Loading...

KONDISI ANGIN DAN KELEMBABAN UDARA PADA TANAMAN TEBU

KONDISI  ANGIN DAN KELEMBABAN UDARA PADA  TANAMAN  TEBU
Angin ; Hembusan angin dengan kecepatankurang dari 10 km per jam berpengaruh baikterhadap pertumbuhan tanaman tebu. Angin pada kecepatan tersebut akan menurunkan suhu dan kadar gas karbon dioksida (C02) di sekitar tajuk tanaman tebu. Pada keadaan tersebut bagi Tanaman Tebu proses fotosintesis tetap berlangsung dengan baik.Angin yang berkecepatan lebih dari 10 km per jam, lebih lagi bila disertai hujan lebat(badai) dan taufan, dapat mengganggu pertumbuhan tebu yang sudah tinggi menjadi roboh. Dampak buruk kerobohan tebu akan berganda pada budidaya tanaman tebu, antaralain tumbuhnya "sogolan", turunnyarendementebu, dan kesulitan tebang dan angkut.Angin dapat meningkatkan transpirasi sehingga merubah kelembaban tanah dankelembaban nisbih udara. Dengan demikian secara tidak langsung dapat berpengaruh kurang baik terhadap pertumbuhan tanaman tebu. Percobaan Verret dan McLennan (1963) dengan tanaman yang dihadapkan pada angin tiruan (menggunakan kipas-angin), pada kelembaban tanah optimal yang dipertahankan, tanaman kehilangan bobot sebesar 14 persen. Namun, apabila persediaan air normal dan udara tenang dipertahankan, kehilangan bobot mencapai 35 persen, dan panjangnya berkurang 20 persen, sedangkan pertunasannya meningkat. Tampak bahwa angin tidak berdiri sendiri dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman tebu.Tanaman yang menghadap angin di sisi lapangan kebun, sering memperlihatkan pertumbuhankerdil dan meningkatnya perkembangan perakaran. Perbandingan berat kering tunas dan akar tanaman yang menghadap angin dan terlindung dari angin berturut-turut 409 dan 37,2 gram (yang menghadap mati) dan 487 dan 25,4 gram (yang terlindung dari angin). Di samping itu diperoleh pula berbedaan agihan vertikal.Angin kering bersuhu tinggi akan merugikan tanaman tebu, karena akan meningkatkanevapotranspirasi. Jika persediaan air (irigasi) kurang dan kelembaban tanah rendah akan mengakibatkan laju pertumbuhan tanaman menurun. Angin Bohorok di sekitar Medan(Sumatra Utara), angin Kumbang di sekitarCirebon (Jawa Barat) dan Gending di sekitar daerah Probolinggo (Jawa Timur) merupakanangin kering bersuhu tinggi yang bertiup pada musim-musim tertentu. Tanaman di daerah yangdilalui angin tersebut akan mengalami kelayuanbahkan dapat menjadi kering bilamana musimangin tiba.Kelembaban udara nisbi ; Kelembaban udara nisbi tidak terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman tebu asalkan kadar air tanah tersedia mencukupi. Pada kelembaban udara nisbi yang tinggi dapat terbentuk kabut yang akan menghalangi penembusan radiasi sinar matahari, sehingga proses fotosintesis akan terhambat. Dengan demikian pembentukan gula (sukrosa) akan menurun, dan menyebabkan rendemen tebu menjadi rendah. Dalam keadaan nilai kelembaban udara nisbi rendah, misainyaantara 45-65%, bilamana jumlah air tersedia dalam tanah terbatas (pada saat musim kemarau), akan berpengaruh kepada pertumbuhan dan kemasakan tebu serta kadar sukrosa.Pengaruh langsung kelembaban udara nisbi, terutama pada nilai-nilai yang rendah adalah terhadap transpirasi lebih besar daripada !aju penyerapan air oleh tanaman, maka akan timbul suatu keadaan yang membahayakan tanaman, karena kemungkinan untuk menurunkan laju transpirasi agak terbatas. Adanya angin akan lebih memperburuk pengaruhnya terhadap tanaman, karena laju transpirasi lebihmeningkat.Pada kondisi lingkungan yang layak, laju transpirasi berbagai varietas tebu tidak sama. Dengan memperbandingkan transpirasi berbagai varietas, Kuijper (1915) menemukan dua kelompok (kelas) varietas dengan ciri bentuk kurva transpirasi harian yang berbeda. Varietas kelompok pertama memulai tanspirasi di pagi hari dengan laju yang tinggi, dan kelompok kedua memulainya dengan laju yang lebih rendah. Namun pada sore hari, Iaju transpirasi kelompok pertama menurun lebih cepat daripada laju transpirasi kelompok kedua. Merupakan suatu kenyataan bahwa kelompok pertama (POJ 100 dan 247B) merupakan varietas komersial terbaik saat itu, dengan produktivitas yang tinggi.Dari uraian yang telah dikemukakan, jelas bahwa proses transpirasi merupakan proses fisiologi yang berbeda dengan gejala fisika murni pada evaporasi. Kemampuan untuk mengatur laju transpirasi secara biologi merupakan salah satu faktor yang menentukan derajat ketahanan tanaman terhadap kekeringan yang ada kaitannya dengan nilai kelembaban udara nisbi yang rendah. Hasil penelitian Mallik (1946) pada tanah dengan kelembaban yang dipertahankan 15 persen, dengan varietas tebu Co 421 dan S. spontaneum, serta kondisi kelembaban udara nisbi 38 persen dan 30 persen. Transpirasi nisbi varietas Co 421 jauh lebih rendah daripada tebu liar (S. spontaneum), pada kedua kondisi baik udara kering maupun lembab. Hal ini menunjukkan babwa varietas Co 421 ditinjau dari sudut transpirasi mempunyai sifat lebih ekonomis terhadap air daripada tebu liar. Lebih lanjut dalarn kondisi kelembaban udara nisbi rendah (cuaca terik), transpirasi nisbi varietas Co 421 hanya separuhnya dibandingkan dengan yang berada pada kondisi udara yang lebih lembab, hal ini menunjukkan adanya aktivitas pengaturan. Tidak demikian halnya padaS. spontaneum, nilai-nilai transpirasi nisbih praktis sama antara yang berada dalam kondisi kering maupun lembab. Tebu liar ini kehilanganair seperti yang biasa terjadi pada evapometer, dan tidak terdapat kenyataan hambatan hilangnya air oleh pengaturan di dalam tanaman. Dalam kaitannya dengan kelembaban udara nisbi tampak adanya korelasi negatif antara laju pengisapan air oleh tanaman tebu dan kelembaban udara. Tanaman yang dapat mengatur untuk mengurangi evaporasi diharapkan akan dapat lebih tahan terhadap cuaca kering. Evans (1939) memperoleh korelasi antara ciri fisiologi tanaman tebu dengan ketahanan terhadap kekeringan atau cuaca kering. Faktor dominan tanaman yang mengendalikan evaporasi adalah luas permukaan daun total danpermukaan penyerapan (perakaran) total. Nisbah antara keduanya memberikan kriteria yang berharga bagi penentuan ketahanan terhadap kekeringan. Nilai nisbah ini dipengaruhi oleh varietas dan umur tanaman. Varietas SC 12/4 mempunyai nisbah sangat kecil, diikuti "Selangor seedling" dan BH 10 (12). Kedua varietas yang disebutkan kemudian ini ternyata sangat cocok di beberapa daerah Mauritius yang lebih kering. Sedangkan varietas POJ 2878 dan M 106/30 mempunyai nisbah rendah saat tebu telah masak. Varietas tahan kering umumnya mempunyai akar penopang (buttress roots) dan akar tali yang berkembang baik sehingga sanggup menarik air dari lapisan tanah yang lebih dalam selama masa-masa kering, bilamanalapisan tanah permukaan telah kehilangan sebagian besar aimya.Evans (1939) menyatakan bahwa tebu mempunyai kemampuan penyesuaian (adaptasi)diri hingga suatu tingkat tertentu terhadap kondisi lingkungan tempat tumbuhnya. Nisbah permukaan transpirasi terhadap permukaan penyerapan tertinggi di wilayah yang kelembaban tanah dan keiembaban udaranya tinggi. Nisbah sedang (intermediate) di lingkungan yang mempunyai persediaan air tanah banyak tetapi udara (atmosfer) kering dan laju transpirasi tinggi. Nisbah terendah terjadi di wilayah yang Kadar air tanahnya kurang (rendah) dan laju transpirasi tinggi. Di tempat-tempat yang kering tebu dapat menghasilkan permukaan penyerapan tiga hingga empat kali lebih besar daripada yang dihasilkan di tempat-tempat yang basah. Penulis : AgusSutarman,PenyuluhPertanianPusat.Email :agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.Sumber Gambar : www.qrbiz.com