Padi varietas unggul baru merupakan salah satu terobosan inovasi teknologi yang paling mudah diadopsi petani karena teknologi ini murah dan sangat praktis. Memilih varietas unggul baru padi gogo yang dapat beradaptasi baik, sangat perlu kita lakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Situ Patenggang memiliki pertumbuhan dan komponen hasil yang baik. Varietas Situ Patenggang memiliki pertumbuhan awal yang cepat, tinggi tanaman pada saat panen sesuai dengan keinginan petani, gabah berisi yang banyak serta gabah hampa yang sedikit. Situ Patenggang memberikan hasil tertinggi yaitu 4,47 ton ha-1 berbeda dengan varietas lainnya. Varietas Situ Patenggang merupakan varietas yang sangat potensial untuk dikembangkan. Keunggulan / nilai tambah inovasi :? Mampu mempertahankan sumberdaya lahan dari bahaya erosi dan run off? Biaya persiapan lahan dan pengolahan tanah hanya 60% dibandingkan cara konvensional (babat, bakar, cangkul).? Mampu meningkatkan produktifitas tanaman dan pendapatan petani, masing-masing 40% dan 90%.Cara penerapan inovasi :1) Persiapan lahan Semak/belukar yang ada di lahan yang akan digunakan dibabat dengan parang dan dibuang keluar areal, sementara rumput dan alang-alang disemprot dengan herbisisia berbahan aktif glfiosat. Tiga minggu setelah disemprot, rumput dan alang-alang sudah mengering kemudian direbahkan dengan cara menggelindingkan drum.2) Pengolahan tanah Tidak perlu dilakukan pengolahan tanah, cukup dengan menguakkan gulma yang telah mengering pada bakal barisan (jarak 40 cm) yang yang akan ditanami Situ Patenggang. Gulma yang telah mengering tersebut berguna sebagai mulsa (pada musim kemarau) dan pencegah erosi pada musim hujan terutama pada lahan miring.3) Pengapuran Taburkan kapur pertanian (kaptan) takaran 2 t/ha pada barisan yang terbuka dan aduk dengan tanah menggunakan cangkul sedalam lebih kurang 20 cm.4) Penanaman benihBuat lubang tanam dengan bantuan tugal, sedalam 3 - 5 cm, jarak tanam dalam barisan 10 cm. Masukkan 5 – 7 butir benih Situ Patenggang yang bermutu dan 5 -10 butir Curater ke dalam setiap lubang.5) PemupukanBuat larikan berjarak 3 - 5 cm, sedalam 2 – 3 cm sepanjang barisan benih, masukkan campuran 1/3 bagian urea, seluruh SP36 dan setengah bagian KCl kedalam larikan sebagai pupuk dasar, kemudian ditutup dengan tanah, yang sekali gus juga akan menutup lubang benih. Pupuk susulan pertama diberikan tiga minggu kemudian, berupa 1/3 bagian urea, dan 1/2 bagian KCL, sedangkan pupuk susulan kedua berupa 1/3 bagian urea diberikan pada umur 6 minggu setelah tanam (sesaat setelah penyiangan).6) PenyianganPenyiangan bertujuan mencegah jangan sampai terjadi persaingan antara tanaman dan gulma dalam memperoleh kebutuhan hidupnya (air, unsur hara, sinar matahari, oksigen). Malah ada gulma tertentu yang mampu mengeluarkan bahan kimia tertentu ke lingkungan yang bisa meracuni tanaman (allelopati) oleh karena itu kehadirannya harus dicegah pada saat yang tepat, yaitu sekitar 3 dan 6 minggu setelah benih ditugalkan. Pengendalian gulma sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pembumbunan menggunakan alat bantu kored dan atau cangkul.7) Pengendalian hama dan patogenHama utama padi gogo adalah walang sangit, sedangkan patogen utama adalah Pyricularia oryzae yang menyebabkan penyakit blas. Jika sanitasi pertanaman tidak dijaga dan OPT utama tidak dikendalikan, besar kemungkinan tidak ada hasil yang bisa dibawa pulang. Untuk mengendalikan kedua jenis OPT utama ini telah banyak beredar di pasaran dengan formulasi dan nama dagang yang beragam. Informasi lain yang perlu ditonjolkan :? Teknologi ini cocok diterapkan pada lahan kritis/padang alang-alang atau sebagai tanaman sela di antara karet muda (berumur kurang dari 4 tahun) atau sawit muda (berumur kurang dari 2 tahun).? Sebaiknya lahan ditanami terus-menerus (jangan diberakan), sepanjang penetrasi cahaya matahari masih memungkinkan tanaman tumbuh dan berproduksi optimal. Dengan cara ini biaya persiapan lahan makin lama makin berkurang, sementara produktifitas tanaman makin lama makin meningkat seiring dengan makin meningkatnya kesuburan tanah. Penyusun : Sundari, SSTSumber : - BPTP Riau- Jurnal Agrista Vol. 17 No. 2, 2013.Hal. 54