proses dengan tujuan menekan populasi hama sekecil mungkin ataupun penekanan sampai di bawah batas ambang kerusakan ekonomi. Salah satu teknologi pengendalian yang telah dianggap efektif, murah dan dapat dilaksanakan oleh petani serta berwawasan lingkungan adalah pengendalian dengan menggunakan tiang-tiang perangkap telur dan pemungutan hama secara berkala (3 kali seminggu) sampai umur padi 4 minggu setelah tanam.Tiang perangkap telur dapat digunakan dari bahan kayu, bambu, pelepah rumbia, atau ranting-ranting kayu. Panjang tiang perangkap tersebut berkisar antara 1-1,5 meter dangan diameternya sekitar 1-3 cm atau lebih. Tiang perangkap telur ditancapkan dalam petakan sawah pada kawasan jarak dari pematang antara 1-3 meter dan jarak antar tiang perangkap telur 2-3 meter. Jumlah tiang perangkap telur tidak terbatas, sehingga makin tiang perangkap telur dipasang, maka diharapkan makin banyak pula kelompok telur yang diletakkan. Telur yang ada pada tiang perangkap dibuang secara berkala (seminggu satu sampai dua kali) dengan cara melepaskannya dari tiang perangkap dan selanjutnya dibenamkan ke dalam air atau lumpur.Satu kelompok telur yang dimusnahkan sama artinya dengan pemusnahan 300-500 keong mas apabila kelompok telur tersebut berhasil menetas. Pembuangan kelompok telur keongmas dilakukan secara rutin sehinga perkembangannya secara lambat laun dapat ditekan, sehingga populasi hama ini selalu berada pada tingkat yang tidak menimbulkan kerusakan secara ekonomi. Dalam usaha pengendalian tersebut sangat diharapkan dilakukan secara serentak dalam kelompok, karena bila dilakukan secara individu pengendalian cara ini tidak banyak memberi arti. Telah diketahui bahwa hama ini bermigrasi melalui air irigasi dan masuk ke petak sawah melalui pintu-pintu air sehingga perkembangannya akan pesat kembali. Perkembangan hama ini sangat cepat, dari telur hingga menetas hanya butuh waktu 7-14 hari. Artinya, dalam tenggang waktu satu minggu, hama ini telah banyak kembali walaupun pada tahap tersebut hama ini masih dianggap berukuran kecil tetapi beberapa minggu kemudian serangannya sangat ganas. Pemberian Umpan Perangkap dan Pemungutan secara BerkalaPengendalian dengan umpan perangkap serta dikombinasikan dengan pemungutan keong mas secara berkala baik di areal sawah maupun pada umpan perangkap merupakan salah satu cara yang juga dapat menekan populasi hama tersebut. Apalagi pemberian umpan perangkap dan dikombinasikan pula dengan pemasangan perangkap telur sangat besar pengaruhnya terhadap penekanan populasi hama keongmas. Umpan perangkap keong mas dapat digunakan daun, tangkai, dan batang pepaya. Makanan perangkap tersebut diletakkan secara berjejer di dalam petakan sawah baik sebelum tanam maupun setelah ditanami padi sampai padi berumur 5 minggu setelah tanam. Hal ini tergantung pada banyaknya keongmas yang terdapat di petakan sawah. Jarak antara satu umpan perangkap dengan yang lain antara 1-2 meter dan banyaknya umpan perangkap yang diberikan tergantung pada persedian umpan dan populasi hama tersebut. Untuk memudahkan pemungutan, umpan perangkap sebaiknya ditempatkan dekat dengan pematang.Makin banyak pemberian umpan perangkap lebih baik sehingga hama tersebut akan berkumpul pada umpan perangkap dan lebih mudah dipungut. Selanjutnya keongmas yang terdapat pada umpan perangkap dipungut dan dibuang secara berakala. Sangat dianjurkan keong mas hasil pungutan tersebut diberikan sebagai tambahan pakan itik. Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian perlu pula dikombinasikan dengan pemasangan perangkap telur, sehingga keongmas dan kelompok telur yang menempel baik pada tiang atau di tempat lain segera dibuang, dengan demikian kombinasi perlakuan tersebut akan menjadi lebih efektif. Oleh : Sulistyo Widodo, SP. (THL-TBPP)Sumber : RAKITAN TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA KEONGMAS : Silman Hamidy.2000.