Loading...

KOMPOS ORGANIK DENGAN METODE BUMBUNG SEBAGAI SOLUSI HEMAT TENAGA

KOMPOS ORGANIK DENGAN METODE BUMBUNG SEBAGAI SOLUSI HEMAT TENAGA
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Kabupaten Timor Tengah Selatan dikenal sebagai salah satu Kabupaten penghasil ternak di propinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya ternak sapi. keberadaan sapi Bali ini memiliki arti tersendiri dalam menopang perekonomian masyarakat dan penerimaan daerah bahkan Jenis ternak ini merupakan penyumbang protein hewani untuk kebutuhan masyarakat lokal maupun untuk kebutuhan masyarakat di luar Kabupaten Timor Tengah Selatan. Namun ada yang lebih menarik dari bahasan di atas yaitu ... hasil temuan lapangan membuktikan bahwa rata rata petani di kecamatan kolbano memiliki 2-3 ekor sapi, namun belum mampu untuk mengolah limbah kotoran ternak menjadi bahan organik yang mengandung usnsur hara yang baik untuk tanaman. Potensi ternak sapi ini harusnya menjadi potensi keuntungan untuk men-support usaha pertanian dengan bahan baku pupuk organik yang melimpah yang berasal dari kotoran/feses dan urin sapi, tapi nyatanya potensi ini belum dimanfaatkan dengan maksimal karena petani dan peternak dikecamatan kolbano ini belum mempunyai keahlian dalam mengolah limbah ternak tersebut menjadi pupuk organik secara baik dan cepat. Petani terbiasa hanya mengumpulkan kotoran sapi di satu tempat dan dibiarkan mengering hingga menjadi pupuk organik yang proses tersebut memakan waktu berbulan-bulan dan kualitas hasil pupuknyapun tidak seragam juga minim unsur hara. Permasalahan yang sering muncul ditingkat petani antara lain adalah keengganan petani dalam menggunakan limbah kandang sebagai pupuk untuk tanamananya. Beberapa alasan dikemukakan, bahwa penggunaan limbah kandang menyulitkan karena membutuhkan banyak tenaga untuk mengangkaut dari kandang ke lahan, selain itu penggunaan limbah kandang menimbulkan masalah baru yaitu tumbuhnya gulma secara cepat dan menimbulkan bau yang menyengat. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan pengolahan pada limbah kandang yaitu dengan menebarkan dekomposit (probiotik) yang dapat mempercepat penguraian limbah kandang. Teknologi ini memerlukan waktu dan membutuhkan tenaga untuk proses pembalikan. Metode bumbung (Tube method) adalah metode pengomposan yang menitik beratkan pada penghematan tenaga kerja. Pada metode umum proses aerasi dilakukan dengan sistem pembalikan setiap minggu, pada metode bumbung proses aerasi diubah melalui celah bumbung. Bumbung yang terbuat dari paralon atau bambu dibuatkan beberapa lubang pada bagain sisinya kemudian dipasangkan atau ditancapkan pada tumpukan bahan yang sedang diproses pengomposan sehingga aerasi berjalan melalaui celah bumbung tersebut. Keunggulan metode bumbung adalah tidak perlu dilakukan pembalikan/pengadukan, sehingga dapat menghemat tenaga kerja. Dapat dilakukan pada tempat terbuka atau dalam bak seperti pada metode indor, sehingga metode bumbung merupakan metode yang bisa dikombinasikan dengan metode yang lainnya disesuaikan dengan ketersediaan bahan dasar, ketersediaan lahan, tenaga kerja dan lain-lainnya. Cara ini mudah dilakukan dan tentu saja akan menghemat tenaga kerja dalam pembuatan pupuk organik Kompos. BERIKUT INI ADALAH CARA PEMBUATAN KOMPOS ORGANIK DENGAN METODE BUMBUNG SEBAGAI SOLUSI HEMAT TENAGA Bahan dan alat Bahan dan alat yang dipergunakan untuk mengolah pupuk organik limbah kandang sebanyak 1 ton adalah sebagai berikut : Limbah kandang 1 Ton Limbah Hijauan (jerami secukupnya) Urine sapi Probiotik (primadec, Stardec ) 3 Kg Pupuk urea : 3 Kg Pupuk SP36 : 3 Kg GulaPasir : 1 Kg Bumbung ( panjang kurang dari 1,25 m dan diameter 15-20 Cm) 9 buah Terpal 1 buah Langkah Kerja Buat lubang zig-zag pada bumbung (lebar dan panjang lubang 1-1,5 cm jarak antar lubang 10 cm urea + SP36 + GulaPasir + probiotik diampur rata, selanjutnya campuran dibagi 5 bagian Lapiasan 1 1/5 bagian limbah kandang dihamparkan setebal kurang dari 20 cm, dengan lebar 1 meter dan panjang 1,5 meter Pasang bumbung pada lapisan 1 disetiap pojok kiri dan kanan pada ujung tumpukan dan ditengah selanjutnya disetiap diagonal dapasangdipotong 2 bumbungdan 1 bumbungditengah Taburkan urea + SP36 + GulaPasir + probiotik 1/5 bagian diatas lapisan Percikan air secukupnya ( kadar air 60%) yang ditandai dengan pupuk dapat dikepal dengan tangan tidak pecah (ambyar) dan tidak banyak mengeluarkan air Lapisan 2 1/5 bagian limbah kandang dihamparkan diatas lapisan 1 Lapisan 2 ini ditaburi urea + SP36 + GulaPasir + Probiotik1/5 bagian, selanjutnya lapisan diberipercikan air secukupnya sehingga kadar air mecapai 60 % Lapisan 3,4,dan 5 dibuat dengan urutan yang sama seperti diatas Bagian atas bumbung tidak terhalangi untuk kelancaran proses aerasi. Untuk menjaga temperatur agar tetap stabil pada bagian atas tumpukan bahan ditutup dengan terpal dan dibiarkan selama 1 bulan Setelah 1 bulan, Kompos organik siap diberikan ketanaman Keunggulan metode bumbung adalah tidak perlu dilakukan pembalikan/pengadukan, sehingga dapat menghemat tenagakerja. Dapat dilakukan pada tempat terbuka atau dalam bak seperti pada metode indor, sehingga metode bumbung merupakan metode yang bisa dikombinasikan dengan metode yang lainnya disesuaikan dengan ketersediaan bahan dasar, ketersediaanlahan, tenaga kerja dan lain-lainnya. Metode bumbung ini telah saya terapkan dan diaplikasikan oleh petani diwilayah desa oetuke kecamatan kolbano kab TTS dan merupakan materi kajian skipsi saya semasa melakukan kajian ilmiah di desa jogotirto kecamatan berbah kabupaten sleman mudah mudah pengalaman dari materi ini dapat bermanfaat bagi teman teman penyuluh di wilayah lain Jaya Pertanianku...Jaya Indonesiaku.... Hinandang Nasution, SST 19910804 201001 1 001 Penyuluh Pertanian Pertama WKPP Desa Oetuke dan Nununamat Kecamatan Kolbano