Loading...

KETERSEDIAAN AIR IRIGASI

KETERSEDIAAN AIR IRIGASI
Pada dasarnya irigasi merupakan pengelolaan air untuk berusaha tani. Air yang dapat dikelola untuk irigasi sangat tergantung pada ketersediaannya, sumber air, dan musim. Ketersediaan air irigasi sangat dipengaruhi oleh sumber air dimana air irigasi tersebut disadap. Sumber air irigasi yang berasal dari sungai maupun air tanah dangkal pada umumnya mempunyai fluktuasi yang tinggi dan dipengaruhi oleh musim, yang berarti ketersediaanya cukup tinggi di musim hujan dan menurun di musim kemarau. Dengan adanya perubahan iklim global saat ini, musim kemarau berarti kekeringan, dan musim hujan identik dengan banjir. Apabila sadapan air berupa bendung yang pada dasarnya hanya meninggikan permukaan dan mengarahkan air, maka volumenya sangat tergantung curah hujan, dan biasanya waktu tanam harusnya disesuaikan dengan musim, yang sulit diperkirakan dengan adanya perubahan iklim. Sebaiknya ketersediaan air irigasi yang berasal dari sumber air yang berupa danau, waduk dan air tanah dalam, relatip stabil dan tidak terlalu dipengaruhi oleh kondisi musim. Dengan adanya reservoar air, maka pengelolaan atau pemanfaatan air lebih leluasa, sekalipun dibatasi dengan kebutuhan air untuk tanaman dan jumlah air air yang dapat dilepas. Namun demikian luasan sawah yang diairi yang berasal dari sumber air ini relatif lebih kecil dibanding sadapan bendung dan atau tadah hujan. Untuk keperluan perencanaan pada umumnya menggunakan dependable flow (debit andalan) dengan probabilitas atau peluang 80%, atau dengan rumus berikut: , ,dimana = adalah urutan debit (Q) yang akan diambil sebagai debit (Q) andalan N = adalah banyaknya tahun pengamatan Dalam hubungannya dengan penyediaan air untuk petak tersier, ada 4 aspek yang cukup penting untuk diperhatikan yaitu: (1) Alokasi air untuk petak tersier, (2). Ketersediaan air aktual dalam hubungannya dengan alokasi tersebut, (3). Pemberian air kepada petak tersier, (4). Realibilitas dari air tersedia, dengan uraian sbb:1. Alokasi air untuk petak tersier; Alokasi air umumnya diberikan setiap 10 15 hari, yang berdasarkan kepada rencana pertanaman/pola tanam, tanaman yang ada di lapangan, ketersediaan air yang diharapkan, dan karakteristik dari jaringan utama. Dalam melaksanakan rencana tersebut, keadaan lapangan terus menerus diadakan pemantauan. Dari hasil pemantauan keadaan lapangan tersebut selanjutnya dapat ditentukan kebutuhan irigasinya, sehingga alokasinya dapat ditentukan apakah menggunakan metoda pasten, ataukah faktor k. Secara umum, metoda faktor k lebih banyak digunakan karena relatif lebih sederhana. Bila alokasi debit sesuai dengan debit rencana, nilai faktor k=1, namun bila debit yang dialokasikan lebih rendah dari yang dibutuhkan, maka nilai faktor k harus dilakukan koreksi.2. Ketersediaan air aktual; Ketersediaan air aktual yang sebenarnya dapat dilakukan dengan mengadakan pengukuran di tempat yang tepat. Ketersediaan air aktual ini selanjutnya dibandingkan dengan jumlah air yang harus dialokasikan.3. Pemberian air ke petak tersier; Jumlah air yang diberikan ke petak tersier akan berpengaruh terhadap jadwal pembagian air. Jadwal pemberian air ini akan sangat tergantung dari jumlah air yang tersedia di pintu sadap tersier dan jenis tanaman yang diusahakan. Untuk Padi sawah misalnya pastilah lebih tinggi dibanding tanaman palawija, seperti Jagung, atau Kedelai. 4. Reliabilitasi; Reliabilitas penyediaan air irigasi adalah sangat penting artinya dalam rangka pengelolaan irigasi secara keseluruhan. Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap. MMEmail : Ali.bosarharahap@yahoo.co.idSumber : Direktorat Pengelolaan Air Irigasi. 2014. Modul Pelatihan Pengelolaan Air Tingkat Usaha Tani, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. Kementerian Pertanian. Jakarta 43 halaman Hal 4 - 5.Sumber Gambar : http://beritadaerah.co.id/2013/08/13/pembangunan-irigasi-ringo-lojok-kab-landak/