Jagung adalah salah satu tanaman penting di Pulau Madura, selain padi, tembakau, kacang-kacangan dan lainnya. Varietas Jagung lokal masih menjadi pilihan utama bagi petani-petani di daerah tersebut. Lebih dari 80 persen petani di Madura masih menggunakan varietas jagung lokal. Di tengah penawaran gencarnya promosi para perusahaan benih jagung hibrida maupun komposit, dan dukungan pemerintah melalui berbagai program penananaman varietas baru,tentu menarik untuk mengetahui rahasia keunggulan jagung lokal Madura."Rasanya enak dan tidak keras", kata seorang peserta perempuan dengan cepat. Ini rahasia pertama. Di tengah kepungan budaya makan beras, orang Madura dikenal masih mempertahankan makan jagung yang dibuat berbagai panganan, seperti nasi jagung, atau mencampurnya dengan beras. Karena itu, rasa menjadi salah satu komponen pilihan varietas jagung yang akan ditanam. Para petani mengakui mereka juga menyukai makan beras, namun jagung adalah makanan yang tidak boleh ketinggalan, karena menurut mereka, "sudah kebiasaan. Selain itu ada anggapan kalau belum sarapan nasi jagung nggak kuat kerjanya. Jagung dianggap lebih sehat, dan sudah turun temurun."Para petani menanam jagung untuk dimakan sendiri. Beberapa petani pernah menanam jagung hibrida, tapi sebagian besar dijual. Kalaupun dimakan, menurutnya hanya enak untuk jagung bakar. Selain itu, jagung lokal juga digunakan untuk pakan ternak, seperti ayam. Jagung hibrida menurut para petani tidak disukai oleh ayam, karena bijinya besar-besar dan keras. Sementara jagung lokal bijinya lebih kecil, sehingga ayam dan burung bisa juga memakannya.Sementara untuk jagung hibrida, petani mungkin kurang memiliki banyak pengalaman dalam menanam jagung hibrida, sehingga tidak bisa spesifik menyebut hasil panenannya.Tetapi para petani lebih banyak menanam jagung lokal karena benihnya lebih mudah diperoleh. Selama ini petani mendapatkan benih kedua varietas lokal tersebut dengan cara menyimpan sebagian kecil dari panenannya, beberapa saling bertukar dengan petani lain, atau meminjam dari petani lain dan mengembalikannya setelah panen.Sementara benih jagung hibrida jika dibeli dari toko harganya berkisar Rp.50 ribu sampai Rp.75 ribu. Selama ini beberapa petani mendapatkan benih jagung hibrida dari pemerintah setempat melalui bantuan benih. Selain itu, hasil jagung hibrida tidak bisa dibenihkan untuk ditanam kembali, karena keturunan keduanya akan menghasilkan panenan yang lebih sedikit jumlahnya. "Mungkin hanya separuh tongkol yang terisi biji", kata petani.Biasanya petani menanam jagung bergantian dengan tanaman lain, yaitu padi, tembakau, kacang-kacangan. Dan seringkali menanamnya secara bersama-sama (tumpangsari) dengan berbagai macam tanaman lain, seperti sayur-sayuran, dan singkong.Dalam budidaya jagung lokal, beberapa hambatan yang ditemui petani adalah cuaca yang tidak menentu, seperti kemarau yang terlalu panas, penanaman yang dianggapnya tidak tepat waktu. Jagung lokal juga kadang-kadang diserang penyakit bulai, namun menurut pengalaman petani, hanya sebagian kecil saja yang terkena penyakit yang disebabkan oleh cendawan tersebut.Bagi petani, tanaman jagung tidak hanya untuk manusia, batang dan daunnya digunakan untuk pakan ternak. Terutama untuk ternak, petani akan berupaya menanam jagung, walaupun hasilnya tidak maksimal, demi sapi dan kambing yang dipeliharanya."Walaupun gagal panen, masih disyukuri, kalau gagal panen, pangan manusia masih bisa beli di toko. Tapi pakan seperti rumput nggak ada yang jual", kata Mat Sadin, salah seorang petani jagung.Setelah panen, petani biasanya akan menyimpannya, selain untuk benih juga konsumsi sendiri dan pakan ternak. Keunggulan jagung lokal, adalah lebih tahan simpan dibanding jagung hibrida. Berdasarkan pengalaman, jagung lokal dapat disimpan bisa lebih dari setahun, minimal sampai musim berikutnya. Petani di Madura menyebutnya, tahan hama kutu gudang. Sementara jagung hibrida, dalam satu bulan, sudah mulai rusak dan kemudian menjadi bubuk alias mudah terkena kutu gudang.Demikian juga ketika jagung digiling atau ditumbuk untuk dibuat nasi jagung. Dari 1 kg jagung lokal yang digiling, hanya 1/3 kg menjadi dedak. Sementara untuk jagung hibrida, lebih dari 50 persen menjadi dedak.Dengan kelebihan yang dimiliki oleh jagung lokal, dari varietas hibrida maupun komposit, dianggap belum cukup menutupi 'kekurangan' varietas lokal, yaitu produktivitas. Dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh jagung lokal madura tentunya sepatutnya kami selalu menjaga kelestraian jagung lokal madura ditengah gempuran varietas jagung hibrida dan komposit yang ada dipasaran.Diupload oleh Rizal Musthofa, SP (Penyuluh BPP Ambunten)Sumber : beritabumi.or.id