Loading...

KESUBURAN TANAH DAN PRODUKTIVITAS LAHAN

KESUBURAN TANAH DAN PRODUKTIVITAS LAHAN
Dengan terpenuhinya persyaratan kondisi fisik dan lingkungan bagi tanaman tebu, semua jenis tanah dapat dikembangkan menjadi perkebunan tebu. Yang perlu mendapat perhatian adalah tingkat kesuburan tanah dan lingkungan serta kesesuaian lahannya sehingga dapat dikelola untuk memperoleh produktivitas yangdiharapkan bagi tanaman tebu. Perlu dibedakan antara pengertian kesuburan tanah dan produktivitas lahan. Kesuburan tanah berkaitan erat dengan faktor-faktor fisik, kimia, dan biologi tanah. Tingkat kesuburan tanah merupakan interaksi dan hasil kerjasama antara ketiga faktor tersebut yang berlangsung secara serempak pada lingkungan pertumbuhan tanaman. Produktivitas lahan merupakan hasil akhir dari interaksi antara ketiga faktor pada kesuburan tanah dengan agroklimat lingkungannya serta sistem pengelolaan lahan. Dalam sistem pengelolaan pertanian/perkebunan yang maju, produktivitas lahan dapat ditingkatkan menjadi lebih besar dengan memanfaatkan pengaruh interaksi antara pemupukan dengan pengairan, pemupukan dengan varietas yang berproduksi tinggi, pemupukan dengan pengolahan tanah, dan pemupukan dengan perlindungan tanaman (pengendalian hama, penyakit dan tumbuhan pengganggu). Hal ini sangat bergantung pada sistem pengelolaan (manajemen) perusahaannya.Pada kondisi alami di lapangan (kebun), perbandingan volume air dan udara di dalam tanah berat sering bergeser, yaitu volume udara menjadi lebih kecil. Sedangkan pada tanah yang ringan (pasir) terjadi sebaliknya karena lebih sering bergeser memperbesar volume udara di dalam tanah. Berkaitan dengan hal tersebut, upaya untuk meningkatkan daya guna pupuk bagi tanaman tebu pada tanah-tanah semacam itu, memerlukan tindakan pengelolaan tanahdan pengelolaan lahan yang sesuai agar diperoleh perbandingan yang berimbang yaitu 25 % udara dan 25 % air terhadap volume tanah total. Macarn tindakan yang diperlukan pada kedua tipe tanah yang sifatnya berbeda tersebut harus tidak sarna, misalnya mengenai keadaan got (saluran) drainase, kedalaman juringan atau kairan, perulangan pengairan dan tindakan pengelolaan lainnya. Kondisi perbandingan persen volume udara dan air akan sangat berpengaruh antaralain terhadap kemampuan akar tebu untuk menyerap hara. Sebagai contoh diambil pengaruh volume udara di dalam tanah terhadap penyerapan hara K2O tanah yang diteliti oleh Hare (1963). Perolehan kadar K2O tertinggi ialah pada kondisi yang lebih-kurang 25% dari volume total tanah berisi udara (O2)• Kadar K2O yang tertinggi itu berarti pula kemampuan tertinggi akar tebu menyerap unsur hara K2O dari dalam tanah. Kondisi volume udara optimal di dalam tanah dieapai dengan mengadakan pengolahan dan pengelolaan tanah yang baik, di antaranya dengan pembuatan juringan (kairan) yang cukup dalam misalnya 30 cm, penggunaan bahan organik baik berupa pupuk hijau, pupuk kandang, kompos ataupun blotong. Bahan organik ini akan memperbaiki struktur tanah sehingga volume udara (aerasi) tanah mendekati optimal untuk penyerapan dan pertumbuhan tanaman. Sudah barang tentu keadaan drainase lahan (lapangan) tidak dapat diabaikan. Hal yang sejalan dijumpai juga pada hubungan pengaruh kedalam juringan dan dosis pupuk AS (amonium sulfat) terhadap hasil gula hablur di tanah aluvial pada empat varietas tebu. Pada kedalaman juringan 10 cm, kondisi fisik lingkungan tidak mendukung pertumbuhan keempat varietas tebu walaupun dosis pupuknya ditingkatkan hingga 11,3 ku AS ha-1. sedangkan pada juringan sedalam 40 cm temyata untuk varietas Ps 57, Ps 58, dan Ps 59 hasil hablur gulanya menurun. Kedalaman juringan 30 cm ternyata dapat mendukung pertumbuhan keempat varietas tersebut, termasuk BZ 148 (M 442-51), sehingga daya guna pupuk AS dapat ditingkatkan. Telaah awal mengenai kelembaban tanah berkisar pada teori bahwa kelembaban tanah (kandungan air tanah) sama tersedianya pada semua kandungan air tanah antara kapasitas lapangan maksimum dan titik layu permanen.Pada tahun-tahun yang lebih akhir telah terjadi peralihan menuju konsep energi ikatan yang menentukan tahanan air di dalam tanah, dan menuju kepada aliran dan agihan air di dalam tanah karena pengaruh kekuatan yang bersangkutan. Beberapa ciri profil tanah baik sekali dan praktis untuk diukur dan digunakan. Salah satu di antaranya adalah kapasitas infiltrasi atau laju perembesan yaitu kecepatan maksimum masuknya air menuju ke bawah ke dalam tanah. Jumlah ini mempunyai arti yang penting bagi hidrologi, erosi tanah dan irigasi. Agar persediaan air selalu tersedia bagi pertumbuhan tanaman tebu, dan karena kandungan air di dalam tanah senantiasa berubah sejalan dengan waktu dan kedalamannya, maka irigasi yang akan dilakukan harus dihitung 24 jam setelah irigasi, dan ini dianggap sebagai kisaran batas atas kelembaban tanah. Richards (1957) mengemukakan, perlunya pengukuran energi ikatan air (water biding energi) meliputi seluruh kisaran yang memungkinkan pertumbuhan atau kelangsungan hidup tanaman tebu jika profil tanah mengering. Dengan demikian akan diperoleh karakterisasi tanah-tanah lahan perkebunan tebu. Dengan menelaah hubungan energi-kelembabannya (kandungan air tanahnya) akan menghasilkan pengelolaan teknologi irigasi di perindustrian gula. Penulis : AgusSutarman,PenyuluhPertanianPusat.Email :agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.Sumber Gambar : www.qrbiz.com