Loading...

KONDISI TIPE IKLIM DAN SUMBER AIR

KONDISI  TIPE  IKLIM  DAN  SUMBER  AIR
Tipe Iklim dan Sumber Air : Curah hujan antara 2.000 - 2.500 mm per tahun cukup untuk menjamin diperolehnya hasil yang tinggi asalkan agihannya cukup seimbang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan tanaman tebu. Karena agihan hujan tidak selalu optimal, dan adanya faktor iain yang membatasi pertumbuhan tanaman tebu, jumlah curah hujan tahunan saja tidak cukup untuk menentukan kriteria wilayah yang berkemungkinan untuk dikembangkan menjadi perkebunan tebu. Peta agroklimatologi yang disusun oleh Oldeman tahun 1977-1980 dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan daerah-daerah yang berpotensi untuk pengembangan perkebunan tebu di Indonesia. Berdasarkan peta agroklimatologi Oldeman, dengan pembagian tipe iklim maka wilayah yang bertipe iklim B2, C2, D2, dan Ez merupakan daerah yang memiliki persyaratan yang sesuai untuk pengelolaan budidaya tanaman tebu. Wilayah tersebut mempunyai bulan-bulan basah 3-4 bulan hingga 7-9 bulan, dengan bulan-bulan kering 2-3 bulan yang memberikan cukup peluang untuk tebang dan angkut serta pengolahan tanah dan tanam hampir tanpa hambatan.Daerah dengan tipe iklim B1, C1, D1 dan E1 merupakan daerah yang berbulan kering mendekati dua bulan, masih dapat dikembangkan untuk perkebunan tebu, bilamana tanahnya bertekstur ringan dan tanpa hambatan drainase penampang. Sebaliknya dengan daerah yang berbulan kering lebih dan empat bulan (tipe iklim D3, E3, dan E4), pengelolaan tanaman tebu akan memerlukan bantuan air irigasi, atau lapisan tanah bawah harus mengandung cukup air yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman tebu. Jika koefisien transpirasi tanaman lebu sebesar 350, berarti untuk menghasilkan I ton bahan kering tebu diperlukan air sebanyak 350 m3. Dengan pengiraan Kadar air bahan tebu segar sarna dengan 70 persen, dan produksibahan tebu segar 125 ton per hektar, maka jumlah perhitungan air yang akan masuk melalui tanamanmenjadi:125 ton tebu segar=jumlah air=125 x (100-70)/100 =jumlah air=13.125 m^3 Berdasarkan pada kondisi tanah, topografi (fisiografi) dan sebagainya, maka perlu diperhitungkan efisiensi jumlah air tahunan hanya berkisar antara 45% - 65%. Dengan demikian jumlah air yang diperlukan praktis berkisar antara 20.000 m3 hingga 30.000 m3per hektar, atau setara dengan jumlah curah hujan tahunan 2.000 mm hingga 3.000 mm, untuk memperoleh hasil tebu yang memuaskan. Dalam hubungannya dengan hal ini agihan curah hujan atau frekwensi irigasi mempunyai peranan yang penting dalam budidaya tanaman tebu. Sumber air utama pada budidaya tebu di lahan kering adalah curah hujan, terutama untuk wilayah dengan bulan-bulan kering yang kurang dari empat bulan (tipe iklim B2,C2, D2, dan E2 menurut Oldeman). Pada daerah-daerah dengan bulan-bulan kering lebih dari empat, perlu sumber air lain untuk pembibitan atau bahkan guna membantu pertumbuhan tebu giling agar mencapai perkembangan yang normal. Sumber air lain tersebut dapat berupa mata air, air sungai, air waduk atau lebung, air di saluran buangan, air rawa-rawa atau lebak, dan air tanah (groundwater). Pada wilayah yang bertipe iklim sangatkering (tipe iklim C3, D3, D4, E3, dan E4), diperlukan sekali pengetahuan tentang "peta" air tanah yang dapat digunakan untuk sumber air. Tanpa adanya sumber air tanah, budidaya tebu di daerah tersebut muskil dikembangkan. Penulis : AgusSutarman,PenyuluhPertanianPusat.Email :agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.Sumber Gambar : www.qrbiz.com