Loading...

Komponen Teknologi Dasar PTT Padi Sawah

Komponen Teknologi Dasar PTT Padi Sawah
Komponen teknologi dasar Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah sangat dianjurkan untuk diterapkan di semua lokasi padi sawah. Komponen teknologi dasar meliputi: 1. Varietas Unggul Baru Varietas Unggul Baru (VUB) umumnya berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit utama dan toleran dengan lingkungan setempat, dapat berupa padi inbrida seperti Ciherang dan Mekongga atau padi hibrida seperti Rokan, Hipa 3, Bernas Super, dan Intani. Penggunaan varietas unggul baru, baik jenis inbrida maupun hibrida diperlukan untuk memperoleh hasil yang tinggi.• Pemilihan varietas hibrida disesuaikan dengan kondisi setempat dan diajurkan yang tahan hama dan penyakit endemik seperti wereng coklat dan tungro, serta memenuhi permintaan pasar. • VUB yang sesuai dengan kondisi setempat diperoleh dari hasil uji varietas di lahan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) atau lahan Balai Penyuluhan Kecamatan (BPK) yang diamati bersama oleh penyuluh dan petani. Selain daya hasil tinggi dan ketahanan terhadap penyakit, aspek citarasa nasi, umur panen, bentuk gabah, rendemen, dan kebeningan beras, juga sering menjadi faktor penentu dalam pemilihan varietas oleh petani. • Hindari penanaman varietas yang sama secara terus menerus di satu lokasi untuk mengurangi serangan hama dan penyakit. 2. Benih Bermutu dan Berlabel Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi. Benih bermutu dapat diperoleh dari benih berlabel yang sudah lulus proses sertifikasi. Benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat dengan perakaran lebih banyak sehingga pertumbuhan tanaman lebih cepat dan merata.• Mutu benih padi inbrida dapat diuji dengan teknik pengapungan, dengan menggunakan larutan pupuk ZA 20-30 g/liter air. Benih yang tenggelam dipakai, sedangkan yang terapung dibuang.• Mutu benih padi hibrida diuji dengan uji daya kecambah. 3. Pemberian Bahan Organik Pemberian pupuk organik dan pupuk kimia dalam takaran dan waktu yang tepat memegang peranan penting dalam menyangga keberlanjutan sistem produksi.• Bahan organik berupa sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos merupakan unsur utama pupuk organik yang dapat berbentuk padat atau cair.• Bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah. Oleh karena itu, jerami perlu dikembalikan ke lahan sawah dengan cara dibenam atau diolah menjadi kompos atau dijadikan pakan ternak yang kotorannya diproses menjadi pupuk kandang.• Persyaratan teknis pupuk organik harus sesuai dengan ketentuan, kecuali diproduksi untuk keperluan sendiri.• Takaran pupuk organik dan pupuk anorganik harus sesuai dengan ketentuan. 4. Pengaturan Populasi Tanaman Pengaturan populasi tanaman, antara lain dapat melalui dengan cara tegel (pengaturan jarak tanam) atau dengan jajar legowo.• Sampai batas tertentu, semakin tinggi populasi tanaman, semakin banyak jumlah malai per satuan luas sehingga berpeluang menaikkan hasil panen. • Tanam jajar legowo merupakan salah satu cara untuk meningkatkan populasi tanaman dan cukup efektif mengurangi serangan hama tikus, keong mas, dan keracunan besi. Jajar legowo dalah pengosongan satu baris tanaman setiap dua atau lebih baris dan merapatkan dalam baris tanaman, sehingga dikenal legowo 2:1 apabila satu baris kosong diselingi oleh dua baris tanaman padi atau 4:1 bila diselingi empat baris tanaman. • Pertumbuhan tanaman yang sehat dan seragam mempercepat penutupan permukaan tanah sehingga dapat menekan pertumbuhan gulma dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit. 3. Pemupukan Berdasarkan Kebutuhan Tanaman dan Status Hara Tanah• Pemberian pupuk berbeda antarlokasi, musim tanam, pola tanam, dan pengelolaan tanaman.• Penggunaan pupuk spesifik lokasi meningkatkan hasil dan menghemat pupuk• Kebutuhan unsur hara N tanaman dapat diketahui dengan cara mengetahui tingkat kehijauan warna daun padi. 4. Pengendalian OPT dengan Pendekatan PHT• Identifikasi jenis dan populasi hama oleh petani dan atau pengamat OPT di lapangan.• Penentuan tingkat kerusakan tanaman menurut kerugian ekonomi atau ambang tindakan. • Teknik pengendalian: (a) usahakan tanaman selalu sehat, (b) gunakan varietas tahan hama dan penyakit, serta (c) terapkan pengendalian hayati, biopestisida, fisik dan meknis, dan atau pestisida kimia sesuai anjuran;• Hama utama: tikus sawah, wereng coklat, penggerek batang padi, dan keong mas. Sedangkan penyakit utama: tungro dan hawar daun bakteri. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan