Sumber daya manusia pertanian yang ada di kelompoktani (Poktan) pembudidaya komoditas hortikultura, secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam pembangunan pertanian. Di tingkat lapangan SDM anggota poktan hortikultura bersinergi dengan penyuluh pertanian, pelaku utama, dan pelaku usaha komoditi tanaman pangan, peternakan, dan perkebunan, baik secara individu atau melalui kegiatan kelompok. Ditinjau dari segi kualitas SDM pertanian, terdapat rentang perbedaan yang berjarak cukup besar. Misalnya, kebanyakan dari pelaku utama adalah mereka yang berpendidikan pada peringkat sekolah dasar. Bahkan ada diantaranya.yang tidak tamat SD. Pelaku utama yang berpendidikan sekolah menengah dan universitas, persentasenya kecil. Kondisi seperti ini akan berpengaruh signifikan terhadap pencapaian target-target pembangunan pertanian di negara kita. Untuk meningkatkan kualitas SDM pertanian, terutama kompetensinya, dapat dilakukan melalui metoda pelatihan, magang, belajar dalam kelompok dengan menerapkan komunikasi efektif menggunakan pendekatan partisipatif. Komunikasi, Umpan balik dan Kualitas SDM Poktan Sudah menjadi kodrat sebagai mahluk sosial, maka manusia perlu berkomunikasi dengan pihak lain untuk berbagai keperluan. Komunikasi merupakan kebutuhan dasar setiap orang. Tujuannya untuk sekedar menyampaikan pesan, berbagi pengalaman, berdiskusi untuk penyelesaian masalah, atau dalam rangka belajar untuk peningkatan kapasitas SDM. Cara berkomunikasinya dapat dilakukan secara langsung tatap muka, secara tidak langsung menggunakan media komunikasi, atau kombinasi kedua cara tersebut. Salah satu tujuan utama komunikasi bagi anggota poktan adalah dalam rangka pembelajaran untuk meningkatkan kualitas SDM dan peningkatan kesejahteraan. Dalam suatu komunikasi dua arah, baik komunikasi interpersonal maupun komunikasi kelompok, terdapat enam unsur penting, yaitu pihak pemberi pesan, isi pesan yang disampaikan, saluran yang digunakan, penerima pesan, kesan atau efek yang diinginkan terjadi, dan feedback atau umpan balik. Apabila komunikasi itu untuk tujuan belajar dalam konteks individu, berarti bicara tentang bagaimana manusia belajar. Dalam aktivitas pembelajaran, sumber dan penerima pesan bisa saja berada dalam diri orang yang belajar. Oleh sebab itu proses komunikasi dalam diri seseorang sesungguhnya adalah proses pembelajaran pada dirinya sendiri. Jika komunikasi untuk tujuan belajar, maka perlu dipilih pengalaman pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran atau tujuan perubahan yang ingin dicapai. Pengalaman pembelajaran adalah gerak balas seseorang dengan keadaan yang ditemuinya ketika ia berkomunikasi. Apabila komunikasi ditujukan untuk adanya perubahan tingkah laku, maka perubahan itu terjadi karena adanya tingkah laku yang aktif dari pihak yang belajar/berkomunikasi. Dengan demikian, untuk terjadinya peningkatan pengetahuan dan keterampilan bagi pihak yang berkomunikasi, maka materi yang dibicarakan atau dipelajari, haruslah sesuai dengan tujuan perubahan yang diinginkan. Dalam konteks komunikasi yang dilakukan oleh anggota poktan hortikultura, terutama untuk tujuan peningkatan kompetensinya, maka perlu digunakan pendekatan partisipatif. Apa yang dimaksud pendekatan partisipatif? Secara ringkas, pendekatan partisipatif dapat dimaknai sebagai proses komunikasi yang dilakukan oleh fasilitator kepada anggota poktan menggunakan metoda pembelajaran orang dewasa. Oleh sebab itu tugas fasilitator, dalam hal ini penyuluh (PNS, Swadaya, Swasta), bukan menggurui, tetapi membantu menggali, memberi umpan, memberi alternatif jalan keluar, menggali umpan balik dengan bertanya atau memberi kesempatan kepada anggota poktan untuk menjawab jika ada pertanyaan, dan memotivasi seluruh anggota kelompok yang hadir agar mau bepartisipasi sehingga terjadi proses belajar dari, oleh, dan untuk mereka sendiri. Dengan pendekatan yang partisipatif maka anggota kelompok dapat memperoleh manfaat "discovery learning", yaitu belajar menemukan sendiri pemahaman tentang suatu makna dari apa yang dikomunikasikan, baik itu pemahaman tentang sesuatu materi yang dipelajari, masalah, solusi terhadap masalah, dll. Dari pengertian tersebut, dalam pendekatan partisipatif fasilitatornya berupaya agar seluruh peserta pembelajaran terlibat secara aktif dalam proses dan kegiatan pembelajaran. Dengan demikian umpan balik atau feed back dari lawan bicara sangat penting diperhatikan. Umpan balik sangat berguna untuk peningkatan pemahaman seseorang, dan dengan pemahaman yang meningkat, maka kualitas SDM akan meningkat pula. Peran Komunikasi dalam peningkatan kualitas SDM Poktan Hortikultura Di era reformasi saat ini dan pada masa mendatang, komunikasi antar manusia dengan pendekatan partisipatif merupakan kunci keberhasilan dalam pendampingan kelompoktani. Mengapa demikian? Jawabnya adalah karena berkomunikasi di alam demokrasi yang kian berkembang dan sangat terbuka, masyarakat menginginkan adanya kesetaraan, transparansi, kebersamaan dan kekuasaan untuk mengatur dirinya sendiri. Tidak terkecuali anggota poktan yang membudidayakan komoditas hortikultura. Oleh sebab itu kemauan atau motivasi anggota kelompok untuk berpartisipasi harus tetap dibangun sejak awal. Anggota poktan sebaiknya sudah ikut terlibat sejak analisis situasi hingga tingkat penyusunan, pelaksanaan, dan penilaian berbagai kegiatan poktan. Dengan demikian, dalam kurun waktu tertentu diharapkan partispasi masyarakat untuk mencapai kemajuan kelompoknya semakin meningkat. Dalam waktu yang bersamaan partisipasi penyuluh pertanian sebagai pendamping/fasilitator sudah dapat dikurangi. Waktu yang tersedia bagi penyuluh bisa digunakan untuk memfasilitasi kelompok yang baru agar mencapai perubahan dan kemandirian. Komunikasi pembelajaran dengan pendekatan partisipatif ini akan berhasil apabila ada keteladanan perilaku yang ditunjukkan oleh fasilitator. Artinya, dalam berkomunikasi fasilitator bukan saja menguasai dari segi materi yang dipelajari, tetapi mampu juga memotivasi semua anggota kelompok untuk turut serta dalam proses pembelajaran. Untuk itulah maka dalam penerapan pendekatan partisipatif ini seorang penyuluh pertanian wajib berkomunikasi menggunakan selingan cerita-cerita yang relevan dengan materi yang dipelajari, serta menggunakan lagu-lagu daerah yang disenangi anggota kelompok untuk mencapai suasana akrab dan mempertahankan semangat untuk terus belajar. Keteladanan lainnya adalah, penyuluh pertanian harus mampu untuk lebih banyak mendengar dibanding berbicara, memberi kesempatan bagi anggota yang tahu untuk menjawab pertanyaan yang muncul dibanding penyuluh sendiri yang harus menjawab pertanyaan. Adanya kesabaran dari seorang fasilitator, merupakan suatu keteladanan yang sangat terpuji. Dari semua uraian yang telah disampaikan dapatlah disarikan, bahwa komunikasi yang efektif antara para penyuluh pertanian dengan anggota poktan dan sebaliknya, hanya dapat terlaksana apabila menerapkan pendekatan partisipatif, penggunaan umpan balik secara bijak, dan mengedepankan keteladanan. Penyuluh harus lebih banyak mendengar dibanding bicara, memberi kesempatan pada anggota poktan untuk belajar dan aktif memberi solusi terhadap suatu masalah, serta sabar dalam bertindak. Penulis: Enisar Sangun, Penyuluh Pertanian Madya (e_sangun@yahoo.co.id, 081386333549).