Loading...

KONDISI IKLIM PADA TANAMAN TEBU

KONDISI  IKLIM  PADA  TANAMAN  TEBU
Beberapa faktor iklim yang akan dikemukakan mencakup curah hujan, cahaya (sinar matahari), suhu, angin, dan kelembaban udara. Khusus berkaitan dengan pengelolaan tebu lahan kering di Indonesia akan diuraikan secara singkat mengenai tipe iklim dan sumber air. Curah Hujan ; Dalam budidaya tebu di lahan kering tanpa pengairan, jumlah curah hujan dan agihannya merupakan faktor iklim yang terpenting. Jumlah curah hujan yang cukup diperlukan untuk masa pertumbuhan vegetatif selama 6 sampai 7 bulan agar diperoleh hasil tebu yang memuaskan. Secara umum rerata dunia evaporasi yang melalui tanaman tebu berkisar antara 12.000 hingga 13.000 m3 per tahun. Dengan demikian dihasilkan bahan tebu segar sejumlah 100 ton per hektar per tahun. Dengan hasil tersebut perhitungan koefisien transpirasi mendekati nilai 400, yang berarti untuk setiap ton bahan kering (dengan perkiraan bahan kering 30 %) diperlukan 400 m3 air. Berdasarkan keadaan tanah, topografi (fisiografi) dan sebagainya, maka dapat diperhitungkan bahwa besarnya efisiensi air hanya berkisar dari 45% hingga 75% dari jumlah air atau curah hujan tahunan. Untuk menopang diperolehnya tanaman yang baik praktis diperlukan sejumlah air antara 20.000 hingga 30.000 m3 per hektar per tahun, atau setara dengan jumlah curah antara 2.000 hingga 3.000 mm per tahun. Dalam hubungan dengan ini, agihan curah hujan atau perulangan (jumlah kali) pemberian air (irigasi) memegang peranan penting. Dalam masa pertumbuhan vegetatif tanaman tebu yang baik jumlah air yang diperlukan untuk evapotranspirasi berkisar antara 3,0 sampai 5,0 mm per hari. Dengan demikian rerata jumlah curah hujan bulanan yang diperlukan selama masa pertumbuhan tebu sekurang-kurangnya berkisar antara 100 – 150 mm. Sistem pembagian daerah iklim menurut Oldeman dan Syafifudin berdasarkan pada evapotranpirasi palawija, maka dapat juga digunakan untuk membantu penentuan wilayah yang iklimnya sesuai bagi tanaman tebu. Wilayah dengan curah hujan tahunan sebesar 2.000 hingga 3.000 mm, serta mengikuti penyebaran hujan yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan kemasakan tanaman tebu, akan sangat sesuai untuk perkembangan perkebunan tebu. Wilayah dengan jumlah curah hujan 3.000 – 3.500 mm per tahun masih dapat dikelola dan dikembangkan untuk perkebunan tebu, namun memerlukan investasi peralatan alsintan (alat-alat dan mesin pertanian) yang relatif besar dengan biaya operasi yang tinggi. Wilayah dengan jumlah curah hujan tahunan berkisar antara 1.200 – 2.000 mm dengan bulan kering 6 sampai 7 bulan dapat dikembangkan untuk perkebunan tebu asalkan kelembaban tanah tinggi, atau dapat diusahakan suplesi air. Pada pabrik Gula Bunga Mayang (Ketapang, lampung Utara) meskipun jumlah curah hujan tahunan relatif cukup, menurut Schmidt dan Ferguson (1951) masuk kedalam tipe hujan A, namun karena agihannya tidak sesuai dengan masa pertumbuhan tanaman, berakibat pertumbuhan tanaman terhambat. Mendasarkan pada perhitungan iklim di PG Bunga Mayang, Edy Purnomo (1984) mengemukakan bahwa tanaman tebu di wilayah tersebut yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan, diduga akan mengalami kekurangan air pada bulan Mei sampai bulan November. Untuk tebu masa tanam bulan 1 sampai dengan 8 akan mengalami kekurangan air untuk pertumbuhannya sampai umur 7 bulan. Tanaman yang paling menderita kekeringan terutama yang ditanam pada bulan Februari, Maret yaitu tanaman tebu bibit KBD (Kebun Bibit Datar) dan yang ditanam bulan April dan Mei berupa tanaman tebu bibit KBI (Kebun Bibit Induk). Kedua kebun bibit ini diperkirakan mengalami kekurangan air sejumlah 819 mm (defisit) yang sebenarnya dapat dipenuhi dengan memanfaatkan curah hujan terbuang sebesar 1172 mm (surplus) per tahun). Untuk wilayah dengan ikIim yang lebihkering lagi pengusahaan perkebunan tebumemerlukan pengairan untuk pengelolaantanaman tebunya sampai melewati fasepertumbuhan vegetatif. Setelah lewat fasepertumbuhan fase pertumbuhan vegetatif,tanaman tebu justru mernerlukan masa 2 – 4bulan kering, curah hujan bulanan kurang dari100 mm, untuk proses pematangan dan pemasakanbatang tebu. Curah hujan yangmelampaui evapotranspirasi akan mengakibatkantertundanya kematangan dan terhambatnyakemasakan serta kadar gula (rendemen) rendah. Penulis : AgusSutarman,PenyuluhPertanianPusat.Email :agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.Sumber Gambar : www.qrbiz.com