Ada beberapa faktor penting dalam menentukan keberhasilan suatu peternakan, salah satunya adalah manajemen pakan, karena berhubungan erat dengan kualitas dan kuantitas produksinya. Seiring dengan berkembangnya peternakan ternak sapi potong, dikembangkan pula berbagai model manajemen pemberian pakan yang lebih efisien, contohnya pemberian makanan penguat (konsentrat). Makanan penguat atau konsentrat merupakan makanan dengan kandungan serat kasar rendah (di bawah 18%). Konsentrat dibedakan menjadi dua yaitu sebagai sumber energi dan sumber protein. Konsentrat sumber energi apabila kadar protein kurang dari 20%, sedangkan apabila berkadar protein lebih dari 20% disebut konsentrat sumber protein.Nutrisi utama dari konsentrat berupa protein dan energi (Soetarno, 2003). Oleh karena beberapa kelebihan dari konsentrat, seperti kandungan nutrien yang lengkap kemudahan penyediaan dan penyimpanannya menyebabkan penggunaannya sangat menguntungkan secara ekonomis. Namun, resiko pemberian pakan ternak ruminansia dengan konsentrat yang berlebih dan hijauan yang sedikit dapat mengakibatkan ternak menderita asidosis. Penyakit ini timbul karena ternak tidak berada dalam kondisi yang nyaman, sehingga mengalami stres. Terutama di indonesia yang beriklim tropis dengan suhu dan kelembaban yang relatif tinggi,sehingga ternak terutama jenis FH mengalami stres akibat cekaman panas (heat stress). Heat Stress ini akan mengakibatkan ternak mengalami penurunan nafsu makan, peningkatan nafsu minum, peningkatan respirasi dan mengeluarkan air liur yang banyak, keringat dan urin. Kasus yang melanjut akan menyebabkan terjadinya penurunan pH darah (Asidosis), penurunan asupan Bahan Kering (DMI) sehingga menyebabkan penurunan produksi susu, gangguan reproduksi dan kesehatan. Definisi asidosis adalah suatu kondisi patologis yang berhubungan dengan akumulasi asam (pH Mikroba anaerobik dalam rumen dan sekum akan melakukan fermentasi karbohidrat untuk menghasilkan VFA (Volatil Fatty Acid) dan laktat. Hewan ruminansia akan menyerap asam organik dari rumen dan usus untuk metabolisme oleh jaringan.Saat pasokan karbohidrat meningkat tiba-tiba yaitu saat menggunakan konsentrat yang memiliki kandungan pati yang tinggi. Pasokan jumlah asam dan prevalensi laktat akan mengalami peningkatan. Biasanya laktat ada di saluran pencernaan dalam konsentrasi yang rendah, tetapi pasokan karbohidrat meningkat dengan tiba-tiba maka jumlah laktat akan menumpuk. Adanya penumpukan asam yang tiba-tiba dapat menyebabkan terjadinya penurunan pH darah dan rumen dan menyebabkan adanya kondisi asidosis. Faktor –faktor umum yang menyebabkan asidosis pada sapi perah antara lain : pakan karbohirat hasil fermentasi yang berlebihan, rasio konsentrat dengan hijauan terlalu tinggi, terlalu cepat beralih dari hijauan ke konsentrat, peralihan pakan dari silase ke hijauan tingkat tinggi yang terlalu cepat, pakan yang rendah kadar serat, pakan yang terlalu segar, hijauan yang dipotong/cacah terlalu kecil, pencampuran TMR berlebih hingga menghasilkan pengurangan ukuran partikel dan adanya mikotoksin.Gejala yang muncul dapat dilihat pada kondisi kaki sapi. Jika muncul tremor(gemetar) dan tidak kuat berdiri,kemungkinan terkena asidosis selain dapat juga disebabkan karena hipocalsemia. Kaki ternak juga mengalami laminitis atau foot rot pun bisa merujuk pada kasus asidosis (gb 1). Dan terjadi penurunan intake/konsumsi pakan konsentrat ataupun hijauan karena ketidaknyamanan ternak didalam sistem pencernaannya dan rasa sakit pada kaki yang mengalami laminitis atau foot rot. Gejala yang spesifik pada pencernaannya mengalami diare yang sangat cair dan berwarna agak kuning atau coklat terang (gb 2). Awal dimulainya asidosis hewan tampak lesu,gerakannya lambat, nafsu makan dan minum menurun. Dilanjutkan dengan dehidrasi yang sangat pada tampilan keringnya cermin hidung,bulu dan bola mata. Dari urin yang dihasilkan akan berwarna kuning, keruh dan jumlahnya sangat minim.Kondisi yang akut (pH Hewan yang mengalami asidosis subacute (pH 5-5,5) jarang menunjukkan tanda-tanda klinis. Biasanya muncul gejala konsumsi konsentrat meningkat, turunnya asupan bahan kering, turunnya konsumsi serat dan terjadi abses hati.Asidosis dapat memberikan efek pada reproduksi sapi yaitu menyebabkan hipofungsi ovarium, Calving interval panjang (>15 bulan), S/C tinggi, tinggi kasus dry open (sapi tidak bunting kembali,tapi produksi susu sudah turun, DIM >210 hari). Pada status kesehatan hewan, asidosis dapat menyebabkan sapi ambruk karena kekurangan Calsium, luka akan susah sembuh karena selalu basah dan susah kering. Produksi susu yang dihasilkan sapi yang terkena asidosis secara kualitas akan turun pada Total Solid, BKTL,Lemak dan Protein).Pengendalian asidosis adalah manajemen nutrisi misalnya dengan membuat formulasi keseimbangan antara asupan karbohidrat sumber pati tinggi (singkong,gaplek,onggok), protein (bungkil kedelai) dan hijauan sebagai sumber serat misalnya bungkil sawit atau dedak. Cara memperkenalkan ransum yang baru dengan hati-hati dan jangan merubah ransum pakan secara mendadak karena akan mengubah pH secara cepat sehingga akan mengganggu pertumbuhan mikroba rumen.Ada juga pencegahan asidosis dengan pemberian feed additive yang tepat untuk memodifikasi fungsi rumen dan menstabilkan pH rumen dengan baik, sehingga kesehatan rumen terjaga yang akhirnya dapat mencegah terjadinya asidosis misalnya penambahan probiotik atau yeast dalam pakan sapi perah.Untuk menangani kasus asidosis dengan menghentikan sementara pakan konsentrat dan disubtitusi dengan hijauan/rumput segar, pemberian larutan Sodium Bikarbonat (NaHCO3) 2,5% sebanyak 500ml secara perlahan melalui intravena. Atau pemberian secara oral 2 kali sehari Soda Roti sebanyak 250 grm. Dan bila pH rumen Sumber :1. In House Training " Teknik Penanganan Acidosis Metabolik, Laminitis dan Urolithiasis Pada Pejantan. Balai Inseminasi Buatan Lembang Tahun 2014.2. http://bbptusapiperah.ditjennak.pertanian.go.id/statis-27-informasipeternakan.html