Loading...

KEUNGGULAN MESIN TANAM DAN MESIN PANEN JAJAR LEGOWO (JARWO) PADA PADI

KEUNGGULAN MESIN TANAM DAN MESIN PANEN  JAJAR LEGOWO (JARWO) PADA PADI
Untuk memenuhi kebutuhan beras dari produksi dalam negeri, telah ditetapkan sasaran produksi padi tahun 2015 sebesar 73.400.000 ton gabah kering giling (GKG). Sejalan dengan hal tersebut, maka pada tahun 2015 upaya peningkatan produksi padi difokuskan pada kawasan tanaman pangan, melalui Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) dengan fasilitasi bantuan sarana produksi (saprodi), tanam jajar legowo dan pertemuan kelompok pada seluruh areal program GP-PTT sebagai instrumen stimulan disertai dengan dukungan pembinaan, pengawalan dan pemantauan oleh berbagai pihak.Pelaksanaan gerakan ini merupakan pengembangan dari upaya peningkatan produksi dan produktivitas padi melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) yang telah dilaksanakan sejak tahun 2008 dan melalui PTT atau peningkatan mutu intensifikasi pada tahun-tahun sebelumnya.Sejalan dengan fasilitasi bantuan yang diberikan pemerintah pada seluruh areal program, maka luas areal GP-PTT Padi tahun 2015 ditetapkan sebesar 350.000 ha, yang dialokasikan pada kawasan padi dan non kawasan/rintisan/regular padi, dan terinci atas: 1) kawasan padi inbrida seluas 75.000 ha; 2) non kawasan/rintisan/reguler padi inbrida seluas 225.000 ha; dan 3) non kawasan/rintisan/reguler padi hibrida seluas 50.000 ha.Dalam GP-PTT petani dapat langsung menerapkan teknologi budidaya spesifik lokasi yang merupakan hasil rekomendasi dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) setempat. Beberapa teknologi PTT padi tersebut, yaitu pengembangan Varietas Unggul Baru (VUB) padi adaptif, pengembangan sistem tanam jajar legowo, penerapan pemupukan spesifik lokasi, penerapan pengelolaan irigasi, serta panen tepat waktu dan teknologi perontokan gabah. Teknologi Tanam Padi Jajar LegowoSistem tanam jajar legowo ini merupakan cara tanam padi sawah dengan pola beberapa barisan tanaman yang diselingi satu barisan kosong. Sistem tanam ini terbukti mampu memberikan sirkulasi udara dan memanfaatkan sinar matahari lebih optimal untuk pertanaman padi sawah, menurunkan populasi organisme penganggu tanaman (OPT), mempermudah upaya penanggulangan gulma, pemupukan, perawatan dan pengamatan OPT. Intersepsi cahaya yang lebih optimal mampu meningkatkan aktivitas fotosintesis. Hasil penerapan inovasi jajar legowo dalam sistem budidaya padi berhasil meningkatkan provitas rata-rata 21 %. Dengan keunggulan tersebut, maka komponen teknologi tanam jajar legowo ini merupakan salah satu teknologi PTT padi yang direkomendasikan guna meningkatkan optimalisasi populasi tanaman per satuan lua, bahkan menjadi wajib diterapkan di lahan beririgasi (baik 2:1 maupun 4:1) s. Apabila kelompok tani membutuhkan alat tanam jajar legowo, maka bantuan saprodi yang diberikan dapat digunakan untuk membeli alat tanam jajar legowo tersebut dan dicantumkan dalam Rencana Usaha Kelompok (RUK). Mesin Tanam dan Mesin Panen Padi Jajar LegowoSelain alat tanam jajar legowo yang sederhana (caplak), dalam rangka mempromosikan sistem tanam jajar legowo, dewasa ini telah tersedia mesin tanam jajar legowo (jarwo transplanter) dengan keunggulan, yaitu: 1) mampu menanam benih padi sistem jajar legowo 2:1; 2) mempercepat waktu tanam (kapasitas 6-7 jam/ha); 3) mampu menggantikan 20 orang tenaga kerja tanam per ha, sehingga dapat mengatasi masalah kelangkaan tenaga kerja; dan 4) menghemat biaya tanam hingga 40%. Penerapan sistem tanam jajar legowo juga didukung dengan penyediaan mesin panen jajar legowo, yaitu combine harvester dengan keunggulan, yaitu 1) mempercepat waktu panen (kapasitas kerja 5-6 jam/ha); 2) meningkatkan efisiensi tenaga kerja panen dari 30-50 HOK/ha menjadi 3 HOK per mesin panen; menekan kehilangan panen (susut hasil) hingga tinggal sebesar 1,87 % (bandingkan dengan cara konvensional yang dapat mencapai 13 %); 3) tingkat kebersihan gabah 99,5%; dan 4) cocok untuk sawah lembek. Keunggulan lainnya yaitu gaya tekan mesin ke permukaan tanah hanya sebesar 0,13 kg/cm2 (lebih ringan), sehingga peluang terperosok ke lumpur kecil. Selain itu, dengan lebar 1,2 m, mesin cocok digunakan untuk petakan sawah sempit. Dengan semua keunggulan yang dimilikinya, maka dibandingkan dengan power thresher, penggunaan combine harvester memberi keuntungan, yaitu: 1) hasil gabah yang dipanen (GKP) lebih tinggi 773 kg/ha atau meningkat sekitar 10,88%; 2) jasa pemanenan lebih murah sekitar Rp. 300 - Rp.500 ribu/ha; dan 3) masa kembali modal selama 2,47 tahun. Combine harvester ini telah dilisensi oleh lima perusahaan alat dan mesin pertanian Nasional. Dewasa ini, sejalan dengan Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai, Kementerian Pertanian telah merencanakan pengembangan lima paket combine harvester per provinsi di 18 provinsi sentra padi.Sumber informasi:1. Anonymous. 2015. Prioritas Program Kerja Balitbangtan dan Dukungan Penyuluh/ Kelembagaan Penyuluhan: Jakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian2. Makarim Karim Abdul dan Suhartatik Endang. 2015. Setting Budidaya Padi Berbasis Sains. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian3. Anonymous. 2015. Dukungan Teknologi Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai di Provinsi Papua Tahun 2015. Jayapura: Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi Provinsi PapuaPenulis; Diana Prasastyawati (penyuluh pertanian pusat)