Suryono begitulah nama laki-laki berpenampilan sederhana ini, Bagong sebagai sapaan akrab beliau penuh dgn sejumlah prestasi, beliau dikenal sebagai petani teladan asal Sukajaya Kampung Pinang Sebatang Barat Kecamatan Tualang Kabupaten Siak. Bersempena dengan ultah Kab.Siak beliau mendapatkan penghargaan sebagai petani teladan tingkat Kabupaten Siak tahun 2016 dari Bupati Siak. Jatuh bangun dari usaha bertani pada 2008 tidak membuatnya menyerah, semangat belajar dan mencoba bangkit atas apa yang beliau yakini untuk dilakukan membuat sukses dalam menggeluti usaha pertanian, bermodalkan dana pinjaman dan sedikit tanah garapan mas bagong memulai usahanya dari kegiatan hortikultura akhirnya saat ini beliau mampu memiliki satu buah mobil pick up operasional, 4 Ha tanah milik pribadi yg didalam nya terdapat usaha sayuran, peternakan, perikanan dan hortikultura lainnya yg dihasil kan dari kegiatan usaha pertanian. Saat ini Suryono memasarkan sendiri hasil usahanya dgn tujuan memutus jaringan tengkulak dan beliau mampu membantu petani lainnya yang terkendala dalam usaha pemasaran dan harga jual dari ulah tengkulak. Pengakuan Suryono saat memasarkan hasil adalah kesempatan bagi dia utk berkumpul dengan anggota kelompok tani lainnya dan saling berbagi ilmu, beliau juga menjadi inspirasi bagi kelompok lainnya dalam usaha memasarkan hasil pertanian mereka sendiri utk menghindar dari tengkulak demi mendapatkan harga yg bagus dipasaran. Pada tahun 2016 Suryono menerima bantuan dari Pemerintah Pusat melalui bantuan APBN untuk kegiatan pengembangan cabe seluas 1 Ha yg di salurkan melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Siak. Atas kerja kerasnya selama ini akhirnya beliau pantas untuk berbangga dikarenakan pada tgl 5 november 2016 diundang ke maroko menjadi salah satu pembicara pada KTT PBB tentang Perubahan Iklim atau (Conference of the Parties/COP)-22, di Maroko. Suryono adalah salah satu utusan dari Indonesia dan ditambah satu orang petani yg berasal dari Palembang dlm acara global warming, beliau adalah petani yg mampu tumbuh kembang dengan memerhatikan aspek lingkungan berdampak positif pada perubahan iklim global (zero burning). Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, pada 1975 ini dinilai menjadi contoh petani yang berhasil melakukan mitigasi perubahan iklim dengan bertani holtikultura, menjadi informan titik api, dan turut andil menjaga lingkungan serta mencegah tejadinya kebakaran lahan dan hutan.Suryono menuturkan pengalamannya sebelum berangkat ke maroko dibawa oleh panitia untuk belanja keperluan keberangkatan ke Maroko, beliau mengaku dengan nada senang hati kalau dibelikan baju batik mahal seharga 400 ribu, sepatu celana dan barang mahal lainnya, itu tentu saja merupakan hal yang jarang dinikmati oleh beliau, meski dari segi finansial beliau mampu untuk membeli itu semua.Suryono juga menyampaikan kalau total tiket beliau seharga 30 jt, sambil bercanda beliau sempat menyampaikan kepada panitia, seandainya uang 30 juta tersebut bisa dipakai untuk modal bertani pasti akan sangat membantu....hahahaha begitulah bagong berseloroh. Jika kita berkujung ke lokasi usaha pertanian Suryono pasti terasa sangat nyaman sekali karena selalu dipenuhi dengan tanaman hortikultura dan yg lainnya. Pengakuan beliau bahwa Pemda Siak sangat berjasa kepada diri nya dalam melakukan usaha pertaniannya saat ini. Keberhasilan tidak membuat suryono cepat berpuas hati, beliau berkeinginan kedepan mampu membantu rekan-rekan seprofesi agar mampu mencapai taraf ekonomi yang lebih baik lagi. Dari sosok Suryono lah kita bisa belajar arti sebuah kerja keras dimana berbanding lurus dengan hasilnya, tidak ada hasil besar tanpa kerjas keras, sederhana, tidak putus asa, berani mencoba, dan mau belajar serta berusaha dan tidak lupa berdoa akan mampu mengantarkan seseorang kepada kesuksesan.