Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementeria Pertanian RI, Dr. Ir. Momon Rusmono, MS., memasuki tahun 2018 untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di Kabupaten Tabanan khususnya di Subak Anyar Suraberata, Desa Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan, dalam rangka melakukan Panen Raya Bersama BBPP Ketindan, TNI, Dinas Pertanian dan Masyarakat pelaksana Upsus padi penanaman tahun 2017. Dalam acara tersebut dihadiri Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan Malang, Kepala BPTP Bali, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Bali, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Kodim 1619 Tabanan, Camat Selemadeg Barat, Babinsa se Kec. Selemadeg Barat, para Penyuluh se-Kabupaten Tabanan, serta anggota kelompok tani/ Subak Anyar Suraberata. Dipilihnya Subak Anyar Suraberata sebagai lokasi pelaksanaan panen padi ini, yang memiliki areal sawah seluas 117 ha, dengan jumlah anggota mencapai 70 orang, dengan produktivitas mencapai 6,3 ton GKP, karena pada areal subak ini akan memasuki masa panen untuk MT Oktober- Maret, yang diperkirakan pada bulan Januari akan panen seluas 117 ha. Dari arahan Kepala Badan untuk mengantisipasi harga menjelang panen, yang biasanya cenderung turun, diharapkan pada semua pihak yang terkait Bulog, Koperasi, Pekaseh, Dinas terkait, termasuk Kodim untuk duduk bersama untuk menjaga agar harga gabah jangan sampai turun dibawah HPP. Juga disampaikan dengan keterbatasan tenaga kerja yang sering menjadi permasalahan bagi petani sehingga di lapangan penanaman padi sering kurang serempak, maka diharapkan para petani melakukan usaha tani secara mekanisasi dengan menggunakan peralatan yang lebih modern. Dikatakan juga bahwa pemerintah secara bertahap akan selalu memfasilitasi kebutuhan alsintan petani seperti traktor, power tresser dan alsintan lainnya dalam uapaya efisiensi penggunaan tenaga kerja sehingga usaha tani lebih menguntungkan. Disampaikan juga mengingat keterbatasan jumlah penyuluh, karena setiap tahun selalu berkurang karena adanya penyuluh yang pensiun, maka diharapkan penyuluh melakukan kaderisasi dengan menumbuhkan penyuluh swadaya, kelompok taruna tani, dalam upaya regenerasi petani yang kini sebagian besar telah berumur diatas 50 tahun. Ditekankan juga para penyuluh agar mengaktifkan kelembagaan penyuluhan yang ada di desa /Posluhdes, yang berfungsi sebagai sumber informasi bagi anggota kelompok tani di wilayah desa tersebut. Juga peran BP3K sebagai Posko pembangunan pertanian di tingkat kecamatan fungsinya ditingkatkan, sabagai sumber informasi teknologi, dan tempat koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian di tingkat kecamatan. Dalam acara diskusi yang dilakukan langsung dengan para anggota kelompok/subak, disampaikan bahwa saat ini harga gabah mencapai Rp. 4.400 / kg, lebih tinggi dari harga dasar yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp. 3.700 / kg. Namun harga tersebut bagi petani masih dianggap belum optimal mengingat kondisi saat ini dalam berusaha tani banyak resiko seperti kegagalan panen, adanya gangguan OPT secara mendadak yang sulit diprediksi sebelumnya, serta harga sarana produksi yang semakin meningkat. Dari perwakilan penyuluh swadaya menyampaikan saat ini petani masih membutuhkan alsin terutama traktor yang cocok dengan kondisi di Bali khususnya di Desa Lalang Linggah yang umunya petak sawahnya sempit-sempit dan berupa terassering. Sementara dari perwakilan penyuluh menyampaikan agar desiminasi teknologi hasil kajian dari Badan Litbang lebih cepat sampai ke petani. Juga disarankan agar operasional penyuluh lebih ditingkatkan, mengingat kondisi saat ini sudah berubah sehingga perlu disesuaikan. (Made Widiada, PP. Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Bali).