Loading...

Kerjasama Penyuluh dan Kontak Tani dalam Difusi Inovasi Sebagai Upaya Meningkatkan Efektivitas Penyuluhan

Kerjasama Penyuluh dan Kontak Tani dalam Difusi Inovasi Sebagai Upaya Meningkatkan Efektivitas Penyuluhan
Peranan Penyuluh dan Kontak Tani dalam Difusi Inovasi Penyuluh dan kontak tani merupakan aktor penting dalam kegiatan penyuluhan. Mereka memiliki peranan dan kedudukan masing-masing yang saling terikat satu sama lain. Kartasapoetra (1994) dalam Marius et al (2007), mengatakan bahwa ada lima tugas penyuluh, antara lain (1) menambah pengetahuan kepada para petani sehingga mereka menjadi cakap dan mampu berusaha tani lebih baik, (2) memotivasi para petani agar mengarahkan usaha taninya demi meningkatkan produksi, (3) menambah pengetahuan petani tentang inovasi-inovasi baru, (4) mengembangkan bakat-bakat petani di bidang usaha tani, dan (5) membentuk masyarakat petani yang mandiri dan percaya diri. Penyuluh sebagai sumber inovasi pertanian membutuhkan kontak tani yang merupakan opinion leader dari kelompoknya sehingga memungkin terjadinya kerjasama yang efektif antara keduanya apabila mereka bertanggung jawab penuh terhadap fungsinya masing-masing. Dalam hal ini kontak tani memiliki kedudukan setara dengan penyuluh, kontak tani itu bukan bawahan penyuluh melainkan teman sekerja atau partner (BPLPP, 1981:38). Sebelum menjalani tugas dan kedudukannya, penyuluh dan kontak tani harus memiliki syarat-syarat pokok dalam proses difusi inovasi. Penyuluh sebagai pendidik pertanian harus mampu menguasai informasi inovasi yang didapat dan yang terpenting harus fokus serta mempertanggungjawabkan semua fungsi yang harus dijalankannya. Di sini juga peran pemerintah sangat dibutuhkan. Perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan penyuluh (dalam konteks penghasilan) dapat memotivasi mereka untuk menjalankan fungsinya secara efektif. Sedangkan dalam BPLPP (1981:37), kontak tani yang berperan sebagai partner penyuluh memiliki dua syarat penting, antara lain (1) kontak tani merupakan petani yang mengelola usaha taninya dan (2) kontak tani adalah pemimpin atau ketua dari kelompok taninya. Kontak tani yang mengelola usaha taninya sendiri maksudnya petani yang melakukan kegiatan pertanian demi mengembangkan usaha taninya sebagai sumber nafkah bukan hanya karena kesenangan semata, sehingga kontak tani yang dipilih oleh anggota kelompoknya memiliki orientasi yang sama dengan anggota-anggota lainnya. Kontak tani sangat dibutuhkan keterlibatannya dalam penyusunan programa penyuluhan, sehingga penyuluh tidak hanya melakukan sesuatu untuk petani tetapi melakukan kegiatan bersama petani dengan ikut serta memberikan masukan-masukan dalam mengelola usaha tani (Herawati dan Pulungan 2006). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Penyuluh dan Kontak Tani dalam Difusi InovasiPenyuluh sebagai pendidik pertanian dituntut untuk mampu menguasai informasi inovasi, apabila seorang penyuluh tidak menguasai materi yang akan disampaikan maka proses transfer inovasi tersebut dapat terhambat penyebarannya. Selain itu, faktor lain yang dapat menghambat kinerja penyuluh adalah masalah pendapatan. Penyuluh yang pendapatannya kurang mencukupi seringkali mencari pekerjaan lain untuk menutupi kekurangan itu, misalnya dengan menjadi "pelayan pemerintah", akibatnya tugas penyuluh yang khusus tidak dijalankan dengan semestinya. Marliati, et al (2008) menjelaskan bahwa kinerja penyuluh pertanian dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal penyuluh di sini adalah kompetensi penyuluh pertanian, kompetensi penyuluh dalam berkomunikasi, membelajarkan petani, dan berinteraksi sosial. Sedangkan faktor eksternalnya yaitu karakteristik sistem sosial (perubahan dalam system sosial akibat intervensi pembangunan pertanian). Faktor internal kontak tani yang menjadi indeks ukurnya adalah pendidikan, pengalaman, pekerjaan, dan pendapatan. Sedangkan faktor eksternalnya antaralain, intensitas penyuluh, kekosmopolitan, frekuensi komunikasi, dan keikutsertaan organisasi. Solusi dalam Mengatasi Hambatan-Hambatan Difusi InovasiPenyampaian informasi inovasi yang baik harus didukung dengan model komunikasi dan media komunikasi yang baik pula. Pemilihan model komunikasi dan media komunikasi yang tepat dalam proses difusi inovasi akan meningkatkan efektifitas penyuluhan. Rogers (1985) dalam Idris (2002) menyatakan bahwa model komunikasi linier yang bersifat instruktif, berjalan searah, dan disampaikan secara singkat kurang tepat dengan kondisi masyarakat pedesaan, sebab model komunikasi linier tersebut biasanya disampaikan melalui saluran-saluran formal. Sedang kita ketahui bahwa masyarakat pedesaan secara sosiologi tergolong dalam primary society relatif kurang menyukai hal-hal yang bersifat formal. Model komunikasi interaktif dianggap lebih efektif karena dalam penyampaian pesannya menggunakan saluran informal yang dibentuk secara swadaya dan swakelola oleh masyarakat desa. Saluran informal dalam model komunikasi interaktif dapat berupa media lokal yang disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. Media lokal yang sesuai dengan karakteristik suatu daerah akan menjadi sebuah saluran yang efektif dalam menyampaikan informasi, khususnya dalam proses difusi inovasi. Dalam mengatasi hambatan difusi inovasi kinerja penyuluh dan kontak tani harus dilakukan dengan peningkatkan kompetensi penyuluh (kemampuan berkomunikasi, menjalin relasi, menggunakan media komunikasi,dll) dan meningkatkan kerja yang berkaitan dengan tugas utama penyuluh pertanian (pengembangan perilaku inovatif, penguatan partisipasi petani, penguatan kelembagaan petani, penguatan akses terhadap berbagai sumberdaya, penguatan kemampuan petani berjaringan, dan kaderisasi). Komunikasi yang baik oleh kontak tani dalam proses difusi inovasi ini menyangkut cara penyampaian yang sesuai dengan pemilihan kata-kata yang tepat disesuaikan dengan karakteristik petani tersebut. Apabila seorang kontak tani telah mampu berkomunikasi dengan baik maka proses interaksi dengan sekitar pun dapat terbentuk.Sumber : Kerjasama Penyuluh dan Kontaktani, Wahyuni 90 (Penulis: Hasan Latuconsina)