Loading...

KOMPONEN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU KEDELAI

KOMPONEN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU KEDELAI
Selain beras dan jagung, kedelai merupakan salah satu komoditi pangan utama di Indonesia. Kebutuhan terhadap komoditi kedelai terus meningkat dari tahun ke tahun karena komoditas ini mempunyai banyak fungsi, baik sebagai bahan pangan utama, pakan ternak maupun sebagai bahan baku industri skala besar hingga skala kecil atau rumah tangga. Untuk memenuhi kebutuhan kedelai nasional, diantaranya dilakukan melalui penerapan inovasi teknologi. Salah satu inovasi teknologi dalam meningkatkan produktivitas kedelai adalah melalui penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu kedelai, atau lebih dikenal dengan PTT kedelai. PTT adalah pendekatan dalam pengelaolaan lahan, air, tanaman, organisme pengganggu tanaman (OPT), dan iklim secara terpadu dan berkelanjutan dalam upaya peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan kelestarian lingkungan. Dalam pendekatan PTT kedelai, terdapat beberapa komponen teknologi usahatani jagung, mulai dari budidaya hingga penanganan pasca panen. Dalam pendekatan PTT terdapat dua komponen teknologi, yaitu komponen dasar, dan komponen pilihan. Komponen DasarKomponen teknologi dasar, adalah komponen teknologi yang relatif dapat berlaku umum di wilayah yang luas. Yang termasuk pada komponen teknolgi dasar antara lain:• Varietas unggul baruVarietas unggul baru kedelai yang digunakan memiliki daya hasil tinggi, tahan hama dan penyakit dan toleran terhadap cekaman lingkungan. • Pemilihan varietas disesuaikan dengan agroekosistem setempat dan minat pengguna (ukuran biji, umur, dan kegunaan: bahan baku tempe, tahu, kecap dan toge). Beberapa varietas unggul kedelai diantaranya: Argomulyo, Anjasmoro, Grobogan, Gepak Kuning, Panderman, Kaba, dan Detam 1, Detam 2. • Benih bermutu dan berlabelBenih bermutu memiliki jaminan berupa sertifikat. Benih bersertifikat umumnya memiliki daya tumbuh yang baik. Penggunaan benih bermutu memiliki tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi (diatas 85%). • Pembuatan Saluran DrainaseSaluran drainase iperlukan untuk menjaga kelembaban tanah optimal dan mengalirkan kelebihan air pada saat hujan. Pada saat kering, saluran berfungsi sebagai pematus air pada saat hujan. Jarak antar saluran umumnya 2 – 5 cm dengan lebar dan kedalaman sekitar 30 cm. • Pengaturan Populasi TanamanPengaturan populasi dilakukan dengan menentukan jarak tanam yang akan digunakan. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 40 cm antarbaris, 10-15 cm dalam barisan. Pada musim hujan, jarak tanam direkomendasikan dibuat lebar, sedangkan pada musim kemarau jarak tanam dibuat rapat. Jumlah biji perlubang sebanyak 2-3 biji. Jumlah populasi tanaman dalam 1 hektar berkisar antara 350.000-500.000 tanaman, Kebutuhan benih untuk areal 1 hektar sekitar 40-60 kg, bergantung pada ukuran biji. • Pengendalian OPT secara Terpadu- Pengendalian hama secara terpadu, dilakukan melalui: 1. Identifikasi jenis dan penghitungan kepadatan populasi hama 2. Menentukan tingkat kerusakan tanaman 3. Taktik dan teknik Pengendalian o Mengusahakan tanaman selalu sehat o Pengendalian secara hayati o Penggunaan varietas tahan o Pengendalian secara fisik dan mekanis o Penggunaan feromon o Penggunaan pestisida kimia - Pengendalian penyakit secara terpadu, dilakukan melalui: 1. Identifikasi jenis penyakit (cendawan, Bakteri, Virus) 2. Menentukan tingkat kerusakan tanam 3. Taktik dan tenik pengendalian: o Mengusahakan tanaman selalu sehat o Pengendalian secara hayati o Penggunaan varietas tahan o Pengendalian secara fisik dan mekanis o Penggunaan pestisida (fungisida, bakterisida, dsb) - Pengendalian Gulma Secara Terpadu 1. Identifikasi jenis gulma (rumput, teki dan daun lebar) 2. Menentukan tingkat kepadatan gulma 3. Taktik dan teknik pengendalian o Cara teknis o Kultur teknis o Kimiawi o Mengkombinasikan beberapa komponen pengendalian Komponen PilihanKomponen teknologi pilihan, yaiyu komponen teknologi yang lebih bersifat spesifik lokasi. Yang termasuk komponen teknologi pilihan diantaranya:• Penyiapan lahanJika ditanam di bekas tanaman padi, tidak perlu dilakukan pengolahan lahan, jerami dapat digunakan sebagai mulsa. Di lahan kering, pengolahan perlu optimal (dua kali bajak dan satu kali garu). Padan saat pengolahan tanah sekaligus dilakukan membersihkan gulma dan sisa tanaman. • Pemupukan Sesuai KebutuhanPemberian dosis pupuk didasarkan pada hasil analisis tanah dan sesuai kebutuhan tanaman (menggunakan perangkat uji tanah kering/PUTK). Pupuk diberikan dengan cara ditugal di sebalah lubang tanam atau disebar merata pada saat tanah masih lembab. Kedelai yang ditam setelah padi umummya tidak memerulukan banyak pupuk. Pemberian pupuk hayati (Rhizobium) disesuaikan dengan kebutuhan. • Pemberian bahan organikBahan organik berupa sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos. Pemberian bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan, fisik, kimia, dan biologi tanah. • Pemberian amelioran pada lahan kering masamLahan kering masam berlu diberi kapur pertanian (dolomite atau kalsit) dengan takaran: 1. pH tanah 4,5-5,3 pemberian kapur sebanyak 2 ton/ha 2. pH tanah 5,3-5,5 pemberian kapur sebanyak 1 on /ha 3. pH tanah 5,5-6 pemberian kapur sebanyak 0,5 ton/ha • Pengairan pada periode kritisPeriode kritis kedelai terhadap kekeringan mulai pada saat pembentukan bunga hingga pengisian biji (fase reproduktif). Pada lahan sawah, pengairan diberikan secukupnya menjelang tanaman berbunga dan fase pengisian polong. • Panen dan pasca panen Panen dilakukan jika tanaman sudah masak atau 95% polong telah berwarna coklat dan daun berwarna kuning. Brangkasan kedelai segera dihamparkan dan dijemur dengan ketebalan sekitar 25cm. Setelah brangkasan kering, biji dirontok secara manual atau menggunakan threser. Sumber: Badan Penelitan dan Pengembangan Pertanian. 2009. Pedoman Umum PTT Kedelai. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian)Email: ume_humaedah@yahoo.com