Loading...

KIAT MENEKAN POPULASI TIKUS DENGAN PENGENDALIAN HAMA TIKUS TERPADU

KIAT MENEKAN POPULASI TIKUS DENGAN PENGENDALIAN HAMA TIKUS TERPADU
Tikus tiap tahun serangannya lebih dari 17% dari total luas arel padi hal ini disebabkan pengendalian hama tikus oleh petani selalu terlambat karena petani mengendalikan setelah terjadi serangan dan kurangnya monitoring oleh petani. Pemahaman petani mengenai informasi aspek dinamika populasi tikus yang menjadi dasar dalam pengendalian juga masih kurang kecenderungan petani masih kurang peduli dalam menyediakan sarana pengendalian tikus, organisasi pengendalian yang masih lemah dan pelaksanaan pengendalian yang tidak berkelanjutan dapat mengakibatkan meningkatnya hama tikus sawah tidak kalah penting adalah masih banyak petani yang mempunyai "persepsi mistis" di lingkungan masyarakat Jawa biasanya bila petani melihat tikus, tidak boleh menyebut tikus tetapi disebutnya "den bagus"padahal, pada hakekatnya hal tersebut dapat menghambat dalam usaha pengendalian tikus itu sendiri. Tikus sawah merupakan hama utama penyebab kerusakan padi di Indonesia. Rata-rata tingkat kerusakan tanaman padi mencapai 20% per tahun. Serangan tikus sawah terjadi sejak pesemaian hingga panen, bahkan dalam gudang penyimpanan padi. Pengendalian tikus sawah relatif lebih sulit karena sifat biologi dan ekologinya yang berbeda dibanding hama padi lainnya.Melihat kondisi di atas, maka perlu Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT). Strategi PHTT dilaksanakan berdasarkan pemahaman ekologi tikus dilakukan secara intensif dan terus menerus (berkelanjutan) dengan memanfaatkan berbagai teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu disamping itu kegiatan pengendalian diprioritaskan pada waktu sebelum tanam (pengendalian dini) untuk menurunkan populasi tikus serendah mungkin sebelum terjadi perkembangbiakan tikus yang cepat pada stadium generataif padi dan pelaksanaan pengendalian dilkukan oleh petani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi dalam cakupan skala luas (hamparan) setidaknya ada sembilan cara pengendalian hama tikus sawah secara perpadu (PHTT):1. Tanam dan panen serempak. Dalam satu hamparan, diusahakan selisih waktu tanam dan panen tidak lebih dari 2 minggu hal tersebut untuk membatasi tersedianya pakan padi generative sehingga tidak terjadi perkembangbiakan tikus yang terus menerus.2. Sanitasi habitat. Dilakukan selama musim tanam padi yaitu dengan cara membersihkan gulma dan semak-semak pada habitat utama tikus yang meliputi tanggul irigasi jalan sawah batas perkampungan pematang parit/saluran irigasi dll. Juga dilakukan minimalisasi ukuran pematang (tinggi dan lebat pematang) kurang 30 cm agar tidak digunakan sebagai tempat bersarang3. Gerakan bersama (gropyokan massal). Gerakan ini dilakukan serentak pada awal tanam melibatkan seluruh petani gunakan berbagai cara untuk menangkap membunuh tikus seperti penggalian sarang, pemukulan, penjeratan, pengoboran malam, perburuan dengan anjing, dan sebagainya4. Fumugasi/pengemposan. Fumigasi dapat efektif membunuh tikus dewasa beserta anak-anaknya didalam sarang agar tikus mati tutuplah lubang tikus dengan lumpur setelah difumigasi dan sarang tidak perlu dibongkar lakukan fumigasi selama masih dijumpai sarang tikus terutama pada stadium generatif padi.5. Trap Barrier System (TBS). TBS dengan tanaman perangkap diterapkan terutama di daerah endemik tikus dengan pola tanam serempak TBS berukuran 20 x 20 m dapat mengamankan tanaman padi dari serangan tikus seluas 15 ha6. Penerapan Trap Barrier System (TBS). Terutama di daerah endemik tikus dengan pola tanam serempak. TBS terdiri atas (i) tanaman perangkap untuk menarik kedatangan tikus, yaitu petak padi 25m x 25m yang ditanam 3 minggu lebih awal, (ii) pagar plastik untuk mengarahkan tikus agar masuk perangkap, berupa plastik/terpal setinggi 70-80cm, ditegakkan ajir bambu setiap 1m dan ujung bawahnya terendam air, (iii) bubu perangkap untuk menangkap dan menampung tikus, berupa perangkap dari ram kawat 20cm x 20cm x 40cm dipasang pada setiap sisi TBS. LTBS berupa bentangan pagar plastic terpal setinggi 60 cm ditegakkan dengan ajir bambu setiap jarak 1 m dilengkapi bubu perangkap setiap jarak 20 m dengan pintu masuk tikus berselang-seling arah LTBS dipasang di daerah perbatasan habitat tikus atau pada saat ada migrasi tikus Pemasangan dipindahkan setelah tidak ada lagi tangkapan tikus atau sekurang-kurangnya di pasang selama 3 malam7. Memanfaatan musuh alami. Cara termudah ini adalah dengan tidak mengganggu atau membunuh musuh alami tikus sawah khususnya pemangsa seperti burung hantu burung elang, kucing anjing, ular tikus, dan lain-lain. 8. Rodentisida, yang merupakan cara kedelapan ini digunakan hanya apabila populasi tikus sangat tinggi terutama pada saat bera atau awal tanam penggunaan rodentisida harus sesuai dosis anjuran umpan ditempatkan di habitat utama tikus seperti tanggul irigasi jalan sawah pematang besar atau tepi perkampungan9. Cara pengendalian lokal lainnya dengan memanfaatkan cara pengendalian tikus yang biasa digunakan petani setempat seperti penggenangan sarang tikus penjaringan, pemerangkapan, bunyi-bunyian, dan cara-cara lainnya.Tikus yang telah terbunuh tertangkap hanya merupakan indikasi turunnya populasi yang perlu diwaspadai adalah populasi tikus yang masih hidup karena akan terus berkembang biak dengan pesat selama musim tanam padi. Disamping itu monitoring keberadaan dan aktivitas tikus sangat penting diketahui sejak dini agar usaha pengendalian dapat berhasil cara monitoring antara lain dengan melihat lubang aktif jejak tikus jalur jalan tikus kotoran atau gejala kerusakan tanaman dan tidak kalah pentingnya adalah mewaspadai terhadap kemungkinan terjadinya migrasi (perpindahan tikus) secara tiba-tiba dari daerah lain dalam jumlah yang besar. Tindakan pengendalian selanjutnya, setelah tanam, anakan, hingga panen dilakukan sesuai tabel rekomendasi tindakan PHTT, dengan metode yang telah dipaparkan di atas. Sundari, SST (BBP2TP)Sumber : Endang Wisnu W , Teknologi Pengendalian Tikus Sawah, BPTP Yogyakarta , 2014. an. Jakarta, Penebar SwadayaEmail: sunburase@yahoo.com