Adalah Sarjono (45) tahun,seorang petani di Kelurahan Petuk Bukit Kecamatan Rakumpit Kota Palangka Raya telah berhasil membudidayakan kol di lahan marjinal; berpasir campur gambut.Lahan yang semula tandus dan hanya ditumbuhi tanaman jenis pakis (baca:kalakai) dan alang-alang ini telah berhasil disulap menjadi hamparan tanaman kubis varietas F1 Grand 22 yang subur dan sudah memberikan pendapatan yang cukup untuk menopang kehidupan keluarganya."Tidak terlalu susah untuk membudidayakan kol ini,yang penting pupuk kandangnya cukup pada awal pertumbuhan sudah 60 persen insa Allah berhasil"ujarnya.Lebih lanjut menurutnya bahwa selama pertumbuhan digunakan pupuk organik yang mengandung N,P dan K yang seimbang.Faktor cuaca menurut petani yang baru pindah dari Dadahup Kabupaten Kuala Kapuas ini menyatakan bahwa yang penting tidak terjadi kemarau panjang dan bencana asap,maka kendala selama ini seperti pengendalian hama dan penyakit bisa diatasinya."Pada waktu bencana asap tahun 2015 kemarin praktis semua tanaman pertanian yang saya budidayakan tidak berhasil"katanya sambil mengenang pengalaman pahitnya bertani yang gagal selama musim kemarau panjang dan bencana asap. Jika hujan dengan curah yang tinggi,maka dibuatkan bedengan yang agak tinggi sekitar 30 cm.Ini dilakukan untuk menghindari agar tanaman tidak sampai terendam.Karena lahan yang digunakan berpasir,walaupun curah hujan tinggi akan segera kering karena cepat di serap oleh tanah yang mengandung pasir.Dia berharap agar dapat membudidayakan jenis tanaman ini dalam hamparan yang lebih luas yakni 1 (satu) sampai 2 (dua) ha.Dengan luasan yang banyak, maka diharapkan akan bisa mendatangkan keuntungan yang lebih besar pula."Dengan luasan lahan budidaya sekitar 1000 m2 saja sudah cukup memberikan pendapatan buat kami sekeluarga,apalagi sampai 2 hektaran?"katanya penuh yakin.Mengenai pemasaran,dia menceritakan bahwa pembeli datang langsung ke kebunnya dan sampai kewalahan melayani pembeli.Kualitasnya bahkan tidak kalah dengan yang didatangkan dari luar.ujarnya dengan logat Jawa yang masih kental.Sebagai gambaran bahwa berat per buahnya bisa mencapai 1,5 sampai 1,7 kilogram.Per kilogramnya dijual dengan harga cukup murah yakni Rp 7.000,- bahkan juga sering dijual dengan harga "kemanusiaan". katanya dengan santai tanpa mau menjelaskan apa maksudnya istilah itu. Pada kesempatan ini dia mengucapkan banyak terima kasih kepada Penyuluh yang sudah membantunya berupa bantuan pupuk dan pembinaan. Kedepan dia berharap agar dapat dibantu oleh instansi terkait untuk mengembangkan jenis tanaman ini menjadi lebih luas,karena di Palangka Raya komoditi ini didatangkan dari pulau Jawa yang dapat dipastikan harganya pasti cukup mahal ketika sampai di sini,ujarnya penuh harap. (Syamsurizal M, S.Pt / Penyuluh Pertanian)